|
Selasa, 20 Oktober 2009
| 04:14 WIB
Ambon, Kompas - Penolakan atas pemberian gelar adat oleh para
raja Kei kepada seorang pengusaha perikanan di Tual, Maluku Tenggara, meluas
hingga ke Ambon (Maluku), Sorong (Papua Barat), Makassar (Sulawesi Selatan),
Yogyakarta, dan Jakarta, Senin (19/10). Para raja Kei diminta segera mencabut
gelar adat Dir U Ham Wang yang posisinya setara dengan raja para
raja.
Erwin Jamlean dari Forum Komunikasi Anak Adat Kei menjelaskan,
kelompok mahasiswa asal Kei di Sorong, Makassar, Ambon, Tual, Yogyakarta, dan
Jakarta saat ini menggalang kekuatan untuk mendukung gerakan sosial yang
dibangun sejumlah mahasiswa di Tualbersama warga. Targetnya, pemberian gelar
adat Dir U Ham Wang yang telah diberikan kepada salah seorang pengusaha di Tual
dicabut. Selain itu, mereka meminta 15 kesepakatan para raja dengan PT Maritim
Timur Jaya dibatalkan.
Dalam bahasa setempat, gelar adat Dir U Ham Wang
artinya berdiri di depan membagikan hak atau penguasa pemberi tugas adat kepada
masyarakat adat.
Menodai
Unjuk rasa mahasiswa di Ambon kemarin
dilangsungkan di Kantor Gubernur Maluku. Kepada Ros Far Far, Sekretaris Daerah
Provinsi Maluku yang berasal dari Kei, pendemo meminta agar Ros Far Far
mengimbau para raja untuk mencabut gelar adat terkait segera. Sebab, hal itu
menodai aturan adat. Kami menolak keras pengukuhan gelar tersebut. Kita telah
digadaikan, ujar Muhammad Hanubun, mahasiswa asal Kei di
Ambon.
Menanggapi imbauan tersebut, Ros Far Far mengatakan, sebagai anak
adat Kei, dia juga menyesalkan pemberian gelar adat tersebut. Para raja harus
menjelaskan kepada masyarakat Kei apa pertimbangan pemberian gelar itu,
ujarnya.
Taher Hanubun, anggota DPRD Maluku yang berasal dari Kei,
berpendapat senada. Dalam adat Kei, gelar Dir U Ham Wang sangat tinggi karena
setara dengan raja para raja. Kekuatan gelar itu semakin sahih karena dikukuhkan
22 raja atau pemimpin adat, katanya menjelaskan.
Hingga kemarin petang,
di Tual masih terjadi pemblokiran jembatan Watdek. Namun, menurut Kepala
Kepolisian Daerah Maluku Brigadir Jenderal (Pol) Totoy Herawan Indra, situasi di
Tual masih bisa dikendalikan.
Penutupan jembatan Watdek menyebabkan
pasokan bahan bakar ke Bandar Udara Dumatubun dan PLN di Langgur, Maluku
Tenggara, terhenti. Aktivitas bandara terganggu hingga ada maskapai yang
menghentikan operasionalnya. (ANG)
Sumber: http://cetak.kompas.com/read/
xml/2009/10/20/0414593/
penolakan.gelar.adat.kei.
meluas
|