Oleh Indah Pratiwi

Tumbuhan ilalang yang menyemak dibabat habis oleh Masyarakat Adat Osing di Dusun Andong, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Kegiatan bersih desa ini disebut Tumpeng Songo, ritual adat yang dilakukan setahun sekali pada bulan Dzulhijah.

Ritual ini bertujuan membersihkan desa agar terhindar dari bahaya, penyakit, juga hal buruk lainnya. Kemudian, menegaskan bahwa mereka adalah sekelompok Masyarakat Adat yang memiliki identitas budaya, sekaligus sebagai nilai yang masih dilakukan secara turun temurun hingga saat ini.

Buyut Unam, Buyut Enggar, Buyut Nut, dan Buyut Jengkluk merupakan orang yang pertama kali membuka kampung dengan cara membabat tumbuhan Andong sekitar akhir abad ke-19. Konon dahulunya, perkampungan ini merupakan tempat yang angker, siapa yang mendekati tempat itu kabarnya akan mati. Namun seiring waktu, perkampungan dinyatakan aman bagi siapapun yang datang. Masyarakat menandai peristiwa itu sebagai selametan ”Tumpeng Songo” di Petaunan.

Tumpeng Songo merupakan bersih desa atau bersih kampung, agar terhindar dari bahaya, penyakit, juga hal buruk lainnya. Intinya memohon mendapatkan keselamatan dan persatuan di kampung ini,” kata Antri, Ketua Adat di dusun Andong pada minggu lalu.

Antri menjelaskan Tumpeng Songo merupakan ritual bersih desa yang dilakukan setahun sekali pada bulan Dzulhijah. Tumpeng Songo memiliki makna babagan winoro 9 atau babagan howo 9 atau lubang 9.

Antri menerangkan angka 9 melambangkan jumlah lubang didalam tubuh manusia yang harus dijaga hawa nafsunya. Ada sembilan ancak atau tumpeng.

Ancak adalah talam yang terbuat dari anyaman bambu dan pelepah pisan yang dirangkai menjadi sebuah nampan. Isi ancak antara lain tiga buah tumpeng sego liwet (nasi gurih), satu tumpeng pecel pithik, lima tumpeng nasi putih, jajan werno sewu (jajan dengan 1.000 warna) dan pethetheng ayam.

Selain tumpeng, juga ada tiga buah nampan dengan isian bunga dan kinangan atau kapur sirih, sandingan berupa dua cangkir kopi, satu kendi.

Antri mengatakan seluruh proses memasak makanan untuk ritual dilakukan oleh Perempuan yang bersih dan tidak sedang menstruasi, ketika memasak juga tidak boleh mencicipi masakan.

Setelah makanan selesai dimasak, sembilan ancak tadi kemudian disunggi atau ditaruh diatas kepala oleh para perempuan. Kemudian, berjalan dari rumah pemangku adat menuju makam leluhur.

Sejumlah perempuan adat sedang membawa makanan diatas kepalanya dalam arak-arakan Tumpeng Songo. Dokumentasi AMAN

”Dahulu perempuan yang menyunggi ancak merupakan mojo putri atau gadis yang belum haid. Namun karena ancak yang di sunggi itu berat, maka sekarang yang menyunggi perempuan yang tidak sedang menstruasi pada saat itu,” terangnya.

Setelah selesai dari makam leluhur memanjatkan doa, ancak dibawa kembali ke rumah pemangku adat. Saat iring-iringan yang membawa ancak telah tiba di rumah pemangku adat, ancak-ancak tersebut diletakkan sejajar di perempatan jalan. Kemudian, masyarakat beramai-ramai memakan ancak di pingir jalan bersama dengan orang yang turut hadir dan mengikuti ritual adat tersebut.

Para pemuda kemudian bersiap untuk berebut pethetheng  yang diyakini Masyarakat Adat sebagai satu keberkahan.

Suwanah, salah seorang perempuan adat dari Dusun Andong mengaku senang bisa ikut serta dalam kegiatan ritual ini.

”Setiap tahunnya, jika saya tidak berhalangan apa-apa, saya ikut menyunggi ancak,” ujarnya.

Suwanah berharap ritual ini bisa terus berlangsung di kemudian hari. Sebab, baginya ritual adat Tumpeng Songo symbol keteguhan Masyarakat Adat Osing dalam menjalankan tradisi yang sudah ada sejak dahulu.

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Banyuwangi, Jawa Timur

Writer : Indah Pratiwi | Osing, Banyuwangi, Jawa Timur
Tag : Ritual “Bersih Desa” Dusun Andong, Budaya Osing