Ratusan Peserta Jamnas V BPAN Menyatu Dalam Ritual Tetulaq Desa
30 Juni 2026 Berita Pauzan AzimaOleh Pauzan Azima
Ratusan pemuda adat dari berbagai wilayah nusantara bertemu di Desa Perigi, Kecamatan Suela, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat untuk menghadiri Jambore Nasional (Jamnas) V Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) yang dibuka pada Senin, 29 Juni 2026.
Dalam momentum ini, ritual tahunan Tetulaq Desa yang biasanya digelar tertutup di Desa Perigi, Kecamatan Suela, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, untuk pertama kalinya dibuka dan diikuti secara kolaboratif oleh peserta Jamnas V BPAN. Perpaduan sakralitas tradisi Sasak dan kebersamaan lintas suku ini melahirkan ruang harmoni budaya yang begitu kental.
Tetulaq Desa merupakan ritual adat esensial Masyarakat Adat Sasak di Perigi yang diselenggarakan setahun sekali setiap bulan Muharram atau menyambut Tahun Baru Islam. Ritual spiritual ini dipandu oleh para Tetoaq (tetua adat) dan disempurnakan dengan untaian doa oleh para kiai menjelang waktu magrib di jalan raya setelah dipasang 10 Bombong Sesaweq Desa di Jebak Desa (wilayah yang secara historis merupakan pintu masuk utama kampung).
Dalam pelaksanaannya, ritual ini melibatkan sejumlah media tradisi yang sarat makna simbolis. Wakil Tetoaq Perigi Mamiq Suharmi menjelaskan media utama yang digunakan meliputi sepuluh buah Bombong Sesawek Desa yang berisi ketupat yang diisi beras sangrai.
Dari keterangannya, Bombong ini diletakkan berpasangan di lima titik krusial yaitu empat penjuru batas wilayah desa dan satu di pusat desa.
Selain itu, terdapat pula rondon (wadah daun pisang berbentuk mangkuk) berisi lekes—perpaduan beras sangrai, daun sirih, dan kapur sirih yang diikat bersama—serta sajian bubur merah dan bubur putih yang dilengkapi ayam sembelihan sebagai pesajiq.
Sebagai pelindung magis, masyarakat menggunakan sesembeq yang nanti, saat doa-doa usai, dioleskan pada kening serta benang gelang sebagai penangkal bala.
Ketua Tetoaq Adat Perigi Bapak Mung menjelaskan sesembeq dioles di kening sebagai pelindung diri. Secara magis, katanya, makhluk halus yang melihat manusia memakai sesembeq akan silau melihat cahaya di tanda itu, sehingga tidak berani mengganggu. Sementara untuk gelang penangkal bala, laki-laki memakainya di tangan kanan dan perempuan di tangan kiri.
”Saat ini kami menggunakan gelang kuning sebagai penangkal, sementara gelang hitam baru digunakan jika penyakit terlanjur masuk desa," terangnya.
Menuai Kesan Baik
Suasana sakral seketika melebur dalam kegembiraan saat seluruh peserta Jamnas V BPAN dari berbagai suku di nusantara dilibatkan langsung dalam prosesi Ngeson Sampaq. Prosesi ini merupakan parade mengarak dulang—wadah makanan khas Sasak dengan penutup saji berwarna merah yang ikonik—di sepanjang jalan utama desa. Kehadiran pemuda adat dari Kalimantan, Papua, hingga Sumatra yang menjunjung dulang di atas kepala menciptakan pemandangan kultural yang luar biasa unik.
Setelah parade selesai, para peserta diarahkan menuju prosesi puncak berupa doa bersama yang diakhiri dengan pemberian sembeq langsung oleh Ketua Tetoaq ke kening para peserta luar daerah sebagai simbol perlindungan bersama. Kegembiraan mencapai puncaknya saat Kepala Desa Perigi meminta seluruh peserta membuka dulang untuk memulai tradisi begibung, yakni makan bersama secara ramai-ramai.
"Tradisi begibung ini merupakan bagian dari syarat utama dalam ritual kita," seru Darmawan, Kepala Desa Perigi.
Para peserta Jamnas BPAN dari luar daerah menyambut baik keterlibatan mereka dalam ritual ini. Penyambutan dan keramahtamahan warga memberi kesan yang sangat baik bagi peserta Jamnas V BPAN.
Wahyu Ivani, peserta Jamnas V BPAN dari Kalimantan Tengah mengungkapkan kekagumannya atas kehangatan dan kekompakan Masyarakat Adat di Lombok Timur.
"Ini pertama kali kami ke sini dan mengikuti Tetulaq Desa, kebetulan di tempat kami ada kampung Jawa, jadi suasananya mirip,” kata Wahyu Ivani.
Wahyu memuji kerukunan, dan keharmonisan warga di Lombok Timur. Mereka diperlakukan selayaknya seperti saudara yang berada di rumah sendiri.
”Warga di sini sangat ramah, ini sangat keren," ungkapnya.

Seorang tetua adat sedang melakukan prosesi sesembeq kepada salah seorang peserta Jamnas BPAN. Dokumentasi AMAN
Jamnas V BPAN: Tidak Sekadar Ajang Kumpul Pemuda Adat
Terpilihnya komunitas Adat Perigi dan komunitas Adat Limbungan di Kecamatan Suela sebagai tuan rumah Jambore Nasional V BPAN membawa dampak sosiokultural yang signifikan.
Kepala Desa Perigi Darmawan menyatakan Jamnas V BPAN ini merupakan momentum luar biasa, sekaligus pemantik kesadaran bagi generasi muda lokal yang mulai tergerus arus digitalisasi.
Menurut Darmawan, di tengah gempuran media sosial di pelosok desa yang kerap membuat generasi muda melupakan kearifan lokal, Jamnas V BPAN hadir mengembalikan ingatan kolektif akan sejarah dan asal-usul leluhur. Dinamika acara juga semakin hidup dengan dihadirkannya berbagai atraksi seni pertunjukan tradisional seperti kesenian Peresean, Gendang Belek, hingga pentas musik modern.
Darmawan berharap pelaksanaan Jamnas V BPAN di tanah Lombok Timur ini tidak sekadar menjadi ajang berkumpulnya pemuda adat, melainkan menjelma sebagai ruang inklusif tempat bertemunya tradisi, konservasi alam, dan komitmen menjaga identitas bangsa di tengah zaman yang terus bergerak.
***
Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Nusa Tenggara Barat