AMAN Jayapura Bersama Akademisi Rumuskan Aksi Penyelamatan Ekosistem Danau Sentani
02 Juli 2026 Berita Kromsian ObedOleh: Kromsian Obed
Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Jayapura bersama para akademisi dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Cenderawasih merumuskan aksi bersama penyelamatan ekosistem Danau Sentani di Papua yang kondisinya semakin memprihatinkan belakangan ini.
Langkah ini merupakan kolaborasi strategis yang dirancang bersama dalam Focus Group Discussion (FGD) pada Kamis, 25 Juni 2026. FGD yang turut dihadiri pemangku kepentingan dari unsur pemerintah hingga praktisi lingkungan ini dinilai strategis mengingat saat ini telah terjadi perubahan ekologis yang sangat signifikan dan mengancam keberlangsungan Danau Sentani.
Ketua Pelaksana Harian AMAN Daerah Jayapura Benhur Yudha Wally menyatakan pihaknya siap menyuplai data pemetaan wilayah adat yang komprehensif untuk menyokong program konservasi penyelamatan Danau Sentani. Menurutnya, akurasi data di lapangan sangat fundamental dari setiap kebijakan yang akan diambil, termasuk pelestarian lingkungan.
Dikatakannya, AMAN mendukung penuh upaya akademisi dan pemerintah yang mau melestarikan Danau Sentani sebagai salah satu aset kekayaan alam Masyarakat Adat Papua.
”Kami siap mendukung penyelamatan Danau Sentani,” katanya sembari menegaskan kehadiran AMAN di acara ini sebagai bentuk dukungan nyata terhadap pelestarian ekosistem Danau Sentani.
Benhur menerangkan AMAN Jayapura telah melakukan pemetaan berkala untuk mengidentifikasi kekayaan alam serta area-area sensitif yang dikelola oleh Masyarakat Adat di sekitar Danau Sentani.
Ia memastikan melalui pemetaan ini kekayaan alam yang dimiliki Masyarakat Adat terakomodir dalam satu data terpadu.
”Teman-teman akademisi nantinya bisa melakukan konservasi berdasarkan data yang kami berikan, baik itu mengenai kondisi Danau Sentani, perlindungan tempat sakral hingga penataan kampung-kampung yang direncanakan menjadi kampung adat,” terangnya.
Benhur menegaskan semua harus bergerak berdasarkan data. Sebab, tanpa data mustahil dapat terlaksana dengan baik.

Ketua AMAN Jayapura (tengah) photo bersama para akademisi usai diskusi penyelamatan ekosistem Danau Sentani. Dokumentasi AMAN
Siap Diimplementasikan
Dekan FMIPA Universitas Cenderawasih Henderite L. Ohee menyatakan pihaknya berkomitmen agar rumusan aksi bersama yang dihasilkan dari diskusi ini tidak sekadar menjadi dokumen di atas kertas, melainkan menjadi panduan aksi konservasi yang nyata.
"Hari ini kita mendiskusikan dan merumuskan langkah konservasi serta penyelamatan ekosistem Danau Sentani. Tujuannya untuk menjaga Danau Sentani agar lestari di masa yang akan datang," ujar Henderite Ohee saat diwawancarai usai kegiatan FGD pada Kamis, 25 Juni 2026.
Henderite menjelaskan forum diskusi ini merupakan rangkaian panjang dari upaya yang telah diinisiasi FMIPA Universitas Cenderawasih sejak sebulan lalu. Dikatakan, mereka telah melakukan proses pengumpulan data dan melibatkan para Ondofolo atau pemimpin adat sejak Mei 2026. Langkah ini kemudian dilanjutkan dengan menggelar webinar nasional, hingga puncaknya pelaksanaan FGD bersama para pakar ini.
"Tujuan besarnya mendapatkan saran, pendapat, dan informasi dari berbagai pihak mengenai aksi konservasi nyata yang bisa kita lakukan,” terangnya.
Henderite menambahkan melalui rangkaian acara ini, mereka telah berhasil menghimpun banyak usulan program kerja pelestarian ekosistem Danau Sentani yang siap diimplementasikan dalam tiga kurun waktu: jangka pendek, menengah, dan jangka panjang.
”Rekomendasi aksi yang telah diklasifikasikan ke dalam target jangka pendek, menengah, dan panjang ini diharapkan dapat segera diintegrasikan ke dalam kebijakan daerah guna memulihkan serta menjaga kelestarian Danau Sentani secara berkelanjutan,” tutupnya.
***
Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Jayapura, Papua