Oleh Yuni Nazira

Kue pais menjadi simbol ketangguhan Masyarakat Adat Suku Tidung di Kalimantan Utara saat menghadapi masa-masa sulit.

Kue yang terbuat dari singkong, gula merah dan kelapa ini menyimpan cerita panjang tentang perjuangan, kebersamaan, dan kecintaan Masyarakat Adat Tidung terhadap warisan leluhur.

Berdasarkan cerita yang terdengar dari para orang tua, kue sederhana ini menjadi makanan pengganti nasi ketika masyarakat mengalami masa-masa sulit di zaman penjajahan.

"Dulu beras sangat sulit didapat. Karena itu, masyarakat memanfaatkan singkong yang mudah ditanam dan mengenyangkan. Dari situlah, kue pais menjadi makanan yang sangat penting," kata Amiliah, tokoh Masyarakat Adat Suku Tidung saat diwawancarai di kediamannya belum lama ini.

Dikatakannya, kue pais sudah dikenal Masyarakat Adat Suku Tidung sejak zaman dahulu. Kue yang diwariskan turun-temurun ini sangat mudah untuk membuatnya, lagian bahan kuenya juga mudah diperoleh karena terbuat dari singkong, gula merah, dan kelapa.

Amiliah mengatakan dalam bahasa Tidung, kata ”pais” berarti pisau peraut rotan. Nama tersebut melekat pada kue tradisional yang hingga kini masih dibuat dan dinikmati oleh masyarakat.

Amiliah menerangkan untuk menghasilkan pais yang enak, Masyarakat Adat memilih jenis singkong lokal yang dikenal dengan nama Sabai Seteria. Singkong ini memiliki daging yang lembut sehingga menghasilkan tekstur kue yang kenyal dan lembut setelah dikukus.

Amiliah menjelaskan cara membuatnya : singkong diparut, diperas, lalu dicampur dengan gula merah dan parutan kelapa. Sebagian orang menambahkan daun pandan agar aromanya lebih harum, serta pisang kepok matang untuk menambah cita rasa. Setelah itu adonan dibungkus menggunakan daun pisang dan dikukus hingga matang.

Disebutnya, aroma daun pisang yang khas membuat pais memiliki cita rasa yang berbeda dibandingkan makanan yang dibungkus bahan modern.

"Pada masa lalu, Masyarakat Adat membuat alat pemarut sendiri dari kaleng bekas agar hasil parutan singkong lebih halus dan cita rasanya lebih enak," ujarnya.

Amiliah mengatakan bagi Masyarakat Adat Tidung, pais bukan hanya makanan, tetapi juga bagian dari kehidupan sehari-hari. Kue ini selalu hadir dalam berbagai kegiatan, seperti malam pembacaan surah Yasin di rumah duka, berbuka puasa, sarapan pagi, hingga acara berkumpul bersama keluarga.

Kue pais setelah dimasak siap disantap. Dokumentasi AMAN

Harus Terus Diajarkan kepada Anak Cucu

Namun seiring perkembangan zaman, Amiliah mengaku khawatir jika suatu saat nanti generasi muda tidak lagi mengenal cara membuat pais. Menurutnya, warisan kuliner ini hanya akan tetap hidup jika terus diajarkan kepada anak-anak dan cucu.

"Kami berharap anak-anak muda mau belajar membuat pais agar warisan leluhur ini tidak hilang ditelan zaman," katanya penuh harap.

Amiliah mengusulkan agar pais lebih sering diperkenalkan melalui festival budaya, lomba memasak, promosi di media sosial, hingga buku resep digital. Menurutnya, dengan cara itu, generasi muda dapat mengenal sekaligus bangga terhadap kuliner tradisional daerahnya.

”Di balik rasanya yang manis dan gurih, kue pais menyimpan kisah tentang ketangguhan Masyarakat Adat Tidung menghadapi masa-masa sulit. Ini harus dipertahankan,” tandasnya.

Hingga hari ini, setiap bungkus daun pisang yang berisi pais menjadi pengingat bahwa warisan budaya tidak hanya dijaga melalui cerita, tetapi juga melalui tradisi yang terus dipraktikkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. (apg)

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Kalimantan Utara

Writer : Yuni Nazira | Kalimantan Utara
Tag : Kalimantan Utara Kue Pais Simbol Ketangguhan Suku Tidung