Kebakaran Melanda Kasepuhan Sinarresmi di Sukabumi
08 September 2026 Berita Dika SetiawanOleh Dika Setiawan
Satu rumah hangus dan 3 rumah lainnya rusak berat akibat kebakaran yang melanda komunitas Masyarakat Adat Kasepuhan Sinarresmi di Desa Sirnaresmi, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat pada Senin, 7 September 2026.
Kebakaran yang terjadi sekira pukul 08.30 Wib ini diduga akibat adanya korsleting listrik dari salah satu rumah warga. Percikan api yang berasal dari korsleting Listrik tersebut dengan cepat merembet ke rumah lainnya karena pada saat kejadian cuacanya sedang panas sehingga dengan mudah api menjalar ke sekitarnya.
Bangbang Sugentry, salah seorang Masyarakat Adat di Kasepuhan Sinarresmi menyatakan tidak ada korban jiwa dan terluka dalam kebakaran ini. Namun, empat rumah terbakar, satu diantaranya hangus.
Bangbang yang juga pengurus PD AMAN Banten Kidul menerangkan rumah yang terbakar dekat dengan tempat tinggalnya. Bangbang menyatakan berdasarkan keterangan dari sejumlah saksi mata, sumber api yang melahap rumah Masyarakat Adat tersebut diduga kuat berasal dari korsleting listrik yang terjadi di salah satu rumah warga.
"Kebakarannya sekitar 08.30 Wib, sumber apinya diduga berawal dari korsleting listrik, karena di rumah yang pertama adanya kobaran api sedang tidak menyalakan api tungku maupun kompor. Percikan api dari korsleting listrik langsung menyambar struktur bangunan yang sangat kering, membuat api membesar dengan sangat cepat sebelum sempat dipadamkan secara mandiri oleh warga,” ungkap Bangbang saat ditemui di lokasi kebakaran, Senin (7/9/2026).
Bangbang menambahkan cuaca panas serta angin kencang memicu cepatnya api melahap rumah Masyarakat Adat. Disebutkan, material bangunan rumah Masyarakat Adat yang terbakar terbuat dari bahan kayu, bambu, dan beratap ijuk sehingga dengan mudah terbakar. Apinya menyebar dengan lebih cepat dan sulit dikendalikan.
”Ketika api pertama muncul, hembusan angin kencang sehingga kobaran apinya merembet dengan cepat. Dalam hitungan menit, ada empat rumah yang terbakar,” terangnya.
Bangbang mengakui upaya pemadaman yang dilakukan Masyarakat Adat secara mandiri terkendala air. Musim kemarau yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir ini menyebabkan krisis air di kampungnya.
Bangbang menjelaskan krisis iklim berperan besar sebagai threat multiplier dalam peristiwa kebakaran ini. Gelombang panas ekstrem dan musim kemarau yang jauh lebih kering dan panas serta lebih panjang dari tahun-tahun sebelumnya telah menurunkan tingkat kelembapan udara secara drastis. Kondisi ini membuat material bangunan, khususnya seperti kayu, bambu, dan atap injuk, menjadi sangat kering dan rapuh layaknya bahan bakar yang siap menyala.

Sejumlah anak menyaksikan sisa-sisa puing rumah yang hangus terbakar di Kasepuhan Sinarresmi, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat pada Senin (7/9). Dokumentasi AMAN
Mitigasi Bencana Harus Ditingkatkan
Bangbang menyebut peristiwa kebakaran yang terjadi di Kasepuhan Sinarresmi telah menambah daftar panjang kebakaran yang di Kasepuhan. Sebelumnya, kebakaran juga pernah melanda Kasepuhan Ciptamulya.
"Sudah dua kali terjadi kebakaran di Kasepuhan, ini artinya mitigasi bencana harus lebih di tingkatkan. Apalagi cuaca seperti saat ini, Masyarakat Adat harus lebih waspada dan memperhatikan lingkungan sekitar,” tutupnya.
Dua bulan lalu, 51 unit rumah Masyarakat Adat di Kasepuhan Ciptamulya, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat terbakar dilalap api pada Sabtu, 25 Juli 2026.
Kebakaran yang terjadi sekitar pukul 14.00 Wib tersebut juga diduga akibat korsleting listrik di area MCK umum yang terletak di pinggir pemukiman dekat Imah Gede (rumah utama) Kasepuhan Ciptamulya.
Api yang berasal dari salah satu bangunan dekat Imah Gede tersebut dengan cepat menyambar rumah-rumah adat lainnya karena angin kencang dan kemarau extrem serta material bangunan rumah yang terbuat dari berbahan bambu, kayu dan atap ijuk.
Selain menghanguskan rumah, kebakaran juga melenyapkan puluhan lumbung padi tempat penyimpanan cadangan pangan Masyarakat Adat Kasepuhan Ciptamulya. Namun, kebakaran ini tidak memakan korban jiwa. (apg)
***
Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Banten Kidul