Oleh Thata Debora Agnessia

Pemukiman Masyarakat Adat di komunitas Dayak Arut, Desa Panahan, Kecamatan Arut Utara, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah tiba-tiba menjelma seperti “kota mati”. Rumah-rumah terkunci dari pagi hingga malam. Sinar matahari lenyap tak berjejak ditelan pekat.

Masyarakat Adat Dayak Arut lebih memilih berdiam diri di dalam rumah. Mereka berupaya menyelamatkan paru-paru ditengah kepungan kabut asap. Tak ada aktivitas warga, yang terlihat hanya kesunyian berselimut kabut asap tebal.

Di tengah kesunyian itu, langkah kaki Ropmene memecah keheningan. Jarum jam baru menunjuk angka 7 pagi, tetapi perempuan adat berusia 45 tahun itu sudah harus bergulat dengan semak kebun yang tertutup jerebu. Sebagai ibu rumah tangga, pundaknya mendadak ganda, ia harus menjadi tulang punggung keluarga sejak sang suami sakit dan tak lagi bisa bekerja.

Ropmene bekerja dengan mata yang terus perih berlapis air mata akibat kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Setiap tarikan nafasnya terasa berat karena ia terpaksa menghirup asap pekat ke dalam parunya. Namun, rasa sesak itu harus ia abaikan demi keluarga. Bagi Ropmene, racun udara ini sudah menjadi pemandangan sehari-hari yang kian mengerikan.

“Makin hari terasa semakin parah, banyak orang di kampung yang menutup rumahnya rapat dan memilih untuk tidak keluar,” ujarnya dengan nada lirih pada Jum’at, 25 September 2026.

Bagi Ropmene dan Masyarakat Adat di Panahan lainnya, kabut asap yang mencekik ini datang bersamaan dengan “kutukan” kemarau panjang. “Di Panahan sama sekali tidak turun hujan,” lanjutnya.

Ia menjelaskan lebih lanjut, kemarau ini telah mencekik desa selama hampir tiga bulan. Sumur-sumur memang belum sepenuhnya kering, tetapi persediaan air terus menipis drastis. Air bersih dari perbukitan yang dahulu lancar mengalir langsung ke dapur, kini tak lagi mampu mencukupi kebutuhan seisi kampung.

“Kami harus mengambil air di titik tertentu yang lebih dekat dengan bukit,” keluh Ropmene.

Alhasil, sisa air sumur yang berharga harus diprioritaskan hanya untuk melepas dahaga. Sementara, untuk urusan mandi dan mencuci, sebagian besar warga terpaksa beralih membasuh diri di sungai Arut yang juga menyusut.

Perubahan ini mungkin terdengar sederhana bagi orang luar. Namun, bagi para ibu rumah tangga yang memikul beban domestik harian, perpindahan sumber air ini berarti lonjakan beban kerja, kantong yang terkuras untuk bahan bakar kendaraan, dan perombakan total rutinitas hidup mereka.

Hidup Menjadi Mahal

Sembari rutinitas rumah tangga terganggu, kemarau panjang juga mengancam sumber penghidupan utama warga desa. Kepala Desa Penahan Supiani menerangkan mata pencaharian masyarakat Panahan sebagian berasal dari berladang. Mereka berladang padi dengan sistem berpindah, luasnya diperkirakan mencapai sekitar 150 hektare.

Namun, belakangan ini Masyarakat Adat Dayak Arut tidak berani melakukan pembakaran lahan untuk berladang akibat karhutla yang sedang mengintai di berbagai wilayah di Kalimantan.

Desa Panahan sejatinya tidak tinggal diam meratapi nasib. Sekitar empat tahun sebelum krisis ini memuncak, kolektif desa telah membentuk Masyarakat Peduli Api (MPA). Tim komunal ini seluruhnya berasal dari masyarakat desa yang membagi diri ke dalam berbagai fungsi krusial: tim survei, tim pencegahan, hingga tim penanganan.

“Dari Masyarakat Peduli Api itu bermacam-macam timnya. Ada yang tim survei, tim pencegahan, tim penanganan. Jadi semua tim itu berkolaborasi, mengedukasi dan memantau keadaan karhutla,” urai Supiani.

Disebutnya, pembentukan MPA adalah bentuk respons nyata terhadap trauma pengalaman kebakaran pada tahun-tahun sebelumnya. Desa pun berupaya menyediakan fasilitas pemadam kebakaran sesuai kemampuan mandiri yang dimiliki, ditopang oleh sedikit dukungan fasilitas dan pelatihan pemadaman dari pihak luar terdekat.

Namun, benteng pertahanan ini tetap terbatas di hadapan skala bencana yang masif. Kepala desa sendiri mengakui secara jujur bahwa fasilitas pemadam yang tersedia hanyalah fasilitas  “seadanya”.

Pahitnya, keterbatasan ini kian terasa menusuk ketika kabut asap mulai mengepung ruang domestik warga. Di lini kesehatan, bantuan nyata untuk warga tidak diterima secara langsung. Ropmene mengungkapkan kenyataan pahit bahwa dirinya sama sekali tidak mendapatkan masker medis maupun obat-obatan gratis untuk kebutuhan pribadinya.

“Saya tidak pernah terima bantuan masker dan obat-obatan,” ketusnya pilu.

Ia mengaku masker pernah dibagikan di sekolah untuk anak-anak dari Puskesmas Pembantu (Pustu). Dalam periode kabut asap, tubuh warga mulai tumbang diserang batuk dan pilek. Mereka terpaksa menggunakan fasilitas kesehatan seadanya seperti Pustu yang sayangnya, juga berdiri dengan fasilitas yang sangat terbatas.

Ironisnya, serangan penyakit yang menyiksa paru-paru masyarakat ini tidak dipicu oleh kebakaran di dalam desa mereka sendiri. Kepala desa menegaskan bahwa tidak ada titik api yang terjadi di dalam wilayah Panahan.

“Panahan tidak ada titik api, tapi rawan kebakaran,” jelas Kepala Desa. Ia menambahkan  dampak asap yang pekat justru berasal dari kebakaran di wilayah sekitar, termasuk kiriman dari desa tetangga seperti Lubuk Hiju dan kawasan Seruyan.

Kepulan asap masih membubung dari  pepohonan dan semak yang  terbakar di Bogam, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.

(Dok. Mardaheka)

Menunggu Bantuan Pemerintah  

Menghadapi situasi yang kian mengkhawatirkan, Supiani menjelaskan bahwa pemerintah desa akhirnya mengetuk pintu pemerintah dan perusahaan sawit yang beroperasi di sekitar wilayah adat. Permintaan mereka sangat sederhana yakni satu titik sumur bor termasuk bantuan lainnya seperti masker dan vitamin untuk tameng dari asap.

"Kami butuh masker dan obat-obatan. Kemarin kami mengajukan permohonan bantuan ke pemerintah, permintaan utama adalah sumur bor paling tidak satu titik saja," ungkapnya.

Satu titik sumur bor itu murni didasarkan pada kebutuhan yang paling mendasar demi menyambung hidup masyarakat, terutama untuk konsumsi dan mandi. Di tengah kemarau panjang yang kian kering, sumur bor ini menjadi penentu seberapa jauh warga harus berjalan kaki setiap hari hanya untuk mendapatkan seember air bersih.

Sayangnya, birokrasi tampaknya berjalan lebih lambat daripada laju kepulan asap. Pemerintah Desa Panahan mengaku telah melayangkan permohonan resmi ini ke tingkat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) hingga Pemerintah Provinsi (Pemprov). Namun hingga saat ini, jawaban yang dinanti tak kunjung datang.

"Kami telah mengajukan pada pemerintah Kabupaten dan Provinsi, namun belum ada jawaban hingga sekarang," ungkapnya.

Keputusasaan ini sebenarnya sempat coba diurai dengan meminta bantuan kepada pihak swasta atau perusahaan yang beroperasi di sekitar wilayah mereka. Namun, hasilnya setali tiga uang. Pihak swasta pun memilih bungkam.

"Dari swasta pun belum ada jawaban. Dari pemerintah pun belum ada jawaban," ujarnya lirih.

Kini, di tengah kemarau yang entah kapan berakhir, Masyarakat Adat di Desa Panahan hanya bisa bertahan. Di antara kepulan asap kiriman dan ketidakpastian bantuan, satu titik sumur bor bukan lagi sekadar fasilitas tambahan. Ia adalah talud penyelamat yang sedang dipertaruhkan. (apg)

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat dari Kalimantan Tengah

Writer : Thata Debora Agnessia | Kalimantan Tengah
Tag : Kalimantan Tengah Setetes Air Kepungan Api