Mama Aleta Baun Terpilih sebagai Ketua AMAN Tiga Batu Tungku : Tujuan Kita Memperjuangkan Hak-Hak Masyarakat Adat
13 Oktober 2026 Berita Lasron P. SinuratOleh Lasron P. Sinurat
Musyawarah Daerah ke III Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Tiga Batu Tungku di komunitas Masyarakat Adat Mollo, Kabupaten Timor Timur Selatan, Nusa Tenggara Timur menetapkan Mama Aleta Baun sebagai Ketua Pelaksana Harian AMAN Daerah Tiga Batu Tungku periode 2026-2031.
Musda yang diikuti 130 warga dari 7 komunitas Masyarakat Adat anggota AMAN Tiga Batu Tungku juga menetapkan Dina Ollin sebagai Ketua Dewan AMAN Daerah (DAMANDA), Yani Manu Tefbana sebagai Wakil Ketua dan Mikael Tefa sebagai anggota DAMANDA Tiga Batu Tungku.
Musda berlangsung selama dua hari pada 5-6 Oktober 2026 dibuka oleh Sekretaris Jenderal AMAN Rukka Sombolinggi disaksikan tamu undangan Asisten II Bupati Timor Timur Selatan Linda Fobia dan organisasi Masyarakat sipil.
Rukka berharap Musda AMAN di Timor Timur Selatan ini menghasilkan kepengurusan yang mampu secara sungguh-sungguh menjalankan mandat dan agenda organisasi demi mewujudkan Masyarakat Adat yang berdaulat, mandiri, dan bermartabat.
“Semoga Musda Tiga Batu Tungku mendapatkan restu dari leluhur agar pengurus yang terpilih bisa bekerja dengan baik. Tugas berat menanti, salah satunya usir perampas wilayah adat dan cabut pagar kehutanan di wilayah adat,” kata Rukka dalam sambutannya saat menghadiri Musda III AMAN Tiga Batu Tungku.
Rukka menjelaskan perjuangan Masyarakat Adat Mollo banyak menginspirasi perjuangan Masyarakat Adat di Nusantara. Disebutkan, perjuangan Masyarakat Adat Mollo yang telah mempertahankan tanah leluhur juga mengharumkan semangat perjuangan Masyarakat Adat di dunia.
Rukka mengatakan pembangunan ekstraktif yang didukung oleh negara dan investor di wilayah adat telah mengancam keberadaan dan keberlangsungan hidup Masyarakat Adat. Pemerintah tidak mengakui keberadaan wilayah adat milik Masyarakat Adat, wilayah adat dianggap kosong sehingga diklaim sebagai milik negara.
Rukka menambahkan sampai saat ini, Masyarakat Adat masih menjadi korban atas kerakusan manusia terhadap alam dan bumi.
“Masalah seperti perubahan iklim, merusak hutan dengan tambang adalah perbuatan manusia yang rakus, tapi Masyarakat Adat yang kemudian menanggung akibat dan dampaknya,” terangnya.

Para peserta Musda III AMAN Tiga Batu Tungku sedang mendengarkan pidato Sekretaris Jenderal AMAN Rukka Sombolinggi.
Dokumentasi AMAN
Bersatu Memperkuat Gerakan Masyarakat Adat
Seluruh peserta Musda AMAN Tiga Batu Tungku sepakat memilih Mama Aleta Baun untuk menjadi Ketua Pelaksana Harian AMAN Daerah Tiga Batu Tunggu.
Peserta memilih Mama Aleta Baun karena dinilai mampu menjalankan roda organisasi. Selain itu, Mama Aleta juga memiliki pengalaman dan komitmen dalam memperjuangkan hak-hak Masyarakat Adat di Tiga Batu Tungku.
Usai terpilih, Mama Aleta Baun mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta karena telah memberikan kepercayaan untuk memimpin Pengurus Daerah AMAN Tiga Batu Tungku.
“PD AMAN Tiga Batu Tungku sudah ada sejak lama, kita harus bersatu dan bergandengan tangan untuk membangun dan memperkuat gerakan Masyarakat Adat,” ujarnya.
Mama Aleta menjelaskan Masyarakat Adat di Tiga Batu Tungku sudah lama menyebut dirinya sebagai Masyarakat Adat. Dalam perjuangan ke depan, Masyarakat Adat di Tiga Batu Tungku mesti membuka diri terhadap organisasi apapun, yang penting mendukung gerakan Masyarakat Adat.
“Jika tujuan kita sama memperjuangkan hak-hak Masyarakat Adat, maka kita adalah saudara,” kata Mama Aleta.
Mama Aleta tak lupa mengajak seluruh anggota AMAN Tiga Batu Tungku untuk menjalankan ritual adat. Menurutnya, ritual adat adalah bagian penting dan menjadi kekuatan bagi Masyarakat Adat dalam memperjuangkan dan mempertahankan wilayah adatnya.
”Sudah banyak orang dari luar datang ke Mollo dan belajar ritual adat Masyarakat Adat Mollo,” terangnya.
Mama Aleta meminta agar ritual adat ini terus dijalankan, khususnya ritual adat keluarga. Disebutnya, ritual adat di keluarga adalah hal penting kita lakukan karena ritual itu langsung menghubungkan kita dan bersentuhan dengan leluhur dan keluarga kita masing-masing.
Dalam sambutan penutupnya, Mama Aleta mengatakan sekuat apapun kita berjuang, jika tidak melakukan ritual adat maka perjuangan kita akan berjalan di tempat.
“Saya menitipkan agar kita terus menerus menjalankan ritual dan memberi hasil pertanian atau peliharaan seperti ayam kepada leluhur. Jangan hanya kita yang makan hasil dari wilayah adat,” tutupnya. (apg)
***
Penulis adalah staf Direktorat OKK Pengurus Besar AMAN