Oleh Risnan Ambarita

Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) meresmikan sekolah di komunitas Masyarakat Adat Huta Lontung, Kecamatan Muara, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara jelang pergantian tahun baru 2024. Peresmian sekolah adat di Tano Batak ini ditandai dengan pengguntingan pita oleh Marlindang Rajagukguk mewakili anak sekolah adat di komunitas Masyarakat Adat Huta Lontung.

Ketua Pengurus Harian AMAN Tapanauli Utara, Edward Siregar menyatakan bersyukur atas peresmian sekolah adat di komunitas Masyarakat Adat Huta Lontung yang merupakan salah satu komunitas Masyarakat Adat anggota AMAN Tapanauli Utara.

Edward menjelaskan sekolah adat ini didirikan atas gagasan para tetua adat yang gelisah terhadap adat budaya yang hampir punah di komunitas Masyarakat Adat Huta Lontung. Para tetua adat mengusulkan pentingnya sekolah adat didirikan untuk membentengi anak-anak dari pengaruh budaya asing sekaligus membekali mereka dengan budaya tradisional Tano Batak.

“Pendirian sekolah adat ini bertujuan untuk memperkuat kepercayaan diri anak didik dalam merawat identitas,” kata Edward usai peresmian sekolah adat di komunitas Huta Lontung, Kabupaten Tapanuli Utara pada 22 Desember 2023.

Tetua adat Galumbang Rajagukguk menyatakan adat budaya leluhur harus dijaga kelestariannya, karena itu perlu didirikan sekolah adat untuk menjaganya agar tidak punah. Galumbang mencontohkan dirinya yang saat ini masih memiliki pengetahuan tentang musik tradisional Batak Toba. Ia khawatir pengetahuan musik tradisionalnya tersebut akan hilang begitu saja jika tidak penerusnya.

“Ini yang saya gelisahkan, makanya perlu sekolah adat agar warisan pengetahuan yang dimiliki para tetua adat bisa ditranformasikan kepada generasi berikutnya,” terangnya.

Marolop Manalu (kiri) dengan anak-anak sekolah Adat. Dokumentasi AMAN

Staff Kedeputian IV Urusan Pendidikan Adat dan Kebudayaan Pengurus Besar Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (PB AMAN), Marolop Manalu yang turut hadir dalam peresmian sekolah adat di komunitas Masyarakat Adat Huta Lontung menyatakan sekolah adat merupakan pendidikan yang mengakar dari kehidupan Masyarakat Adat yang berlandaskan ajaran leluhur. Sistem pembelajarannya secara tradisional, namun mengandung filosofi dan metedologi yang sesuai dengan praktik adat.

Marolop menyebut saat ini sudah ada 94 sekolah adat yang didirikan oleh AMAN. Sekolah adat tersebut beroperasi dibawah naungan Yayasan Pendidikan Masyarakat Adat Nusantara. Marolop berharap seluruh sekolah adat yang telah didirikan ini bisa berkembang terus di komunitas Masyarakat Adat anggota AMAN, seiring perkembangan zaman yang semakin kompleks.

“Sekolah adat di komunitas perlu terus didorong agar bisa berkembang, ini penting karena sekolah adat merupakan salah satu jalan untuk merawat dan melestarikan budaya warisan leluhur di kampung,” kata Marolop.

Orbita Boru Sinaga, salah seorang tokoh perempuan adat Tano Batak menyambut baik peresmian sekolah adat di komunitas adat Huta Lontung. Perempuan berusia 77 tahun ini menekankan pentingnya sekolah adat di kampung.

“Sekolah adat yang ada di kampung harus didorong perkembangannya untuk kemajuan generasi kita ke depan,” ujarnya.

Selain di sekolah adat, Orbita menambahkan pendidikan adat juga perlu ditumbuh kembangkan dari rumah ke rumah dengan bantuan dari orang tua untuk mengajarkan anak-anaknya tentang sopan santun berdasarkan budaya.

“Ini pondasi, orang tua harus berperan aktif menumbuh kembangkan pendidikan adat di rumah. Sementara, peran sekolah adat adalah menyokong agar budaya warisan leluhur tetap lestari,” sebutnya.

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat dari Tano Batak, Sumatera Utara

Writer : Risnan Ambarita | Tano Batak
Tag : Masyarakat Adat Tano Batak Gerakan Pulang Kampung Sekolah Adat Huta Lontung