Oleh : Pauzan Azima

Masyarakat Sasak yang mendiami Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat memiliki permainan tradisional yang sangat edukatif dan unik. Permainan ini dianggap sangat penting oleh masyarakat Sasak dalam mengajarkan nilai-nilai sosial kepada anak-anak. Permainan itu dikenal dengan nama Selodor.

Selodor bukanlah permainan yang bisa dimainkan sendirian. Ini adalah permainan yang membutuhkan kerjasama dan koordinasi antar anggota kelompok. Biasanya, permainan ini dimainkan oleh dua kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari empat orang. Setiap pemain di kelompok tersebut memiliki tugas masing-masing, ada yang bertugas sebagai penjaga dan ada pula yang bertugas sebagai penyerang.

Budayawan asal Desa Pringgasela Selatan, Kabupaten Lombok Timur, Muh. Imam Andriansyah menjelaskan permainan tradisional selodor ini biasanya dilakukan di tempat yang terbuka seperti lapangan. Biasanya permainan ini dimainkan oleh anak-anak. Mereka menyukai permainan tradisional yang punya beragam teknik ini. Menariknya dari permainan ini, kata Imam, teknik yang ada dalam permainan tradisional selodor ini cepat di mengerti oleh anak-anak.

"Teknik yang ada dalam permainan tradisional selodor ini secara tidak langsung mengajarkan anak-anak bersosial," kata Muh. Imam Andriansyah saat ditemui di kediamannya belum lama ini.

Imam menambahkan nilai sosial yang terkandung dalam permainan tradisional selodor ini terletak pada aturan bermainnya, yaitu berkelompok.

"Melalui permainan ini, anak-anak diajarkan untuk bekerjasama dan bagaimana caranya berinteraksi dengan orang lain dalam menyelesaikan masalah. Ini keterampilan penting dalam kehidupan sosial," imbuhnya

Permainan Tradisional Selodor

Cara Bermain Selodor

Permainan tradisional selodor punya cara bermainnya sendiri. Caranya pemain yang berjaga akan mengisi baris-baris melintang di lapangan seperti berlapis lapis . Satu orang yang spesial dari tim yang berjaga disebut selodor. Dia membelah lapangan permainan jadi dua, bisa bergerak dari ujung ke ujung. Mengunci lawan dalam satu  kotak adalah salah satu kegunaan utamanya. Dia juga bisa secara tiba-tiba menyerang pemain yang sedang berdiri  tidak fokus. Posisi selodor ini adalah posisi terpenting ketiga setelah penjaga depan dan belakang.

Pemain yang tidak berjaga akan berusaha untuk masuk ke dalam lapangan, lalu melewati semua level dan keluar dari ujung satunya lagi. Kemudian, berusaha kembali untuk bisa melakukan asin alias sodor.

Pemain  yang tidak berjaga, kalah bila ada salah satu anggotanya tersentuh oleh yang berjaga. Atau juga, bila salah satu pemainnya keluar dari lapangan sebelah kiri atau kanan. Bila satu kaki saja yang keluar tidak mengapa ,tapi bila keduanya berarti dia keluar, saat pemain yang  tidak berjaga kalah maka posisi akan berganti, yang tidak berjaga menjadi jaga dan sebaliknya permainan akan diulang kembali. Bila pemain yang tidak  berjaga  terkurung  dan tidak bisa lepas maka dia boleh menyerah. Dengan begitu, timnya kalah.

“Makna dari permainan selodor ini untuk menjaga wilayah adat Suku Sasak agar tidak ada yang bisa memasukinya,” terang Imam.

Mirip Gobak Sodor di Yogyakarta

Imam menerangkan permainan tradisional selodor asal suku Sasak ini mirip dengan permainan Gobak Sodor yang populer di Yogyakarta. Seperti Gobak Sodor, selodor juga melibatkan dua kelompok yang saling berinteraksi dalam sebuah area permainan.

Dalam permainan selodor ini, ada dua kelompok yang bermain. Masing-masing kelompok terdiri dari empat orang. Mirip dengan Gobak Sodor, salah satu kelompok bertindak sebagai penjaga, sementara kelompok lainnya bertindak sebagai penyerang.

“Melalui permainan Selodor, seperti halnya Gobak Sodor, anak-anak diajarkan tentang kerjasama tim, strategi, keterampilan sosial, dan kecepatan dalam menghindari tangkapan,” ungkap Imam.

Imam menerangkan permainan selodor adalah contoh bagaimana budaya dan tradisi dapat berfungsi sebagai alat pendidikan yang efektif. Menurutnya, ini dapat membantu anak-anak suku Sasak untuk mengembangkan keterampilan sosial mereka sambil tetap menjaga dan merayakan warisan budaya mereka.

“Keterampilan sosial anak-anak yang dikemas lewat permainan tradisional selodor ini sangat positif untuk masa depan anak itu sendiri. Karenanya, permainan ini harus tetap lestari,” ujarnya.

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat dari Lombok, Nusa Tenggara Barat

 

Writer : Pauzan Azima | NTB
Tag : Lombok Timur Permainan Tradisional Selodor