Oleh Mohamad Hajazi

Masyarakat Adat Suku Sasak di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat berbondong-bondong mendatangi makam keramat di Hari Lebaran Topat pada 8 Syawal 1445 H atau 17 April 2024. Mereka berziarah sembari memanjatkan doa. Menurut keyakinan mereka, berdoa di makam keramat pada Hari Lebaran Topat cepat dikabulkan oleh Sang Pencipta Allah SWT.

Di ibukota Lombok, Mataram, pemakaman Loang Baloq yang paling banyak didatangi Suku Sasak saat tiba Lebaran Topat. Rata-rata 25.000 orang mengunjungi makam Ghauz Abdul Razak yang merupakan guru spiritual pada masa lampau.

Masyarakat Adat Suku Sasak yang sudah selesai berziarah, biasanya berpindah tempat menuju tempat-tempat rekreasi seperti taman atau pantai untuk menyantap ketupat yang telah mereka bawa dari rumah.

Inaq Ita, salah seorang peziarah Suku Sasak, mengatakan bahwa dirinya sudah terbiasa berziarah ke makam keramat setiap hari Lebaran Topat. Sejak kecil sudah sering diajak orangtuanya berziarah ke beberapa makam keramat di Lombok.  Ita menyebut salah satu makam keramat yang sering diziarahinya adalah makam Wali Nyato’ yang merupakan orang pertama datang mengajarkan Islam di bumi Sasak bagian Selatan.

“Saya sudah terbiasa melakukan ziarah makam. Ini tradisi kami saat Lebaran Topat di Lombok,” katanya usai berziarah.

Lebaran Topat (ketupat) merupakan sebuah tradisi yang diwariskan dan masih tetap dilaksanakan oleh sebagian besar Masyarakat Adat Suku Sasak di pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Lebaran Topat dirayakan seminggu setelah Hari Raya Idul Fitri, tepatnya setiap tanggal 8 Syawal. Biasanya, lebaran ini juga disebut sebagai hari kemenangan setelah melaksanakan puasa sunah enam hari di bulan Syawal.

Ketua Pengurus Harian Daerah AMAN Lombok Tengah Baiq Muliati menerangkan prosesi lebaran topat biasanya dilaksanakan dengan menyiapkan ketupat dan opor ayam atau opor telur. Nantinya, ketupat opor ayam atau opor telur ini dibawa sebagai sango (bekal) yang akan dimakan bersama usai berziarah di pemakaman.

Dikatakannya, lebaran topat ini merupakan tradisi Masyarakat Adat Suku Sasak di Lombok yang dilaksanakan satu pekan setelah Hari Raya Idul Fitri. Umumnya,  lebaran topat ini dirayakan oleh Masyarakat Adat Lombok dengan lebih dahulu berdoa di masjid, kemudian melangsungkan ziarah ke makam penyebar agama Islam di pulau Lombok dengan diakhiri makan ketupat bersama.

Menurut Baiq Muliati, tradisi unik di Hari Raya Idul Fitri ini ada di seluruh Indonesia. Namun  sebutannya berbeda-beda di setiap daerah. Di Lombok, bahasa Sasak kata "Topat" diartikan sebagai ketupat. Masyarakat Adat Lombok menyebutnya Lebaran Topat yang kemudian menjadi tradisi makan ketupat.

“Tradisi ini sudah turun temurun kami laksanakan di Lombok,” kata Baiq Muliati disela kesibukannya menyiapkan ketupat beserta opor untuk menjamu tamu yang akan berkunjung ke rumahnya, Rabu (17/4/2024).

Baiq Muliati menerangkan ketupat yang disajikan ini terbuat dari beras yang dimasukkan dalam janur kelapa yang sudah dibentuk segi empat. Kemudian, direbus dengan tunggu. Setelah matang, siap dihidangkan bersama opor ayam untuk para tamu undangan.

Baiq menambahkan ketupat ini memiliki makna filosofi yang tinggi. Bentuknya yang empat persegi bermakna menyatukan empat unsur yang ada dalam diri manusia yaitu air, tanah, api dan udara.

“Empat unsur ini menyatu dalam diri manusia dan itu disimbolkan dalam ketupat,” terangnya.

Lalu Wiratmaje, salah seorang tetua adat di Lombok Tengah menyatakan bahwa lebaran topat adalah momen yang tepat untuk mengembalikan marwah Suku Sasak melalui tradisi adat yang selama ini terjaga kelestariannya. Tradisi ini akan menjadi jati diri Suku Sasak yang akan terus melekat di masa depan.

Lalu Wiratmaje mengatakan generasi muda suku Sasak harus tahu jati dirinya dan mendalami semua tentang adat istiadat yang diwariskan leluhur agar bisa terus menjalankannya dan lestari hingga masa yang akan datang.

“Masa depan tradisi Suku Sasak ada digenggaman generasi muda. Jika mereka lepas, bisa punah. Sebaliknya, harus dijaga dalam genggaman erat agar bisa lestari di masa depan,” terangnya.

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat dari Lombok, Nusa Tenggara Barat

Writer : Mohamad Hajazi | NTB
Tag : Sasak Lebaran Topat