Falsafah Metu Telu Suku Sasak : Konsep Memahami Diri
30 Januari 2026 Berita Pauzan AzimaOleh Pauzan Azima
Masyarakat Adat suku Sasak memiliki pondasi filosofis Metu Telu dalam memandang realitas. Metu Telu yang berarti "berasal/keluar dari tiga" dapat dimaknai Masyarakat Adat Sasak memandang segala sesuatu yang ada dalam realitas itu berasal dari tiga unsur (elemen).
Pemaknaan ini dalam falsafah suku Sasak dikenal Tri Hita Karana yaitu harmonisasi antara Tuhan, manusia, dan alam (leluhur).
Papuk Bajang, salah seorang tokoh adat yang juga pejabat di Kecamatan Bayan, menyatakan dalam konsep pemikiran Metu Telu, Masyarakat Adat suku Sasak meyakini dalam mewujudkan harmonisasi, manusia harus punya tiga hubungan dalam hidupnya yakni hubungan antar Tuhan, hubungan antar alam (leluhur), dan hubungan antar manusia. Ketiga unsur ini melekat dalam filosofi Metu Telu. Disebutkan, Metu Telu adalah konsep yang penting bagi Masyarakat Adat suku Sasak dalam memahami diri.
"Manusia hidup dalam tiga unsur yang ada pada tubuhnya : pikiran, rasa dan raga. Ketiga unsur ini bagian dari konsep Metu Telu yang melekat pada setiap manusia untuk memahami diri," kata Papuk Bajang di Karang Baji, Kecamatan Bayan, kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat belum lama ini.
Papuk Bajang menambahkan dalam pemahaman secara zahiriah, Masyarakat Adat Bayan mempraktikkan konsep Metu Telu melalui adat istiadat, tradisi dan prosesi lokal.

Festival budaya Metu Telu di Kabupaten Lombok Timur.. Dokumentasi AMAN
Dimensi Kosmologis
Kepala Desa Pengadangan Iskandar menjelaskan Metu Telu mengajarkan bahwa kehidupan tidak bertumpu pada satu pilar, melainkan tiga poros utama: hukum agama, hukum pemerintahan, dan hukum adat. Ia menegaskan bahwa ajaran tersebut merupakan falsafah Sasak tentang keseimbangan hidup.
“Metu itu artinya lahir dan Telu artinya tiga. Itu falsafah Sasak atau hukum 3 seperti lahir, hidup, dan mati,” terangnya di acara Festival Budaya Metu Telu di Pengadangan belum lama ini.
Lalu Malik Hidayat, budayawan dari Lendang Nangka mengatakan Metu Telu terakulturasi melalui definisi secara kosmologis.
"Dengan kacamata biologis, Metu Telu memberikan pemahaman bahwa makhluk hidup muncul dari tiga macam reproduksi, menioq (tunas/biji), mentelok (telur), dan menganak (melahirkan)," ujarnya.
Lalu Malik menambahkan pendekatan ini memberi dimensi kosmologis pada Metu Telu. Ia menuturkan bagaimana jiwa lahir, dijaga, dan kembali ke alam. Misalnya, penelitian lintas budaya mencatat bahwa Wetu Telu memandang adanya tiga pintu masuk kehidupan.
“Ini bukti kebesaran Tuhan dalam mekanisme kehidupan,” pungkasnya.
***
Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Lombok, Nusa Tenggara Barat