Oleh Risnan Ambarita

Masyarakat Adat Sihaporas berbondong-bondong mendatangi tempat pelaksanaan ritual adat Partukkoan di Huta Lumban Ambarita Sihaporas, Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.

Ritual yang dilaksanakan setahun sekali ini ramai diikuti Masyarakat Adat Sihaporas di Tano Batak. Mereka bergotong royong mempersiapkan acara adat Penjaga Kampung yang bertempat di gerbang masuk Kampung Sihaporas.

Sejumlah sesaji turut dipersembahkan, mulai dari sirih, pangir, daufa, ayam kampung dimasak, itak gur-gur, sagu-sagu, ihan batak (jurung), rudang, timun, pisang toba. Semuanya dipersembahkan kepada leluhur sebagai jalan untuk menyampaikan doa.

Tetua Adat Sihaporas, Opung Morris Ambarita menerangkan ritual adat Pattukkoan merupakan ritual adat penghormatan kepada leluhur penjaga kampung atau disebut Habonaran. Ritual ini juga dilaksanakan untuk menghormati Raja Sisingamangaraja dan juga kepada Tuhan Sang Pencipta (Mula Jadi Nabolon).

“Tujuan dari pelaksanaan ritual ini untuk memohon kesehatan, rezeki, dan dijauhkan dari segala mara bahaya,” kata Opung Morris disela-sela pelaksanaan ritual pada Kamis, 25 Januari 2024.

Opung Moris menjelaskan bahwa ritual ini dilaksanakan rutin sekali dalam satu tahun untuk menghormati leluhur penjaga kampung yang diwariskan leluhur Ompu Mamontang Laut Ambarita secara turun temurun. Sampai saat ini, sebutnya, sudah ada 11 generasi di Sihaporas yang masih tetap melaksanakan ritual ini.

Tetua adat Olen Ambarita mengungkap sesuai pesan dari leluhur Ompu Mamontang Laut Ambarita, yang merupakan leluhur pembuka kampung Sihaporas, bahwa setiap keturunannya harus tetap melestarikan warisan tujuh ritual adat, salah satunya ritual adat Partukkoan. Ritual ini, imbuhnya, harus dilaksanakan sampai ke generasi berikutnya dan harus mengikuti aturan adat yang ada di Sihaporas.

“Ini sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur,” katanya.

Olen Ambarita menyebut tujuh ritual adat warisan leluhur di Sihaporas adalah :

1. Patarias Debata Mulajadi Nabolon

Ritual Patarias Debata Mulajadi Nabolon ini adalah pesta adat untuk memuji, memuliakan, dan menyampaikan persembahan kepada Sang Pencipta dengan diiringi musik tradisional gondang selama tiga hari dua malam. Ritual ini digelar setiap empat tahun sekali.

2. Raga-raga Na Bolak Parsilaonan

Ini adalah ritual doa permohonan dan persembahan kepada leluhur Ompu Mamontang Laut Ambarita, dengan diiringi musik tradisional gondang. Ritual ini juga digelar setiap empat tahun sekali.

3. Mombang Boru Sipitu Suddut

Ini ritual doa permohonan dan persembahan kepada Raja Uti dan Raja Sisingamangaraja. Ritual ini digelar selama satu hari tanpa diiringi gondang.

4. Manganjab

Ritual doa ini dilakukan untuk memohon kesuburan dan keberhasilan dalam usaha bertani, sekaligus memohon agar dijauhkan dari segala macam hama dan penyakit pada tanaman. Ritual ini diselenggarakan di ladang (perhumaan) sekali setiap tahun.

5. Ulaon Habonaran i Partukkoan

Ritual doa melalui leluhur atau Habonaran dan Raja Sisingamangaraja ini digelar dengan tujuan untuk menjauhkan kampung dari segala macam mara bahaya dan penyakit.

6. Pangulu Balang Parorot

Ritual ini dilakukan untuk berdoa kepada Sang Ada melalui penjaga kampung dan Hadatuaon supaya penduduk kampung diberikan keselamatan dan dijauhkan dari segala bala.

7. Manjuluk

Ritual doa yang diselenggarakan sesaat sebelum mulai menanam. Ini dilakukan di gubuk atau ladang secara rutin.

Olen Ambarita berharap ketujuh ritual adat ini bisa tetap lestari di Tano Batak, khususnya di komunitas adat Sihaporas.

“Semoga dengan terawatnya tradisi ini, Masyarakat Adat Sihaporas sejahtera dan membawa keberkahan ke depan dan dijauhkan dari segala mara bahaya,” kata Olen.

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat dari Tano Batak, Sumatera Utara

Writer : Risnan Ambarita | Tano Batak
Tag : Masyarakat Adat Tano Batak Ritual Adat Partukkoan