Oleh  Komang Era Patrisya

Sebuah Lembaga Filantropi yang berpusat di Amerika : Thousand Current mengunjungi komunitas Masyarakat Adat di desa Adat Tenganan Pegringsingan dan desa Adat Catur di Bali pada 11-12 November 2023.

Dalam kunjungannya selama dua hari di Bali, tiga personil Thousand Current didampingi Pengurus Besar Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) dan Pengurus Wilayah AMAN Bali.

Personil Thousand Current menyatakan cukup senang bisa bertemu langsung dengan Masyarakat Adat di Bali.

Rachel Arini, salah seorang personil Thousand Current, menyatakan tujuan dari kunjungan mereka ke komunitas Masyarakat Adat di Bali untuk melihat, berdiskusi dan mengenal lebih dekat tentang Masyarakat Adat.

“Disini, kami ingin belajar dari komunitas Masyarakat Adat, bagaimana cara saling menjaga komunitasnya, termasuk apa saja tantangan ke depan dan kesempatan yang mereka punya di komunitas,” kata Rachel disela kunjungannya di Bali pada Sabtu (11/11/2023).

Rachel mengaku selama berada di Bali, mereka terkesan dengan sambutan Masyarakat Adat Bali yang sangat baik.

Selama berada di Bali, Thousand Current mengawali kunjungannya dengan mendatangi desa Adat Tenganan Pegringsingan. Desa ini tergolong desa adat tua di Bali yang terletak di Kabupaten Karangasem. Desa Tenganan Pegringsingan dikenal dengan tradisi adat dan budayanya yang masih terjaga sampai saat ini. Selain itu, Tenganan Pegringsingan juga termasuk desa yang cukup kuat mengatur dan membentengi dirinya sendiri. 

Setelah mengunjungi desa Adat Tenganan Pegringsingan, perwakilan Thousand Current melanjutkan kunjungannya ke Desa Adat Catur.

Desa Adat Catur terletak di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Desa Adat Catur merupakan salah satu dari tujuh desa adat anggota AMAN Bali yang turut serta dalam pembentukan AMAN Bali.

Di desa Adat Catur, perwakilan dari pihak Thousand Current sempat berdiskusi dengan tokoh Masyarakat Adat. Setelah itu, pihak Thousand Current beserta pengurus PB AMAN dan PW AMAN Bali mengunjungi perkebunan kopi arabika dan jeruk di Bali. Desa Adat Catur merupakan salah satu sentra perkebunan kopi arabika dan jeruk di Bali.

Rachel menyatakan berdasarkan hasil diskusi mereka dengan AMAN, ada beberapa tantangan internal yang diidentifikasi, salah satunya adalah bagaimana memastikan bahwa AMAN bisa bergerak, berkoordinasi dan melibatkan anggotanya yang banyak sekali dengan berkunjung dan mendengarkan cerita serta tantangan-tantangan yang dihadapi oleh komunitas-komunitas AMAN. Dengan demikian, katanya, secara langsung AMAN dapat mengetahui tindakan-tindakan apa yang harus dilakukan ke depannya.

Kehormatan bagi Masyarakat Adat Bali

Pj Ketua PW AMAN Bali, Ni Made Puriati menyatakan senang mendapat kunjungan dari Thousand Current.

“Kunjungan dari Thousand Current ini suatu kehormatan bagi kami disini,” kata Ni Made Puriati saat menerima kunjungan perwakilan Thousand Current di Bali pada Sabtu (11/11/2023).

Pada kesempatan ini, Ni Made Puriati mencoba menjelaskan tentang profil desa adat yang dikunjungi Thousand Current,  salah satunya profil desa adat Tenganan Pegringsingan.

Perempuan yang akrab disapa Denik ini menerangkan desa adat Tenganan Pegringsingan dikenal dengan sumber daya alamnya yang melimpah. Dari 917,2 hektar luas wilayah desa adatnya, 583.035 hektarnya diantaranya merupakan hutan dan tegalan (kebun).

Sumberdaya lain yang dimiliki Tenganan Pegringsingan adalah 350 liter/detik debit air sungai Buhu. Ni Made Puriati menyebut air sungai ini biasanya digunakan untuk mengairi lahan sawah yang ada di sekitarnya, terutama yang tergabung dalam areal subak Tenganan Pegringangan dan daerah di bawahnya. Di samping itu, air sungai juga digunakan untuk mandi dan mencuci.  Bukan hanya untuk kebutuhan harian.

Ni Made Puriati menuturkan sumberdaya air yang dimiliki ternyata juga bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH). Mikro hidro ini dibangun pada tahun 2007, dengan tujuan utama untuk membantu Masyarakat Adat Tenganan Pegringsingan dalam mengelola hasil panennya menggunakan energi ramah lingkungan. Sampai saat ini, mikro hidro masih berfungsi dengan baik, walaupun tidak dapat lagi menggerakan penyosohan beras mereka.

Terkait hal ini, Ni Made Puriati mengajak komunitas Masyarakat Adat untuk saling berkolaborasi dan bersinergi untuk menjaga tradisi, budaya dan wilayah adatnya.

Potensi

Gusti Mangku Rupa selaku Pemimpin Desa Adat Catur dalam penjelasannya kepada perwakilan Thousand Current menyatakan masing-masing desa di Bali memiliki adat-istiadat yang berbeda. Hal ini dikatakan Gusti Mangku Rupa sebagai sebuah potensi karena meskipun memiliki adat istiadat yang berbeda tetapi semua desa adat di Bali memiliki satu tujuan yang sama yaitu mempertahankan adatnya dengan caranya sendiri yang disebut dengan istilah Dresta.

Gusti Mangku Rupa menjelaskan tentang konsep ajaran Tri Hita Karana kepada perwakilan Thousand Current. Dokumentasi AMAN

Gusti Mangku Rupa menjelaskan tentang konsep ajaran Tri Hita Karana yaitu hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan alam dan hubungan manusia dengan manusia.

Ia mencontohkan hubungan manusia dengan manusia adalah beraliansi dengan komunitas-komunitas Masyarakat Adat di Nusantara.  Gusti  berharap keberadaan desa adat di Bali bisa tetap eksis, karena desa adat yang di dalamnya terdapat budaya merupakan sebuah potensi  untuk bisa berkehidupan sosial, berkehidupan ekonomi, berkehidupan budaya, pertahanan dan  keamanan.

Ditempat terpisah, Tokoh Masyarakat Adat Tenganan Pegringsingan, Nyoman Sadra menyatakan kepada perwakilan Thousand Current bahwa tradisi yang ada di Bali saat ini telah terjadi pergeseran sejak zaman dulu hingga sekarang. Hal tersebut dikarenakan pemahaman tentang budaya lokal yang sudah berkurang.

Saat ditanya apakah budaya di Desa Adat Tenganan Pegringsingan bisa bertahan ke depannya, Nyoman Sadra menyatakan itu semua tergantung apakah generasi mudanya mampu memahami konsep-konsep kehidupan yang dipesankan lewat ritual, simbol bahkan pola rumah, pola kain gringsing.

“Kalau ini tidak dipahami oleh generasi kita, bahkan tetua adat pun banyak yang tidak paham akan kosnep ini, bagaimana kita bisa bertahan. Rohnya akan hilang,” kata Nyoman Sadra.

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat dari Bali

Writer : Komang Era Patrisya | Bali
Tag : AMAN Bali Filantropi Thousand Current