Oleh Etzar Frangky Tulung

Pengurus Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Sulawesi Utara menghadiri peringatan satu dekade penghayat kepercayaan Lalang Rondor Malesung (Laroma) yang digelar di Desa Tondei Satu, Kecamatan Motoling Barat, Kabupaten Minahasa Selatan pada Selasa, 17 Februari 2026.

Kehadiran para pengurus AMAN Sulawesi Utara dalam momentum ini menjadi penegasan dukungan terhadap eksistensi dan perjuangan Laroma sebagai bagian tak terpisahkan dari komunitas Masyarakat Adat di Sulawesi Utara.

Ketua Pelaksana Harian AMAN Wilayah Sulawesi Utara Kharisma Kurama menyatakan satu dekade perjalanan Laroma bukanlah waktu yang singkat untuk menjadi penanda eksistensi sebuah komunitas. Disebutkan. AMAN ikut terlibat dalam gerakan satu dekade perjalanan Laroma.

“Laroma telah melalui berbagai tahapan perjalanan, bahkan saat ini sedang menuju babak baru setelah sekian lama mengalami tekanan, diskriminasi, hingga perlakuan tidak adil,” kata Kharisma dalam keterangannya saat menghadiri peringatan satu dekade Penghayat Kepercayaan Laroma.

Kharisma menerangkan secara prinsip, AMAN tetap konsisten mendukung nilai-nilai perjuangan Laroma. Bagi AMAN, imbuhnya, Laroma bukan sekadar kelompok penghayat kepercayaan, melainkan bagian dari jantung perjuangan Masyarakat Adat itu sendiri.

Kharisma menyebut sebagai penghayat kepercayaan, Laroma adalah salah satu yang paling nyata menunjukkan identitas kultural dan spiritual Masyarakat Adat di Sulawesi Utara.

“Aktivitas dan perjuangan yang dilakukan Laroma justru merupakan inti dari perjuangan Masyarakat Adat,” tegasnya.

Menurut Kharisma, tidak banyak komunitas Masyarakat Adat hari ini yang berani secara terbuka menampilkan identitas kebudayaan, kultural, bahkan spiritualnya seperti yang dilakukan Laroma di Tondei.  Ia menilai kemampuan Laroma bertahan selama satu dekade di tengah berbagai desakan dan tekanan menjadi refleksi penting bagi seluruh gerakan Masyarakat Adat.

“Ini menjadi refleksi bersama yang harus terus torang renungkan,” katanya.

Kharisma mengatakan dalam berbagai forum diskusi internal, AMAN menegaskan bahwa basis keanggotaan organisasi adalah komunitas Masyarakat Adat. Sementara Laroma, menurutnya, merupakan agama yang hidup dan tumbuh dalam komunitas tersebut.

“Laroma adalah agama asli yang hidup dalam komunitas Masyarakat Adat. Paling tidak di Tondei, yang sampai hari ini tetap eksis dan menunjukkan keberadaannya,” jelasnya.

Lebih lanjut, Kharisma menyampaikan dalam kerja-kerja organisasi AMAN beberapa waktu terakhir, salah satu fokus utama adalah mendorong kebijakan pengakuan dan perlindungan bagi Masyarakat Adat. Kebijakan tersebut dinilai penting untuk mengakomodasi keberadaan dan hak-hak penghayat kepercayaan.

Saat ini, sebut Kharisma, AMAN juga tengah melakukan proses verifikasi keanggotaan untuk memastikan komunitas Masyarakat Adat yang menjadi bagian dari organisasi tersebut. Langkah ini dilakukan guna memperkuat basis gerakan serta memperjelas posisi komunitas dalam perjuangan pengakuan hak-hak Masyarakat Adat.

Pengurus AMAN Sulawesi Utara sedang dijamu makan. Dokumentasi AMAN

Mewarisi Ajaran Malesung

Ketua Umum Laroma, Iswan Laloan Sual mengatakan kesadaran untuk saling mengenal sangat diperlukan di dalam bagian negara Indonesia yang sangat beragam dan Pancasila sebagai falsafahnya. Untuk itu, sebutnya, Lalang Rondor Malesung sebagai lembaga penerus nilai-nilai tradisi malesung yang hari ini berusia 10 tahun menyelenggarakan agenda yang sangat sederhana.

Iswan Laloan yang juga Presidium Majelis Luhur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Indonesia (MLKI) Sulawesi Utara menambahkan untuk menjadi organisasi penghayat kepercayaan yang dewasa masih memerlukan waktu panjang.

"Meski sebetulnya, kami sudah mewarisi ajaran malesung ini sejak ribuan tahun lalu dari leluhur kita, perjalanan untuk menjadi organisasi penghayat kepercayaan yang dewasa masih sangatlah panjang. Kita harus berjuang lebih keras dan lebih giat," terangnya.

Iswan Laloan menyatakan kita mesti paham, bahwa mendalami dan melestarikan ajaran para leluhur itu penting. Namun, kita juga harus mengenal saudara kita yang lain, yang berbeda keyakinan, agama, kepercayaan, suku, dan latar belakang lainnya.

“Karena tugas utama kita adalah 'Tumou Tou' menjadi manusia yang sebenar-benarnya manusia," lanjutnya.

Iswan pun mengajak pada perayaan Hari Ulang Tahun Laroma ke-10 tahun ini bisa dijadikan sebagai kesempatan untuk terus berefleksi.

"Mari kita sebagai penghayat kepercayaan, menjadikan momen ini sebagai kesempatan untuk refleksi dan perenungan agar kehidupan serta perjalanan kita bisa menjadi lebih baik di masa depan,” ungkapnya.

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Sulawesi Utara

Writer : Etzar Frangky Tulung | Sulawesi Utara
Tag : AMAN Sulawesi Utara Mendukung Perjuangan Penghayat Kepercayaan Laroma