Pesinauan Sekolah Adat Osing Mengangkat Karya Maestro Gandrung
21 Mei 2026 Berita Dinda Anggun LestariOleh Dinda Anggun Lestari
Pesinauan Sekolah Adat Osing bersama para seniman tradisi, akademisi dan dokumentator budaya mengangkat karya Maestro Gandrung dalam satu rangkaian kegiatan di dusun Joyosari, Desa Olehsari, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur pada Rabu, 13 Mei 2026.
Kegiatan yang bertajuk “Gandrung: Tubuh Kolektif, Gairah Tradisi, Warisan Bersama” ini berisi berbagai acara diantaranya pameran memorabilia Gandrung yang menampilkan arsip photo, dokumentasi pertunjukan hingga berbagai acara lainnya yang menarik perhatian siswa dari sekolah formal lain. Melalui model pendidikan adat, para siswa diajak lebih mengenal warisan budaya dan memahami pengetahuan budaya yang ada di daerah mereka sendiri.
Slamet Diharjo selakui koordinator program sekaligus Ketua Pesinauan Sekolah Adat Osing mengatakan Gandrung adalah ingatan kolektif masyarakat Banyuwangi yang hidup bukan hanya di atas panggung, tetapi juga dalam cara masyarakat menjaga hubungan dengan tubuh, tradisi, dan kehidupan sehari-hari.
Slamet menuturkan dokumentasi pengetahuan karya Maestro Gandrung di Masyarakat Adat Osing ini senada dengan prinsip pendidikan adat Pesinauan Sekolah Adat Osing. Bagaimana pendidikan adat harus sesuai dengan jati diri, pola pikir, cara hidup, dan sistem pengetahuan komunitas Masyarakat Adat untuk diteruskan kepada lintas generasi.
Slamet mengatakan dengan adanya program ini, Pesinauan Sekolah Adat Osing yang telah berdiri selama lima tahun berharap membawa dampak baik terhadap generasi penerus dan masyarakat luas.
“Program yang diangkat Pesinauan Sekolah Adat Osing ini menunjukkan Gandrung sebagai sang Maestro merupakan refleksi budaya, bahwa Gandrung tidak hanya sekedar tarian atau icon, tetapi Gandrung adalah bagian dari alat perjuangan sejarah Banyuwangi di tanah Blambangan,” ungkapnya.
Slamet menjelaskan di balik setiap pentas Gandrung dari waktu ke waktu, terdapat pengetahuan yang hidup dalam tubuh para maestro, para panjak (pemain alat musik tradisional). Kemudian, sanggar-sanggar tetap berdiri di sudut desa, serta ruang sosial masyarakat Banyuwangi masih menjaga tradisi di tengah perubahan zaman.
”Dari sinilah tarian Gandrung lahir sebagai ingatan Masyarakat Adat Osing yang diwariskan melalui gerak, suara, irama, dan pengalaman hidup lintas generasi,” terangnya.

Sejumlah siswa sedang melihat pameran photo Maestro Gandrung. Dokumentasi AMAN
Rangkaian Kegiatan Lancar
Dokumentasi pengetahuan Maestro Gandrung dirangkai dengan peluncuran buku dan pameran memorabilia Gandrung. Selain itu, ada juga pemutaran film dokumenter Gandrung dan pagelaran Gandrung Terop bersama Maestro.
Rangkaian dari semua kegiatan itu dibuka dengan peluncuran buku “Menari di Atas Kertas: Tubuh dan Ingatan dalam Arsip Visual Gandrung” karya Wiwin Indiarti dan Anasrulloh. Buku ini memadukan arsip visual, catatan etnografis, dan refleksi budaya mengenai Gandrung sebagai tubuh kolektif masyarakat Osing.
Setelah peluncuran buku, kegiatan selanjutnya menghadirkan pameran memorabilia Gandrung yang menampilkan arsip foto, dokumentasi pertunjukan hingga berbagai acara lainnya yang merekam perjalanan Gandrung dari masa ke masa. Di acara ini, masyarakat diajak juga menyaksikan pemutaran film dokumenter Gandrung yang merekam dinamika Gandrung di tengah perubahan sosial budaya.
Puncak kegiatannya menyajikan pagelaran Gandrung Terop bersama maestro dan generasi penerus. Pertunjukan ini menghadirkan lima Gandrung lintas generasi yaitu Gandrung Temu, Gandrung Dartik, Gandrung Sunasih, Gandrung Mudaiyah, dan Gandrung Lina, serta delapan sesi pertunjukan Gandrung.
“Kita bersyukur seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar, ini merupakan bagian dari pelestarian budaya yang dijunjung tinggi,” katanya sembari menerangkan kegiatan ini terselenggara atas dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
***
Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat Osing