Oleh Zasqia Mutiara

Sekitar 300 bibit pohon Picung dan Muncang ditanam oleh pelajar Sekolah Adat Kampung Dukuh di area pemakaman tokoh besar kampung adat Syekh Abdul Jalil di Desa Ciroyom, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Penanaman bibit pohon jenis rempah-rempahan ini bertujuan untuk melestarikan tanaman rempah, sekaligus untuk memperkuat struktur tanah di area perbukitan yang miring agar tidak mudah longsor.

Kepala Sekolah Adat Kampung Dukuh, Sepri menyatakan aksi penanaman bibit pohon ini diharapkan menjadi agenda rutin yang mampu meningkatkan kesadaran kolektif akan pentingnya mitigasi bencana berbasis alam.

Ia mengatakan melalui penanaman bibit pohon Picung dan Muncang, kampung adat Dukuh tidak hanya akan dikenal karena keteguhan budayanya, tetapi juga karena keberhasilannya dalam menjaga "sabuk hijau" di sekitar situs bersejarah.

Sepri menjelaskan di kampung adat Dukuh, menjaga alam adalah bagian dari ibadah dan ketaatan terhadap aturan adat. Disebutnya, menanam pohon termasuk bagian dari menjaga alam. Karena itu, mereka tidak lupa mengingatkan kepada pelajar bahwa menanam bibit pohon ini merupakan bagian dari tiga poin sederhana yang harus diingat untuk menjaga alam tetap lestari.  "Tiga poin itu adalah menghemat air, membuang sampah pada tempatnya, dan menanam pohon," ujarnya disela penanaman bibit pohon di area pemakaman tokoh besar kampung adat bernama Syekh Abdul Jalil belum lama ini.

Pohon Yang Ditanam Jenis Rempah

Sepri menyebut bibit pohon yang ditanam meliputi pohon Picung dan MuncangPicung atau kluwek (Pangium edule) adalah pohon penghasil biji yang umum digunakan sebagai bumbu dapur hitam khas Indonesia (seperti pada rawon). Biji dan seluruh bagian pohonnya mengandung racun asam sianida, sehingga harus difermentasi atau direndam terlebih dahulu sebelum bisa dikonsumsi dengan aman.

Sementara, pohon Muncang adalah sebutan dalam bahasa Sunda untuk pohon kemiri (Aleurites moluccana) yaitu tumbuhan penghasil rempah dan minyak yang bijinya banyak digunakan sebagai bumbu dapur, bahan obat tradisional, serta bahan baku kosmetik.

Biji muncang (kemiri) adalah komponen wajib dalam bumbu masakan Indonesia (seperti soto dan rendang) yang berfungsi untuk mengentalkan kuah dan memberikan rasa gurih alami.

”Muncang ini merupakan jenis rempah yang terkenal di Indonesia,” ungkapnya, sembari menambahkan selain berfungsi sebagai penahan angin, pohon kemiri ini juga dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat melalui buahnya tanpa harus merusak tegakan pohonnya.

Sejumlah pelajar Sekolah Adat Kampung Dukuh bersiap menanam pohon Picung dan Muncang di area pemakaman Syekh Abdul Jalil. Dokumentasi AMAN

Menjaga Keseimbangan Ekosistem Tanah

Padil, salah seorang pengajar di Sekolah Adat Kampung Dukuh mengatakan selain untuk bumbu masakan, kehadiran pohon Picung dan Muncang juga dapat menjaga keseimbangan ekosistem tanah di sekitar makam Syekh Abdul Jalil. Ditambahkannya, aksi penanaman bibit pohon ini juga menjadi bentuk pengabdian para pelajar kepada alam dan leluhur.

"Penanaman bibit pohon ini adalah bentuk pengabdian kami kepada alam dan leluhur. Pohon Picung dan Muncang bukan hanya tanaman biasa bagi kami, keduanya penyerap air dan penjaga keseimbangan ekosistem di tanah ini," ungkapnya.

Hal senada disampaikan oleh Jijoh, salah seorang warga Masyarakat Adat Kampung Dukuh bahwa tak hanya untuk melestarikan tanaman rempah, aksi penanaman bibit pohon ini juga bertujuan untuk memperkuat struktur tanah di area perbukitan yang miring agar tidak mudah longsor.

"Dengan menanam pohon berakar kuat seperti Picung, ini bisa menjadi benteng alami pencegah erosi," katanya.

Mak Jijoh, demikian panggilan akrabnya menerangkan alasan pemilihan tanggal penanaman pohon. Menurutnya, pemilihan tanggal pelaksanaan penanaman bibit pohon pada 20 April 2026 ini dirasa tepat untuk memastikan bibit tanaman mendapatkan kelembapan yang cukup sebelum memasuki puncak musim kemarau.

”Ini waktu yang tepat untuk menanam bibit pohon Picung dan Muncang, cuacanya tidak kemarau,” tutupnya.

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Garut, Jawa Barat

Writer : Zasqia Mutiara | Garut, Jawa Barat
Tag : Sekolah Adat Kampung Dukuh Menanam Pohon Rempah