Oleh Pauzan Azima

Puluhan perempuan adat di Kelurahan Denggen, Kecamatan Selong, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat berbaris menjunjung Tembolaq, sebuah baki tradisional khas sasak berisi aneka kue tradisional hingga nasi dan lauk pauk. Prosesi ini merupakan bagian dari upacara adat Nyelamet Dowong, sebuah tradisi tahunan Masyarakat Adat Denggen untuk memohon keselamatan bagi tanaman padi dari serangan hama sebelum tiba masa panen.

Melalui tradisi Nyelamet Dowong, Masyarakat Adat Denggen membuktikan bahwa kearifan lokal dan semangat kedaulatan pangan tetap menjadi fondasi kuat dalam menjaga keberlanjutan pangan di Pulau Lombok.

Lalu Selamet, salah seorang tokoh Masyarakat Adat Denggen, menjelaskan tradisi ini sudah dilaksanakan secara turun temurun oleh Masyarakat Adat Denggen. Disebutnya, kegiatan ini selalu dilaksanakan setiap tahun ketika padi sudah berumur satu bulan.

Menurutnya, upacara adat ini harus dilakukan setiap tahun. Ritual yang berlangsung selama dua hari ini, biasanya dimulai pada hari Jumat dengan agenda pembersihan makam leluhur. Puncaknya terjadi pada hari Minggu, di mana dilakukan pemotongan ayam yang memiliki makna filosofis mendalam sebagai metode pengendalian hama tradisional.

"Pemotongan ayam ini dilakukan di satu tempat dan dibuatkan lubang, filosofinya supaya penyakit tidak menyebar. Kemudian darah dari penyembelihan ayam tersebut dialirkan ke daun bambu sehingga menempel darah ayam tersebut di daun bambu," ungkap Lalu Selamet belum lama ini.

Selamet menerangkan sebelum mengenal pestisida kimia, Masyarakat Adat Denggen memanfaatkan daun bambu yang telah diolesi darah ayam tersebut sebagai "perangkap" alami bagi hama di sawah.

"Dulu belum ada pestisida, jadi dimanfaatkanlah daun bambu yang sudah tertempel darah ayam ini sebagai pengendali hama alami, itu ditaruh di tengah sawah. Hama-hama tersebut akan menempel di daun bambu karena menghirup bau amis darah ayam. Setelah hamanya kenyang, mereka akan langsung mati," papar Selamet.

Selamet menambahkan setelah prosesi tersebut, air suci yang diambil dari Merta Sari akan dialirkan ke area persawahan.

“Secara simbolis dan teknis, aliran air ini dipercaya akan menghanyutkan hama-hama yang telah mati,” imbuhnya.

Prosesi ritual Nyelamet Dowong di Lombok Timur. Dokumentasi AMAN

Mendukung Kedaulatan Pangan

Menurut Selamet, ritual Nyelamet Dowong ini bagi Masyarakat Adat bukan sekadar ritual, melainkan bentuk pengabdian dan rasa syukur kepada Tuhan demi mendukung kedaulatan pangan nasional.

"Intinya, upacara adat ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur, dan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa supaya hasil panen dapat berlimpah sehingga kedaulatan pangan kita tercapai," cetusnya.

Semangat ini pun disambut antusias oleh Masyarakat Adat, salah satunya Amaq Muslihin. Ia secara swadaya dalam ritual ini menyediakan aneka hidangan untuk dinikmati bersama para tamu dan warga lainnya.

"Kami disini secara swadaya menyajikan semua ini untuk dinikmati bersama, apalagi padi saya saat ini sudah mulai menguning,” katanya sembari berharap hasil panennya kali ini berlimpah setelah menggelar ritual adat Nyelamet Dowong.

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat

Writer : Pauzan Azima | Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat
Tag : Ritual Nyelamet Dowong Ikhtiar Masyarakat Adat Lombok Timur