Bazar Seba Baduy : Bentuk Kedaulatan Ekonomi Masyarakat Adat
25 April 2026 Berita Eki IndriawanOleh Eki Indriawan
Bazar ekonomi kreatif ikut meramaikan kegiatan Festival Seba Baduy 2026 di sekitar alun -alun Rangkasbitung dan Pendopo Kabupaten Lebak pada Kamis, 23 April 2026.
Bagi Masyarakat Adat Baduy, khususnya warga Baduy luar, bazar ini menjadi momen penting untuk "turun gunung" membawa produk hasil bumi dan kerajinan tangan. Keikutrsertaan mereka dalam kegiatan bazar ini bukan semata-mata mencari keuntungan materi, melainkan bentuk kedaulatan ekonomi Masyarakat Adat agar tetap bisa berdikari tanpa merusak aturan adat.
Sejumlah produk Masyarakat Adat Baduy tak luput dari perhatian dan daya tarik wisatawan yang datang ke bazar ini, diantaranya kain tenun tradisional Baduy dengan pewarna alami, madu hutan asli dari pedalaman hutan Kanekes, kerajinan kayu dan rotan seperti tas koja, gelang, dan gantungan kunci etnik serta gula aren yang diolah secara tradisional tanpa bahan kimia.
Para pengerajin mengaku semua produk yang dijual di bazar festival Seba Baduy ini dibuat sendiri di rumah. Mereka butuh waktu lama untuk membuat produk tersebut.
“Tenunan ini dibuat berbulan-bulan. Lewat bazar ini, kami ingin orang luar tahu bahwa hasil alam Baduy itu bagus dan alami," ujar salah satu pengerajin perempuan dari desa Kanekes.
Ia sibuk menata kain tenun dan tas koja yang terbuat dari serat pohon teureup di salah satu stand kayu sederhana.
Masyarakat Adat Baduy Kreatif
Asep Hermawan, salah satu pengunjung mengatakan sengaja datang ke Rangkasbitung untuk melihat festival Seba Baduy. Ia pun tertarik membeli tas kecil dan Ikat kepala warna hitam di festival ini.
"Saya dari Lebak Selatan, datang dari jauh melihat bazar Seba Baduy. Saya membeli tas kecil dan ikat kepala hitam," kata Asep sumringah.
Menurutnya, Masyarakat Adat Baduy sangat kreatf dalam membuat kerajinan. Harga yang tawarkan pun sangat terjangkau.
"Harganya sangat murah, untuk tas kecil hanya Rp 25.000, ikat kepala hanya Rp 30.000. Harganya bisa menyamakan dengan kondisi masyarakat saat ini," ucapnya.
Asep berharap agar produk-produk dari Masyarakat Adat Baduy bisa dipamerkan di luar Kabupaten Lebak, agar bisa dikenal oleh masyarakat luas.
Meski bazar kental dengan nuansa ekonomi, para tokoh adat tetap mengingatkan bahwa inti dari keberadaan mereka di kota adalah menyampaikan amanat Puun atau pimpinan adat kepada "Bapak Gede" (Bupati dan Gubernur). Produk yang dijual di bazar merupakan representasi dari hasil hutan yang mereka jaga.

Seorang ibu sedang berjalan di salah satu stand bazar Seba Baduy yang menjual berbagai produk hasil bumi.. Dokumentasi AMAN
Ajang Silaturahmi
Tokoh adat dari Desa Kanekes Jaro Oom menyatakan sangat mendukung kegiatan bazar ini. Menurutnya, kegiatan ini bisa buat ajang silaturahmi sekaligus menepis narasi keliru yang melarang warga Baduy berdagang atau berjualan madu ke luar daerah.
"Bazar di Seba Baduy ini sangat baik, bisa buat dipakai ajang silaturahmi,” katanya sembari menambahkan berharap melalui interaksi di bazar ini, kiranya pengunjung tidak hanya membawa pulang barang belanjaan, tetapi kesadaran untuk ikut menjaga kelestarian alam.
“Sebagaimana yang dilakukan Masyarakat Adat Baduy dalam menjaga alam mereka selama ratusan tahun,” imbuhnya.
***
Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Banten Kidul