Oleh Abdi Akbar

Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Rukka Sombolinggi menekankan pentingnya prinsip kedaulatan dan kemandirian ekonomi bagi komunitas Masyarakat Adat saat tampil sebagai pembicara utama dalam forum khusus bertajuk “Ekonomi Masyarakat” di hari kelima pertemuan London Climate Action Week (LCAW) pada Kamis, 25 Juni 2026.

Dalam forum khusus yang dilaksanakan oleh Global Alliance of Territorial Communities (GATC) ini, Rukka menegaskan kemandirian Masyarakat Adat yang sejati tercapai ketika komunitas mampu hidup sejahtera dan bahagia melalui pengelolaan wilayahnya secara bijaksana.

"Kemandirian tercapai jika kita mengelola secara berkelanjutan seluruh kekayaan titipan leluhur. Baik kekayaan material yang berada di bawah, di atas, maupun di permukaan tanah wilayah adat kita, hingga kekayaan immaterial seperti spiritualitas, pengetahuan, seni tradisi, kesusasteraan, ritual, dan kearifan adat kita," kata Rukka dalam paparannya di forum khusus Ekonomi Masyarakat.

Forum ini secara spesifik membedah berbagai praktik baik serta tantangan dalam sistem ekonomi yang dijalankan oleh Masyarakat Adat di berbagai belahan dunia.

Di forum ini, Rukka menjelaskan indikator utama dari sebuah sistem ekonomi adat yang mandiri. Ia menyebut kuncinya ada pada kemampuan alam dalam memenuhi kebutuhan dasar secara berdaulat.

"Ekonomi Masyarakat Adat mandiri jika sungai, laut, hutan, dan tanah leluhur menyediakan kebutuhan hidup yang berkecukupan bagi kita, pangan cukup, energi pun cukup! Ekonomi kita mandiri jika kreativitas dan inovasi dalam budaya mampu membahagiakan diri kita sendiri serta orang lain di sekitar kita," jelasnya.

Suasana forum khusus "Ekonomi Masyarakat" yang dilaksanakan oleh Global Alliance of Teritorial Communities (GATC) di London. Dokumentasi AMAN

BUMMA Sebagai Wadah Kemandirian Ekonomi Masyarakat Adat

Dalam forum global ini, Rukka memaparkan bahwa AMAN telah membentuk 47 Badan Usaha Milik Masyarakat Adat (BUMMA) sebagai wadah kemandirian ekonomi Masyarakat Adat. Disebutkan, BUMMA adalah lembaga usaha yang didirikan, dimiliki, dan dikelola secara kolektif oleh komunitas Masyarakat Adat. BUMMA merupakan perwujudan nyata dari konsep ekonomi Masyarakat Adat yang berlandaskan pada prinsip-prinsip kedaulatan, keberlanjutan, dan kesejahteraan bersama.

Rukka menyebut BUMMA yang telah didirikan AMAN tersebar di seluruh Nusantara, salah satunya Gerai Nusantara (GENUS) Coffee & Boutique sebagai rumah bagi produk dan pengetahuan Masyarakat Adat.

Visi GENUS adalah menjadi rumah bagi produk dan pengetahuan Masyarakat Adat dengan mengusung misi promosi dan pemasaran yang berkelanjutan, pemberdayaan ekonomi Masyarakat Adat, pelestarian budaya dan lingkungan, inklusivitas dan keberagaman.

Sebagai rumah bagi produk dan pengetahuan Masyarakat Adat, GENUS menghadirkan pilihan produk unggulan yang telah dikurasi secara cermat, mulai dari kain tenun tangan, keranjang tradisional, kopi, dan gula aren, hingga produk-produk inovatif yang dirancang dengan sentuhan etnik.

Rukka menyatakan salah satu tantangan yang dihadapi kini adalah manajemen bisnis berupa literasi keuangan, akses pasar dan akses keuangan.

”AMAN akan terus berupaya untuk meningkatkan kualitas GENUS agar dapat bersaing di pasar lokal maupun Internasional untuk mewujudkan kemandirian ekonomi bagi Masyarakat Adat di Nusantara,” pungkasnya.

***

Penulis adalah Direktur Perluasan Partisipasi Publik Masyarakat Adat PB AMAN (Delegasi AMAN di LCAW 2026)

Writer : Abdi Akbar | Direktur Perluasan Partisipasi Publik Masyarakat Adat PB AMAN (Delegasi AMAN di LCAW 2026)
Tag : Sekjen AMAN Forum Khusus GATC London Kedaulatan dan Kemandirian Ekonomi Masyarakat Adat