AMAN Salurkan Bantuan Untuk Korban Kebakaran di Kasepuhan Ciptamulya
29 Juli 2026 Berita Dika SetiawanOleh Dika Setiawan
Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) menyalurkan bantuan untuk Masyarakat Adat yang menjadi korban kebakaran di Kasepuhan Ciptamulya, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat pada Selasa, 28 Juli 2026.
Bantuan kemanusiaan emergency respone dari Pengurus Besar AMAN ini diserahkan langsung oleh Ketua AMAN Banten Kidul Jajang Kurniawan kepada para korban kebakaran sebagai bentuk solidaritas Masyarakat Adat.
Jajang mengatakan dirinya sebagai kepanjangan tangan dari PB AMAN diamanatkan untuk menyerahkan bantuan kemanusiaan ini kepada Masyarakat Adat Kasepuhan Ciptamulya yang sedang mengalami musibah setelah rumah mereka kebakaran pekan lalu. Penyerahan bantuan dalam bentuk uang tunai ini turut disaksikan Ketua Dewan AMAN Daerah Banten Kidul H. Sukanta.
”Bantuan ini merupakan bentuk solidaritas Masyarakat Adat. AMAN sebagai representasi Masyarakat Adat di Nusantara mengedepankan senasib sepenanggungan. Jika saudaranya berduka, semuanya ikut merasakan,” kata Jajang usai menyerahkan bantuan kepada Ketua Adat Kasepuhan Ciptamulya.
Jajang menyatakan kehadiran mereka bukan sekedar membawa bantuan tapi lebih dari itu membawa dukungan kepada saudara-saudara kita yang sedang diuji. Disebutnya, urusan kemanusiaan lebih besar nilainya daripada materi.
Karena itu, imbuhnya, sebagai sesama Masyarakat Adat sudah selayaknya kita saling membantu. Bantuan yang disalurkan diharapkan bisa membantu meringankan beban para korban kebakaran di Kasepuhan Ciptamulya.
”Semoga Kasepuhan Ciptamulya bisa cepat pulih dari keterpurukan atas bencana yang telah dialaminya,” ujarnya.
Ketua Adat Kasepuhan Ciptamulya Abah E. Suhendri Wijaya menyampaikan ucapan terima kasih atas kepedulian dari seluruh Masyarakat Adat yang telah menyalurkan bantuannya melalui AMAN. Pria yang akrab dipanggil Abah JP ini menyatakan bencana tidak ada yang tahu kapan datang dan bentuknya seperti apa. Saat ini, katanya, Masyarakat Adat Kasepuhan Ciptamulya tengah dihadapkan dengan bencana kebakaran dahsyat yang meratakan pemukim di Kasepuhan Ciptamulya.
Menurutnya, dukungan dari AMAN ini menjadi kekuatan untuk Masyarakat Adat di Kasepuhan Ciptamulya yang saat ini sedang mengalami keterpurukan agar bisa bangkit kembali.
"Saya ucapkan terima kasih atas kepedulian AMAN, terkhusus Ibu Sekjen Rukka Sombolinggi dan kepada semua Masyarakat Adat. Kepedulian ini sebagai bentuk penegasan bahwa kami tidak sendirian menghadapi duka ini,” katanya dengan nada lirih.

Sejumlah Masyarakat Adat sedang mengumpulkan sisa padi dari lumbung yang luput terbakar pada Sabtu, 25 Juli 2026. Dokumentasi AMAN
Mengevakuasi Sisa Padi Pasca Kebakaran
Sementara itu, dua hari pasca bencana kebakaran melanda pemukiman Kasepuhan Ciptamulya, Masyarakat Adat sekitarnya turut membantu mengevakuasi sisa-sisa padi dari kebakaran pada Minggu, 26 Juli 2026.
Cadangan pangan milik Masyarakat Adat Kasepuhan Ciptamulya yang tersimpan di leuit atau lumbung padi menjadi lalapan api saat bencana kebakaran terjadi pada Sabtu, 25 Juli 2026. Sekitar 49 unit lumbung padi ikut terbakar. Beberapa lumbung padi sisanya ada yang selamat tidak terbakar.
Deni Primansyah, salah seorang korban kebakaran yang juga Ketua Kelompok Pengrajin Ngabala Kasepuhan Ciptamulya mengatakan rumah mereka habis terbakar tapi masih banyak padi yang tidak habis terbakar sehingga harus diamankan. Deni menambahkan mereka mengamankan padi bukan karena padi ini sakral, tapi kebetulan hanya padi yang bisa diselamatkan dari musibah kebakaran ini.
Deni mengungkap banyak cadangan pangan Masyarakat Adat Kasepuhan Ciptamulya yang disimpan di lumbung padi. Disebutnya, dalam 1 unit lumbung padi terdapat ribuan pocong atau ikat padi yang tersimpan didalamnya.
”Secara hitungan kasar jika dinilai secara angka, kerugian ini cukup besar. Nilainya cukup fantastis,” terangnya.
Deni merinci jika 1 lumbung ada 2000 ikat padi dengan rata-rata bobot per-ikatnya 3 kilogram dikali 49 unit lumbung, maka angka kerugian pangan mereka sekitar 294 ton akibat kebakaran.
Saat ini, sebutnya, harga padi dikisaran Rp 25.000 sampai Rp 30.000 per kilo. Apabila di ratakan harga per-ikatnya diangka Rp 25.000 maka total kerugian pangan yang dialami Masyarakat Adat Kasepuhan Ciptamulya mencapai Rp. 2.450.000.000. Sementara, dalam satu lumbung ada yang lebih dari 2000 ikat, bahkan ada yang sampai 4000 ikat.
”Bisa dibayangkan berapa nilai kerugian kami, nilanya sangat fantastis,” ungkapnya.
Jaro Ruhandi, salah seorang relawan dari Rendangan Kasepuhan Gelar Alam yang turut membantu mengevakuasi padi milik Masyarakat Adat Kasepuhan Ciptamulya menyatakan ikut prihatin atas musibah yang dialami para korban kebakaran. Padi yang berceceran dan bau gosong akibat terpanggang api membuat dirinya terenyuh. Padi hasil keringat Masyarakat Adat Kasepuhan Ciptamulya yang disimpan untuk cadangan makanan ikut terbakar.
"Semoga peristiwa ini tidak terjadi lagi, saya ikut merasakan kesedihan yang dialami Masyarakat Adat Kasepuhan Ciptamulya. Semuanya habis terbakar, kecuali hanya tersisa padi sedikit,” katanya.
***
Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Banten Kidul