Oleh Arnol Prima Burara

Wilayah adat Pangala' di Tongkonan To' Batatta, Kampung Kalimbuang, Kecamatan Kapala Pitu, Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan ditunjuk menjadi salah satu lokasi pelaksanaan sarasehan di Kongres Masyarakat Adat Nusantara (KMAN) VII pada Maret 2027 mendatang.

Penunjukan ini merupakan kehormatan bagi Masyarakat Adat Pangala', sekaligus kebanggaan karena dapat menjadikan momentum KMAN VII untuk memperkenalkan kekayaan budaya, sejarah, serta potensi alam  kepada Masyarakat Adat yang datang dari berbagai penjuru Nusantara.

Esni Pakendek, salah seorang keluarga dari rumpun Tongkonan To' Batatta menyambut baik penunjukan tongkonan mereka sebagai lokasi pelaksanaan sarasehan. Baginya, kepercayaan tersebut merupakan kehormatan sekaligus kesempatan untuk memperkenalkan nilai-nilai budaya Toraja kepada para peserta KMAN VII.

"Kami sangat bersyukur dan menyambut baik Tongkonan To' Batatta dipercaya menjadi lokasi sarasehan KMAN VII,” katanya dengan wajah sumringah pada Kamis, 30 Juli 2026.

Esni mengatakan sebagai warga Kalimbuang, khususnya keluarga besar Tongkonan To' Batatta, mereka akan menyiapkan berbagai kebutuhan dasar peserta KMAN VII yang akan hadir di sarasehan nanti. Kebutuhan dasar tersebut meliputi penyediaan air bersih, fasilitas MCK, tempat menginap, serta kebutuhan lain yang diperlukan selama kegiatan berlangsung.

“Kami berharap peserta KMAN VII nanti bisa tinggal dengan nyaman selama berada di wilayah adat Pangala’,” kata Esni.

Ketua Masyarakat Adat Pangala' Paul Rassi Pongbulaan mengatakan masyarakat telah berkomitmen akan mempersiapkan acara sarasehan nanti secara maksimal. Paul Rassi menyatakan sebagai tuan rumah sarasehan, mereka terus berkoordinasi dengan Pengurus Harian Daerah AMAN Toraya, panitia KMAN VII serta pemerintah setempat agar seluruh kebutuhan pelaksanaan kegiatan dapat terpenuhi dengan baik.

”Kami akan melakukan yang terbaik untuk peserta KMAN VII, kiranya pelaksanaan sarasehan di tempat kami nanti berjalan lancar,” ujarnya.

Paul Rassi mengakui pada saat kombongan atau rapat adat beberapa waktu lalu, mereka mengusulkan agar wilayah adat Pangala’ bisa menjadi lokasi pelaksanaan sarasehan. Usulan tersebut diterima, lalu diputuskan Pangala' menjadi salah satu tuan rumah sarasehan KMAN VII.

”Kami mulai melakukan berbagai persiapan setelah dipercaya menjadi tuan rumah sarasehan. Semoga pelaksanaan sarasehan nanti berjalan lancar dan memberikan manfaat bagi Masyarakat Adat peserta KMAN VII, juga bagi Masyarakat Adat Pangala' secara umum," ungkap Paul Rassi.

Disebutnya, pengurus Masyarakat Adat Pangala' telah mensosialisasikan pelaksanaan sarasehan ini kepada warga sekitar. Sosialisasi tersebut bertujuan membangun pemahaman bersama mengenai pentingnya kegiatan ini, sekaligus mengajak seluruh Masyarakat Adat berpartisipasi dalam menyukseskan sarasehan KMAN VII di wilayah adat Pangala’.

Para tokoh Masyarakat Adat Pangala' siap menyukseskan sarasehan di KMAN VII. Dokumentasi AMAN

Paduan Nilai Budaya dan Keindahan Alam

Wilayah adat Pangala' dapat ditempuh dari Kota Rantepao dalam waktu sekitar 45 menit. Wilayah ini dikenal sebagai salah satu sentra penghasil kopi arabika berkualitas di Toraja. Selain itu, wilayah adat Pangala’ juga memiliki panorama alam pegunungan yang sejuk serta bentang alam yang masih asri. Kekayaan alam ini menjadikan wilayah adat Pangala' sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Toraja Utara.

"Pangala'" sendiri memiliki makna yang erat kaitannya dengan sejarah perjalanan leluhur Masyarakat Adat setempat. Berdasarkan cerita leluhur, nenek moyang Masyarakat Adat Pangala' berasal dari wilayah Kesu' dan Tikala. Dalam perjalanan mencari tempat bermukim, mereka menemukan sebuah lembah datar yang dikelilingi hutan lebat di kawasan pegunungan. Tempat itu kemudian dinamai "Pangala'", yang berarti hutan, sebagai penanda hubungan erat antara masyarakat dengan alam yang menjadi sumber kehidupan mereka sejak dahulu.

Lebih dari sekadar menjadi tempat penyelenggaraan sarasehan, wilayah adat Pangala' menawarkan pengalaman yang mempertemukan nilai budaya dengan keindahan alam. Berada pada kawasan dataran tinggi dengan suhu berkisar antara 18 hingga 20 derajat celsius, wilayah adat ini dilapisi udara yang sejuk dan panorama pegunungan yang memikat. Wilayah adat ini kerap dijuluki sebagai "negeri di atas awan".

Masyarakat Adat Pangala' tetap menjaga kelestarian hutan adat, lahan pertanian, serta tradisi budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Hal ini menjadi kekuatan utama yang menjadikan Pangala' tidak hanya layak sebagai lokasi sarasehan, tetapi juga sebagai ruang belajar tentang bagaimana Masyarakat Adat mempertahankan identitas, mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan, dan menjaga harmoni antara manusia, budaya, dan alam.(apg)

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Tana Toraja, Sulawesi Selatan

Writer : Arnol Prima Burara | Tana Toraja, Sulawesi Selatan
Tag : Toraja KMAN VII Wilayah Adat Pangala' Siap Menjadi Tuan Rumah