Oleh Anagreth Rosalia Eluay

Masyarakat Adat Kampung Sereh, Kabupaten Jayapura, Papua bersama lembaga adat dan sejumlah komunitas lainnya melakukan aksi penanaman 150 pohon sagu di lokasi Yeuw Sereh.

Penanaman pohon sagu yang didukung WWF Indonesia ini menjadi bagian dari upaya Masyarakat Adat menjaga keberlangsungan sagu sebagai sumber pangan lokal sekaligus memperkuat kedaulatan pangan berbasis kearifan lokal Papua.

Sebelum penanaman sagu, Masyarakat Adat terlebih dahulu melaksanakan ritual doa dengan menggunakan bahasa Sentani. Ritual tersebut menjadi bagian dari penghormatan terhadap adat dan leluhur, sekaligus memohon agar pohon-pohon sagu yang ditanam dapat dijaga dan tumbuh dengan baik.

Ketua Pelaksana Harian AMAN Daerah Jayapura Benhur Wally mengatakan penanaman sagu merupakan salah satu bentuk nyata Masyarakat Adat dalam menjaga sumber kehidupan bagi generasi mendatang. Disebutnya, sagu dan umbi-umbian merupakan bagian penting dari pangan dan kebudayaan Masyarakat Adat Papua. Karenanya, program pembangunan seharusnya dapat disesuaikan dengan kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.

”Kami minta pemerintah mengedepankan penanaman pohon sagu dibanding program cetak sawah. Ini penting karena makanan pokok kita di Papua adalah sagu dan umbi-umbian,” kata  Benhur disela aksi penanaman 150 pohon sagu di lokasi Yeuw Sereh pada Sabtu, 15 Agustus 2026.

Aksi penanaman pohon sagu yang diikuti puluhan orang ini disertai penyampaian aspirasi masyarakat terkait Program Strategis Nasional (PSN), khususnya program cetak sawah. Masyarakat Adat Papua menilai kebijakan pembangunan PSN cetak sawah tersebut perlu mempertimbangkan kondisi ekologis, budaya, serta kebutuhan Masyarakat Adat Papua.

Benhur berharap pemerintah tidak hanya menerapkan program pangan secara seragam, tetapi juga mencari pendekatan pembangunan yang sesuai dengan kebutuhan Masyarakat Adat dan karakter wilayah Papua.

Ia menegaskan aksi penanaman pohon sagu merupakan bentuk pesan dari Masyarakat Adat bahwa lahan di Papua tidak dapat begitu saja dipandang sebagai tanah kosong yang dapat dialihkan untuk berbagai program pembangunan.

“Tanah yang ada di Papua merupakan milik Masyarakat Adat yang harus dikelola dengan kebersamaan. Perencanaan pembangunan kampung ke depan juga harus dibicarakan melalui musyawarah adat,” katanya.

Untuk Anak Cucu

Kepala Suku Assa di kampung Sereh, Larry Assa menyatakan dukungannya terhadap kegiatan penanaman sagu yang dilakukan bersama AMAN, pemerintah kampung dan WWF Indonesia. Ia berharap kegiatan penanaman sagu tidak berhenti sekali ini, tetapi dapat dilanjutkan secara berkelanjutan di kemudian hari.

“Kalau bisa, ke depannya setiap suku di kampung Sereh mempunyai lahan yang disiapkan untuk penanaman sagu dan tanaman lainnya demi anak cucu kita di masa depan,” kata Larry.

Ketua AMAN Jayapura Benhur Wally (tengah, kaos biru) photo bersama dengan Masyarakat Adat disela kegiatan penanaman pohon sagu di kampung Sereh, Kabupaten Jayapura Papua pada 15 Agustus 2026. Dokumentasi AMAN

Kampung Sereh Menjadi Model

Bernadus Ronald J. Tethool selaku Program Manager Jayapura-Sarmi Landscape Yayasan WWF Indonesia Program Papua, mengapresiasi inisiatif masyarakat kampung Sereh yang terus mendorong penanaman sagu dan penguatan pangan lokal. Menurutnya, upaya tersebut penting karena kampung Sereh berada di kawasan perkotaan dan sekitar pegunungan Cycloop dengan jumlah penduduk yang cukup besar.

“Ini harus terus dilakukan sehingga kampung Sereh dapat menjadi model bagi kampung-kampung lain di sekitarnya,” ujar Bernadus.

WWF Indonesia, katanya, siap terus berkolaborasi dengan Masyarakat Adat, khususnya dalam aspek teknis penanaman, pemantauan, dan pengawasan.

Bernadus menambahkan kerjasama WWF dengan masyarakat kampung Sereh melalui Sanggar Seni Robonghollo dalam pengembangan dan penanaman sagu telah berlangsung cukup lama, terutama melalui upaya menjaga Dusun Sagu Ebha Hekhe.

“Upaya penanaman sagu ini tidak hanya ada di Dusun Sagu Ebha Hekhe, tetapi sekarang harus berkembang ke kampung Sereh secara utuh,” katanya sembari menambahkan aksi penanaman 150 pohon sagu ini menjadi pesan kuat bagi Masyarakat Adat kampung Sereh bahwa menjaga sagu bukan sekadar menanam pohon, melainkan merawat pangan, budaya, tanah, dan kehidupan untuk generasi yang akan datang. (apg)

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Jayapura, Papua

Writer : Anagreth Rosalia Eluay | Jayapura, Papua
Tag : Masyarakat Adat Papua Kampung Sereh Menanam 150 Pohon Sagu Memperkuat Kedaualatan Pangan