Oleh Indah Pratiwi

Banyuwangi- Nuansa malam yang disinari terangnya padang bulan di sebuah tempat sanggar pamujan yang menjadi tempat ritual adat Seblang Bakungan dilaksanakan. Malam yang kian beranjak larut justru memiliki kekuatan magis yang melekat di sekitaran panggung ritual adat. Kerumunan orang dengan antusias berjalan bersamaan menuju sanggar pamujan. Ratusan pasang mata yang memiliki tujuan yang sama pada seorang perempuan tua yang duduk dengan mata terpejam didampingi beberapa orang dengan perannya masing-masing. Di bawah terangnya bulan dan sorot lampu, malam ini perempuan pelaku Seblang bersiap untuk menjadi pemeran utama dalam ritual bersih desa Seblang Bakungan.

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, malam ini tempat dilaksanakannya ritual adat dipenuhi oleh masyarakat yang hadir untuk menyaksikan bersama ritual adat Seblang Bakungan. Mereka yang hadir itu tidak hanya masyarakat lokal, namun juga para wisatawan negeri maupun luar negeri. Banyak di antara mereka juga turut mengikuti prosesi ritual adat dari awal hingga akhir.

Proses awal yakni persiapan sanggar pamujan yang dilakukan mulai 1 hari sebelum hari pelaksanaan ritual. Sanggar pamujan diisi beberapa perlengkapan yang terdiri dari prapen kemenyan, keris, toyo arum, tumpeng kecil lima warna yakni (putih, kuning, merah, hijau, dan hitam), sesaji peras, wanci kinanganbantal keloso, boneka, kelapa gading, singkal (bajak sawah), kiling (baling-baling), payung, kembang darmo,hiasan janur, dan hasil panen seperti padi, umbi-umbian, dan buah-buahan.

Kemudian keesokan harinya di pagi hari di setiap rumah akan menyiapkan masakan untuk hidangan selamatan. Biasanya hidangan utama yang disajikan yakni tumpeng pecel pithik, yang kemudian nanti akan dimakan pada malam hari secara bersamaan satu desa yang dipimpin oleh tokoh agama untuk memandu doa sebelum hidangan dimakan bersama.

Prosesi yang dilakukan kemudian pada sore hari setelah Ashar, para pelaku ritual adat Seblang akan melakukan ziarah ke makam-makam leluhur dan sumber mata air. Lalu setelah Magrib akan dilaksanakan oncor-oncoran ider bumi, yakni membawa obor keliling penjuru kampung sambil membaca istighfar. Kemudian penari Seblang akan bersiap untuk dirias sebelum memasuki waktu Isya’.

Warga sedang menyiapkan pecel pithik di rumahnya masing-masing. Mereka membakar ayam yang sudah dibersihkan sebelumnya dan ditusuk menggunakan bambu lalu dibakar diatas tungku atau sejenisnya.

“Malam nanti pecel pithik yang disiapkan untuk selamatan akan disajikan bersama dengan nasi tumpeng. Ini ada 7 ayam yang dibakar. Setiap tahun saya selalu menyiapkan hidangan seperti ini,” ucap Helda.

Bagi Helda sajian makanan ini tidak hanya dimakan untuk dirinya sendiri dan keluarga. Namun juga para pengunjung yang melewati depan rumahnya akan ditawari untuk makan bersama. Ini menjadi satu penyambung silaturahmi. Karena baginya dengan berbagi makanan, maka akan mendapatkan keberkahan.

Warga sedang memanggang ayam untuk menu hidangan pecel pithik. (Indah Pratiwi)

Di waktu yang bersamaan, di rumah Rehana sang pembuat kembang dermo. Juga banyak didatangi sanak saudara untuk membantu merangkai kembang dermo yang nantinya akan digunakan untuk keperluan Seblang dan juga untuk dijual. Tugas membuat kembang dermo sebelumnya juga dilakukan oleh almarhum ibunya Rehana. Pengetahuan itu secara turun temurun dari orang tua mereka yang kemudian diajarkannya pada anak cucunya.

“Kami biasanya mencari bunga ini sejak kemarin sore. Namun ada bunga yang hanya bisa diambil pada pagi hari, karena takut layu. Bunga yang dikumpulkan antara lain bunga kamboja, bunga sepatu, dan bunga kenanga,” jelas Rehana.

Bunga-bunga yang dirangkai itu biasanya didapat dari tanaman warga sekitar dan juga ada yang beli. Beliau juga membagikan pengalamannya dan mengajak anaknya untuk merangkai kembang dermo. Itu juga yang dilakukan orang tuanya dahulu kepadanya.

 Kembang dermo yang telah selesai dirangkai. (Indah Pratiwi)

Sementara itu, di sanggar tempat ritual adat Seblang para pelaku-pelaku ritual bersiap untuk nyekar ke makam-makam leluhur dan ke sumber mata air untuk berdoa dan melaksanakan selamatan. Beberapa perlengkapan juga turut dibawa antara lain bunga, jajanan porobungkil/pala pendem, dan pecel pitihik.

Para pelaku Seblang akan berangkat menuju makam leluhur dan sumber mata air. (Indah Pratiwi)

Doa bersama dilakukan di makam-makam leluhur yang dipimpin oleh tokoh agama. Kemudian penari Seblang menaburkan bunga d iatas makam. Dilanjutkan dengan selamatan makan tumpeng pecel pithik. Setelah itu rombongan melanjutkan perjalanan menuju sumber mata air Penawar untuk melakukan doa bersama, selamatan, dan mengambil air yang nantinya akan dimasukkan ke dalam gentong dan akan dibawa ke tempat dilaksanakannya Seblang.

Ketika selesai sholat Magrib, di depan masjid telah berkumpul anak-anak kecil hingga remaja yang membawa obor bersiap ider bumi. Dipimpin oleh tokoh agama ider bumi dilaksanakan. Diawali dengan mengumandangkan adzan kemudian iring-iringan berjalan menuju penjuru-penjuru kampung. Tidak sedikit pula masyarakat luar juga turut serta.

Hidangan tumpeng pecel pithik sudah siap di depan rumah warga. Mereka sedari sore sudah membentangkan tikar disepanjang jalan dan mulai menata makanan.

Hingga setelah iring-iringan ider bumi tiba kembali ke masjid, kemudian salah satu tokoh agama memimpin doa. Dilanjutkan dengan makan bersama di depan rumah warga masing-masing.

Disela-sela para warga melakukan makan bersama, Ika sang perias Seblang dengan membawa tas berwarna biru mulai memasuki rumah tempat Seblang akan dirias dan akan dilakukan proses memasukkan ruh leluhur kepada tubuh penari Seblang.

“Semua kelengkapan rias sudah saya siapkan kemarin malam. Mulai dari omprog, baju, sewek, selendang, kerincing, dan perlengkapan lainnya”, ucap Ika perias Seblang.

Dengan lembut Ika memulai memoles wajah penari Seblang dengan bedak dan pewarna bibir. Kemudian dipakaikan juga baju kemben lengkap dengan sabuknya, sarung bermotif kotak dengan warna hitam dan biru tua, selendang berwarna merah dengan hiasan warna kuning emas di ujungnya, dan kerincing yang dipasang di kaki. Kemudian tahap akhir yakni penggunaan mahkota di kepala yang sering disebut dengan omprog yang berbahan kain kafan yang dipotong-potong menyerupai rambut, dan hiasan kembang dermo.

Ika juga menjelaskan jika dirinya sudah 15 tahun menjadi perias Seblang. Sebelumnya yang menjadi perias adalah ibunya. Ada perasaan senang dan juga takut saat awal kali merias Seblang. Namun saat ini perasaan takut itu sudah menghilang. Dirinya merasa sekarang ini sudah menyatu pada nyawa Seblang. “Menjadi perias Seblang ini merupakan pengalaman yang menyenangkan untuk saya. Dan menjadi kewajiban sebagai warga di Bakungan untuk mempertahankan nilai adat,” jelas Ika.

 Pakaian Seblang dan omprog. (Indah Pratiwi)

Dalam Tubuh Perempuan, Menyimpan Nilai Kesakralan

Sang penari Seblang Bakungan, bernama Isni usia 54 tahun merupakan seblang dengan garis keturunan Buyut Kento. Seblang Bakungan dibawakan oleh perempuan yang sudah menopause. Dalam penunjukannya tidak dilakukan secara sembarangan. Ada ritual yang dilakukan oleh para pawang dan ketua adat melalui mediasi dengan leluhur dan melalui garis keturunan.

Saat ditemui di rumahnya, beliau sedang duduk bersama dengan anak-anaknya, beberapa keluarga yang datang dan juga para peneliti dari akademisi bahkan mancanegara juga berkunjung kerumah penari Seblang.

“Saat akan dimulai acara ini, anak saya dan keluarga selalu berkumpul di rumah. Nanti pada saat akan dimulai ritual saya pasrahkan tubuh ini menjadi perantara ritual bersih desa agar masyarakat diberi keselamatan dan kemakmuran,” ucap Isni.

Seblang Isni sedang menceritakan Ritual Seblang Bakungan. (Indah Pratiwi)

Saat malam tiba, tubuh penari seblang selama berjam-jam akan berada dalam kondisi tidak sadarkan diri (trance). Perempuan ini akan menari diiringi gending dengan gamelan Jawa (bonang) diikuti dengan gerakan tangan dan tubuhnya yang berbeda setiap ritmenya. Diawali gendhing Seblang Lakento, tubuh penari sedikit membungkuk dan mulai mengayunkan tangannya dari depan ke belakang.

Seakan melakukan adegan perang, Seblang memegang keris di kedua tangannya menggerakkannya berlawanan arah secara cepat. Pada gendhing terakhir yakni erang-erang yang digambarkan sebagai pertarungan atau peperangan dari hal-hal yang tidak baik yang akan menimpa desa, seperti hama, penyakit, dan gangguan lainnya. Gendhing erang-erang telah usai, pawang menyadarkan kembali penari Seblang. Dan antusias seluruh masyarakat yang menyaksikan ditutup dengan berebut hasil panen yang diletakkan di sanggar. Masyarakat mempercayai itu sebagai sebuah keberkahan.

Dalam ritual adat Seblang Bakungan, perempuan adat berperan penting dalam menyiapkan kebutuhan acara dan menjadi sentral pelaku pelestari adat tradisi. Mereka telah menyiapkan beberapa hari sebelum ritual dimulai, seperti mencari hasil-hasil pertanian, menyiapkan bahan untuk membuat makanan ritual, menyiapkan sesaji-sesaji, dan lainnya.

“Jika ada ritual adat di Bakungan ini, seluruh masyarakat memiliki antusias yang tinggi. Karena ini sebuah warisan yang harus terus dijaga,” ujar Suparmi.

Suparmi merupakan perempuan adat yang tinggal di Bakungan juga menjelaskan bahwa peran perempuan juga tidak kalah penting dengan laki-laki. Perempuan juga dilibatkan dalam setiap pengambilan keputusan dan musyawarah adat. Ada pembagian kerja-kerja antara perempuan dan laki-laki dalam menjalankan persiapan ritual adat bahkan saat pelaksanaan.

“Mulai dari anak muda hingga orang tua guyub rukun membantu setiap prosesnya. Ini juga menjadi bagian transfer pengetahuan kepada generasi penerus, supaya tidak meninggalkan adat tradisi yang ada di Bakungan. Jika tidak kita siapa lagi yang akan menjaganya,” pungkas Suparmi. 

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Osing Banyuwangi

Writer : Indah Pratiwi | Osing, Banyuwangi
Tag : Osing Banyuwangi Perempuan Penjaga Kesakralan Ritual Adat Seblang Bakungan