Oleh Sri Tiawati

Kabut asap dari kebakaran hutan dan ladang (karhutla) yang menyelimuti sejumlah wilayah di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara telah mengganggu aktivitas Masyarakat Adat yang menyebabkan perekonomian mereka ikut terpukul, bahkan mengancam kesehatan warga yang terdampak.

Masyarakat Adat mendesak pemerintah segera mengatasi kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Utara, sembari mencari solusi yang tidak sekadar melarang orang untuk membakar agar permasalahan ini tidak terulang ke depannya. 

Martinus, salah seorang Masyarakat Adat dari Desa Pura Sajau, mengatakan kondisi asap yang semakin tebal membuat masyarakat harus lebih berhati-hati saat menjalankan aktivitas di luar rumah. Pagi hingga siang hari, jarak pandang hanya sekitar 50 meter.

Martinus menambahkan dengan kondisi asap tebal seperti ini, sulit bagi masyarakat untuk beraktivitas, terutama bagi anak-anak yang setiap pagi harus berangkat ke sekolah. Disebutnya, asap karhutla telah melumpuhkan aktivitas masyarakat di Bulungan.

”Masyarakat Adat yang bekerja di ladang terganggu, aktivitas sekolah terganggu, semuanya terganggu akibat kabut asap karhutla ini,” kata Martinus pada Sabtu, 26 September 2026.

Martinus mengakui persoalan karhutla menjadi semakin berat ketika kemarau berlangsung panjang. Tanah menjadi kering dan bahkan mengalami retakan. Ia menilai pembakaran lahan dalam kondisi seperti itu justru berisiko, terutama ketika api sulit dikendalikan dan dapat merembet ke wilayah lain.

Di tengah kondisi seperti ini, Masyarakat Adat Bulungan melakukan gotong royong untuk membantu petugas memadamkan api, termasuk membantu wilayah desa tetangga yang terdampak karhutla.

Namun, upaya memadamkan kebakaran karhutla bukan tanpa risiko. Martinus menyebut ada relawan pemadam kebakaran yang meninggal dunia karena tidak kuat menghadapi kondisi asap.

”Sudah ada yang meninggal,” katanya dengan nada lirih.

Mengancam Kehidupan 

Kebakaran hutan dan ladang yang terjadi dalam bebereapa bulan ini telah memukul perekonomian Masyarakat Adat. Sebab, mereka tidak bisa pergi berladang. Ladang bukan hanya tempat bercocok tanam bagi Masyarakat Adat, tetapi menjadi bagian penting dari sumber pangan dan kehidupan sehari-hari.

Apriani, warga Desa Metun Sajau, Kecamatan Tanjung Palas Timur mengatakan asap yang semakin tebal telah mengganggu aktivitas Masyarakat Adat. Bahkan, tidak sedikit yang jatuh sakit.

“Sesak, mata kita perih gara-gara asap ini,” katanya, Sabtu (26/9/2026).

Apriani mengkritik cara pemerintah mengatasi kebakaran hutan dan lahan yang setiap tahun terjadi di tempat mereka. Menurutnya, masyarakat membutuhkan solusi ketika pemerintah melakukan pembatasan atau pelarangan terhadap pembakaran lahan.

“Kalau pemerintah mau menghentikan kebakaran hutan dan lahan, harusnya memberikan solusi. Tidak sekadar melarang membakar lahan,” ujarnya.

Ia menjelaskan selama ini Masyarakat Adat Dayak memiliki pola pertanian yang berbeda dengan pertanian sawah. Sebagian dari mereka masih menanam padi gunung di kawasan ladang. Karena itu, kebijakan terkait pembukaan dan pengelolaan lahan perlu mempertimbangkan kondisi serta pola hidup Masyarakat Adat setempat.

“Kami orang Dayak ini tidak atau belum pernah tanam sawah. Kami tanam padi gunung,” katanya.

Butuh Kerjasama

Karhutla yang terjadi saat ini tidak hanya bicara soal api dan asap. Dibaliknya terdapat persoalan kesehatan, pendidikan anak, keselamatan relawan, hingga keberlangsungan sumber pangan masyarakat.

Bagi Masyarakat Adat, sebut Apriani, penanganan karhutla membutuhkan kerjasama. Masyarakat perlu menjaga lahan agar tidak terjadi kebakaran, sementara pemerintah diharapkan menghadirkan pendampingan dan solusi yang sesuai dengan kehidupan masyarakat, terutama yang masih bergantung pada ladang.

”Sebab, ketika asap semakin pekat, yang dipertaruhkan bukan hanya hutan dan lahan, tetapi juga kesehatan, keselamatan, dan kehidupan masyarakat yang berada di sekitarnya,” tandasnya.

Pengurus AMAN Sekatak sedang membagikan masker kepada Masyarakat Adat di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Dokumentasi AMAN

AMAN Salurkan Bantuan Masker dan Vitamin

Seiring meningkatnya kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, pengurus Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Sekatak bersama relawan turun langsung memberikan dukungan kepada Masyarakat Adat yang terdampak kabut asap.

AMAN menyalurkan bantuan masker dan vitamin untuk tiga komunitas Masyarakat Adat di Bulungan yakni komunitas Kenyah Bakung di Desa Binai, komunitas Kenyah Uma Lekan di Desa Pura Sajau dan komunitas Kenyah Bakung di Desa Metun Sajau, Kecamatan Tanjung Palas Timur. Bantuan tersebut diberikan secara langsung kepada Masyarakat Adat. 

”Masker diharapkan dapat membantu warga mengurangi paparan asap ketika harus beraktivitas di luar rumah, sementara vitamin diberikan sebagai bentuk dukungan untuk menjaga kondisi tubuh masyarakat,” kata Egih, salah seorang pengurus AMAN Sekatak yang ikut mendistribusikan bantuan ke Masyarakat Adat pada 25-27 September 2026.

Disebutnya, kehadiran AMAN bersama relawan menjadi bentuk kepedulian terhadap Masyarakat Adat yang berada di wilayah terdampak. 

”Bantuan yang diberikan tergolong sederhana, namun memiliki arti penting bagi warga yang sedang menghadapi kondisi udara tidak sehat,” pungkasnya. (apg)

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Kalimantan Utara

Writer : Sri Tiawati | Kalimantan Utara
Tag : AMAN Kalimantan Utara Asap Karhutla Mengganggu Aktivitas Masyarakat Adat