Oleh Kromsian Obed

Sebuah pohon kayu berusia 600 tahun menjadi pusat perhatian pengunjung di Festival Akrua, sebuah pesta rakyat yang digelar oleh Suku Namblong di kampung Yenggu, Distrik Nimboran, Kabupaten Jayapura, Papua.

Pohon berukuran besar ini masih berdiri kokoh dan dijaga oleh Masyarakat Adat. Keberadaan Uvie, sebutan lokal Suku Namblong untuk pohon langka ini bukan sekadar menjadi warisan ekologi, tapi menjadi bukti sejarah dan simbol perlawanan terhadap deforestasi di Tanah Papua.

Alex Waisimon selaku inisiator Festival Akrua mengatakan pesta rakyat yang digelar oleh Suku Namblong ini menjadi momentum sakral untuk merekatkan Masyarakat Adat dengan akar sejarah dan kelestarian alam Papua. Apalagi, pagelaran pesta rakyat kali ini  dilaksanakan di sekitar pohon kayu yang sudah berusia enam dekade.

Alex mengatakan melalui Festival Akrua, Suku Namblong ingin mengirim pesan kepada dunia : merawat Uvie bukan sekadar menjaga sebatang pohon, melainkan merawat peradaban, menghormati leluhur, dan mengamankan pasokan oksigen bagi masa depan bumi.

”Pohon Uvie ini usianya sudah 600 tahun. Dibalik usianya yang sudah sangat tua, pohon ini sumber oksigen untuk dunia,” kata Alex disela pelaksanaan Festival Akrua pada 27 September 2026.

Ia menerangkan dulu, masyarakat menjadikan tempat tumbuhnya pohon Uvie ini sebagai pusat pertemuan usai berburu. Bahkan di lokasi ini, jelasnya, selalu dijadikan sebagai titik kumpul manusia masa lampau untuk beristirahat setelah menempuh perjalanan panjang dari wilayah Nawa Wirwai, wilayah pegunungan menuju ke arah pantai atau danau.

”Di sinilah lokasi sentral pertemuan mereka untuk beristirahat sejenak," ungkapnya.

Alex menyatakan di pohon besar ini ada dibangun rumah. Konstruksinya mengadopsi model kuno. Disebutkan, Masyarakat Adat Suku Namblong membangun rumah tradisional di atas pohon raksasa tersebut untuk menghidupkan memori kolektif masa lalu.

Dahulu, katanya, rumah Masyarakat Adat Suku Namblong dibuat berbentuk panggung dengan posisi ketinggian yang sangat diperhitungkan agar dapat memantau pergerakan di sekeliling hutan. Selain menjadi tempat peristirahatan manusia, katanya, kawasan hutan adat ini memuat nilai histori ekologis yang tinggi, di mana satwa endemik seperti burung kasuari dan mabruk sejak dahulu kala melintas di area ini untuk mencari makan.

Alex menjelaskan dalam struktur pemerintahan adat Suku Namblong dan wilayah Grime, Uvie disimbolkan oleh Masyarakat Adat setempat sebagai pusat kekuatan, tempatnya raja, atau pemimpin.

”Pohon ini begitu disakralkan, bahkan dalam mitologi lokal erat dikaitkan dengan tempat bersarangnya burung Garuda yang melegenda,” ujarnya.

Filosofi Pohon Uvie

Masyarakat Adat Suku Namblong punya filosofi sendiri untuk menamai Uvie yaitu lentur, kuat, dan bernilai harta. Uvie diidentifikasi sama dengan wari atau hidup dan harta.

”Uvie itu artinya very hard (sangat keras). Maka, sistem kehidupan dan adat yang kita bangun harus seperti Uvie. Tidak seorang pun yang dapat mematahkannya karena Uvie itu unik, dia bisa jadi lentur, dan dia bisa jadi kuat. Lentur dan kuat adalah simbol Uvie," jelas Alex.

Ia menambahkan karakteristik Uvie tergolong pohon kayu yang sangat lambat pertumbuhannya. Menurutnya, satu keajaiban alam yang tak ternilai harganya pertumbuhan pohon Uvie ini bisa mencapai usia 600 tahun. Disebutnya, orang tua Suku Namblong sejak dahulu telah berpesan bahwa hari esok manusia akan mendapatkan keuntungan dari pohon Uvie ini.

Sebuah bangunan rumah dibuat mengikuti ketinggian pohon ukuran besar yang sudah berusia 600 tahun di kampung Yenggu, Distrik Nimboran, Kabupaten Jayapura, Papua. Dokumentasi AMAN

Fungsi Hutan

Masyarakat Adat Suku Namblong punya prinsip bahwa hutan bukan sekadar hamparan kayu, melainkan ruang perlindungan dari terik matahari, penyedia kesejukan udara, dan napas kehidupan.

"Tanpa hutan, manusia di bumi ini tidak bisa hidup. Kita hidup dan bernapas sekarang itu karena masih ada hutan. Kalau tidak ada hutan, tentu tidak ada suplai oksigen untuk manusia," terangnya.

Menyoal pembangunan rumah di atas pohon Uvie, Alex menyatakan bahwa hal itu didorong sebagai konsep strategis untuk melibatkan masyarakat dalam memelihara pohon kayu langka ini yang ditengarai sebagai salah satu pohon penyuplai oksigen terbesar di dunia.

Melalui skema ini, ujarnya, Masyarakat Adat akan mendapatkan dampak ekonomi langsung (inkam) dari oksigen dan kelestarian alam yang mereka jaga, baik lewat Badan Usaha Milik Masyarakat Adat maupun metode pengelolaan ekowisata mandiri.

Alex mengatakan perjuangan Masyarakat Adat mengembalikan kedaulatan fungsi hutan ini telah melalui proses yang panjang. Di tahun 2014, inisiasi, dedikasi, dan pendampingan konsep pelestarian mulai digerakkan secara konsisten di akar rumput. Enam tahun kemudian, penguatan kapasitas Masyarakat Adat terus dimatangkan di tengah tantangan perubahan pola pikir.

Memasuki 2025 hingga sekarang (2026), pengelolaan kawasan ekowisata hutan adat seutuhnya diserahkan dan dikelola langsung oleh Suku Namblong.

”Sistem keuangan, transfer, hingga pengiriman uang dari wisatawan sekarang sudah langsung masuk ke kas Masyarakat Adat di kampung tanpa perantara,” tutupnya.(apg)

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Jayapura, Papua

Writer : Kromsian Obed | Jayapura, Papua
Tag : Pohon Kayu Berusia 600 Tahun Kampung Yenggu Papua Sumber Oksigen untuk Dunia