Seren Taun: Merawat Tradisi di Tengah Modernisasi
09 October 2026 Elah LestrianiOleh Elah Lestriani
Bunyi lesung bertalu di tengah keramaian Kasepuhan Cisungsang pada September lalu. Suara angklung buhun sesekali terdengar dari arak-arakan yang bergerak melewati kerumunan. Pemandangan tersebut merupakan bagian dari Seren Taun, tradisi tahunan masyarakat adat Kasepuhan Cisungsang, Kabupaten Lebak, Banten yang biasakan diadakan pada setiap pekan terakhir September.
Seren Taun menjadi ungkapan rasa syukur atas hasil panen sekaligus bentuk penghormatan masyarakat terhadap padi yang dianggap sebagai bagian penting dari kehidupan. Rangkaian Seren Taun berlangsung selama kurang lebih satu pekan. Salah satu rangkaian yang menjadi pengantar menuju upacara adat adalah arak-arakan. Dalam prosesi ini, masyarakat membawa hasil pertanian sambil diiringi berbagai kesenian tradisional.
Salah satunya adalah ngarengkong, yaitu membawa padi yang telah dipanen dan diikat menyerupai pocongan. Ikatan padi tersebut kemudian digantung menggunakan tambang pada bambu berukuran besar untuk kemudian dipikul bersama. Gesekan antara tambang dan bambu menghasilkan bunyi khas yang menjadi irama sepanjang arak-arakan.
Arak-arakan kemudian mengantarkan masyarakat menuju rangkaian upacara adat. Setelah itu, berbagai kesenian seperti angklung buhun dan dogdog lojor, jaipongan oleh pemudi kasepuhan, debus, serta kecapi suling turut ditampilkan. Rangkaian dilanjutkan dengan pembacaan rajah oleh juru kawih dan prosesi ngadiukeun pare, yaitu memasukkan padi ke dalam leuit atau lumbung padi.
Dalam prosesi ngadiukeun pare, terdapat peran khusus yang dijalankan oleh Nariah, salah satu perempuan adat Kasepuhan Cisungsang. Ia telah dipercaya menjalankan tugas tersebut selama lebih dari 10 tahun dan penunjukannya dilakukan berdasarkan garis keturunan. “Bagi saya, ini bagian dari adat yang memang harus terus dijalankan dan dijaga supaya tidak hilang tergerus oleh jaman,” ujar Nariah pada September lalu.
Selain ngadiukeun pare, Nariah juga bertugas nyangu, yaitu memasak nasi dari hasil panen di Imah Gede atau rumah adat, serta membuat sisihan, yakni menyisihkan makanan untuk pengiriman doa kepada Tuhan dan leluhur.
Peran perempuan juga terlihat dalam ngarempug, yakni kegiatan menabuh lesung menggunakan alu hingga menghasilkan irama tertentu. Kegiatan tersebut menjadi simbol masih dipertahankannya tradisi menumbuk padi secara tradisional. Sementara dalam arak-arakan, perempuan-perempuan muda turut berjalan dan menjadi bagian dari prosesi bersama masyarakat lainnya.
Keterlibatan tersebut memperlihatkan bahwa Seren Taun tidak hanya dijalankan oleh generasi tua. Tradisi juga diteruskan melalui keterlibatan anak muda dalam berbagai rangkaian, baik dalam arak-arakan maupun pagelaran budaya.

Beberapa orang Masyarakat Adat sedang melaksanakan prosesi ritual Serentaun. Dokumentasi AMAN
Seren Taun ini tidak hanya diikuti oleh masyarakat adat. Masyarakat umum juga dapat menyaksikan rangkaian kegiatan tersebut. Sejumlah mahasiswa turut datang untuk mengenal dan mempelajari kebudayaan yang ada di Kasepuhan Cisungsang. Kegiatan ini juga dihadiri sejumlah pejabat pemerintah sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya Masyarakat Adat.
Indra, salah satu generasi muda yang terlibat dalam Seren Taun, berharap tradisi tersebut terus dijaga oleh generasi berikutnya. “Besar harapan saya untuk anak muda, terutama Gen Z dan Alpha, untuk terus menjaga budaya ini,” katanya.
Bagi masyarakat Kasepuhan Cisungsang, Seren Taun bukan sekadar perayaan hasil panen. Setiap rangkaiannya membawa nilai dan peran yang saling berkaitan, mulai dari arak-arakan, kesenian tradisional, penghormatan terhadap padi, hingga prosesi adat yang diwariskan dari generasi ke generasi. Melalui keterlibatan masyarakat, perempuan, dan generasi muda, Seren Taun terus menjadi bagian dari kehidupan adat Kasepuhan Cisungsang dan menjaga tradisi tetap hidup di tengah perubahan zaman.
***
Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Banten Kidul