Oleh Elah Lestriani

Bagi masyarakat adat Kampung Cikarang Tengah, Kasepuhan Cisungsang, masa panen tidak hanya menjadi waktu untuk menikmati hasil dari sawah. Setelah panen raya selesai, terdapat rangkaian tradisi yang dilakukan sebagai bentuk rasa syukur sekaligus penghormatan terhadap hasil bumi. Salah satunya adalah Nganyaran, ritual adat yang menjadi penanda dimulainya proses mengolah dan menikmati hasil panen padi yang baru.

Ujuk, sebagai Kolot Lembur (ketua adat) di kampung Cikarang Tengah, menjelaskan bahwa padi di kampung ini masih sangat dijunjung tinggi nilainya karena dianggap sebagai sumber kehidupan masyarakat adat.

“Pare (padi) dalam adat bukan hanya hasil panen, tapi bagian penting dari kehidupan masyarakat. Karena itu, ada tata cara khusus untuk mengolah pare baru sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur atas hasil yang diberikan alam.” kata Ujuk pada akhir September lalu.

Dalam pelaksanaannya, padi hasil panen tidak langsung dimasak begitu saja. Ada beberapa tahapan yang dilakukan sebelum padi tersebut akhirnya menjadi nasi dan dapat dikonsumsi.

Rangkaian Nganyaran dimulai dengan mengambil padi dari leuit (lumbung padi). Padi kemudian dibura (disembur) menggunakan panglay yang sudah dibacakan doa oleh pihak laki-laki atau kepala keluarga. Setelah itu, padi dibawa ke lesung untuk ditumbuk hingga menjadi beras yang dilakukan oleh perempuan di keluarga tersebut.

“Pembagian tugas antara laki-laki dan perempuan dalam Nganyaran itu sudah ada sejak dulu dan menjadi bagian dari adat yang diwariskan oleh leluhur. Masing-masing punya peran, tetapi tujuannya sama, yaitu saling melengkapi dan bekerja sama dalam kehidupan berumah tangga,” ujar Ujuk.

Beras yang sudah dihasilkan kemudian disimpan terlebih dahulu sebelum diolah. Lama penyimpanannya biasanya tiga, lima, atau tujuh malam, mengikuti hitungan ganjil yang menjadi bagian dari kebiasaan dalam tradisi Nganyaran. Setelah melalui tahapan tersebut, barulah beras diolah menjadi nasi.

Pada tahap inilah perempuan memiliki peran penting. Perempuan menjadi pihak yang melakukan ngasakeun, yaitu proses memasak atau mengolah padi baru hasil panen hingga menjadi makanan yang siap disantap.

Peran perempuan dalam proses tersebut bukan hanya sebatas pembagian pekerjaan di dalam rumah. Dalam pemahaman masyarakat adat, perempuan memiliki peran untuk mengolah dan menyiapkan makanan bagi keluarga. Karena itu, dalam tradisi Nganyaran, perempuan dipercaya untuk memulai proses memasak padi baru yang untuk pertama kalinya akan dikonsumsi setelah masa panen.

Setelah nasi selesai dimasak, rangkaian Nganyaran kemudian ditutup dengan syukuran. Hasil olahan dari padi baru tidak hanya dinikmati oleh keluarga, tetapi juga dibagikan kepada tetangga dan masyarakat di sekitar.

Leni sebagai masyarakat adat yang masih menjalankan tradisi ini, beranggapan bahwa berbagi makanan dalam Nganyaran menjadi salah satu bentuk rasa syukur atas hasil panen yang telah diperoleh. “Nganyaran tea sok bagi-bagi makanan ka tatangga. Eta teh ciri urang bersyukur, terus babagi silih asaan (Dalam tradisi nganyaran, kita sering berbagi makanan ke tetangga sebagai tanda rasa Syukur kita dan saling merasakan hasil panen),” ujar Leni.

Kebiasaan berbagi tersebut menunjukkan bahwa rasa syukur dalam Nganyaran tidak berhenti pada keluarga yang mendapatkan hasil panen. Makanan yang berasal dari padi baru juga menjadi sarana untuk berbagi dengan orang-orang di sekitar sekaligus menjaga hubungan antarmasyarakat.

Nganyaran tidak sekadar menjadi tradisi untuk mengolah dan menikmati hasil panen baru, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kasepuhan Cisungsang dalam menjaga rasa syukur, kebersamaan, pembagian peran laki-laki dan perempuan, serta kebiasaan berbagi yang diwariskan secara turun-temurun hingga saat ini.

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Banten Kidul