Oleh M.Nurji

Hermina Mawa sedang bersiap hendak berangkat ke gereja saat gempa berkekuatan 7,7 magnitudo mengguncang komunitas adat Rendu di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur pada 15 Agustus 2026. Di dalam rumahnya, ibu rumah tangga berusia 53 tahun itu merasakan guncangan yang kuat.

Hermina panik. Ia pun berlari ke luar rumah, sembari melihat keadaan sekelilingnya. Tak lama setelah Hermina keluar rumah, dilihatnya rumah tetangganya rubuh. Ia langsung berlari untuk menyelamatkan tetangganya yang terjebak di reruntuhan rumah tersebut. Dibantu warga lainnya, seorang pemilik rumah bisa diselamatkan dari reruntuhan dengan kondisi terluka pada bagian kaki kiri.

Hermina masih mengingat peristiwa tragis itu. Belum bisa dilupakannya. Meski selamat dan berhasil menolong tetangganya, Hermina mengaku masih merasa takut hingga saat ini.

”Saya trauma kalau mengingat saat pertama kali diguncang gempa. Apalagi, sampai sekarang masih ada gempa susulan,” kata Hermina saat diwawancarai pada Senin, 24 Agustus 2026.

Setelah gempa, sebutnya, warga Desa Rendu Butowe mengungsi dan tinggal di tenda yang  dibangun atas biaya sendiri. Mereka mendirikan tenda berpindah-pindah. Tiga hari setelah gempa saat kondisi mulai membaik, warga pindah mendirikan tenda di halaman rumah masing-masing. Warga belum berani tinggal di dalam rumah karena masih khawatir terhadap gempa susulan.

Hermina berharap gempa susulan mereda sehingga warga bisa kembali ke rumahnya. Sembari menunggu itu, ia mengajak seluruh masyarakat saling bekerjasama dan saling memberikan semangat dalam menghadapi bencana ini.

”Bersama kita bisa menghadapi ini semua, semoga bencana gempa ini cepat berlalu,” katanya penuh harap.

Hal senada disampaikan Beldiana Salestina, salah seorang korban gempa dari komunitas adat Saga, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Perempuan berusia 51 tahun ini juga belum bisa melupakan pengalamannya saat dilanda gempa.

 Saat gempa 7,7 magnitudo mengguncang Nusa Tenggara Timur, Beldiana mengaku tetap berada di dalam kamar. Di tengah guncangan kuat, ia memilih bertahan di kamarnya sambil memperhatikan kondisi tembok sekeliling rumahnya.

“Saat gempa, saya tetap berada di dalam kamar. Saya hanya menunggu sambil memperhatikan tembok kamar,” ujarnya.

Beldiana merasakan guncangan akibat gempa seperti bergerak searah. Sehingga saat itu, ia berpikir tidak mungkin rumahnya rubuh. Beldiana tetap menunggu di rumah sampai gempa berhenti. Usai gempa, Beldiana bersama anggota keluarganya mengungsi dengan mendirikan tenda di samping rumah.

Setelah satu minggu berlalu, Beldiana baru sadar bahwa rumahnya sudah retak akibat guncangan gempa.

”Saya baru melihat kondisi rumah, ternyata hampir di setiap bagian rumah terdapat retakan, termasuk kamar saya,” kata Beldiana.

Meski rumahnya rusak, perhatian Beldiana justru tertuju kepada warga sekitar yang membutuhkan pertolongan. Saat sebagian warga tengah panik saat gempa terjadi dan belum berani mengambil air,  ia berusaha membantu, termasuk memberikan minum kepada para lansia.

“Saya berusaha tetap tenang, memberikan minum kepada lansia dan terus memberikan mereka semangat,” ujarnya.

Beldiana, salah seorang korban gempa sedang memasak di luar rumahnya pasca gempa 7,7 magnitudo di Nusa Tenggara Timur dua pekan lalu. Dokumentasi AMAN

Mulai Terserang Penyakit

Seminggu pasca gempa, kondisi para pengungsi korban gempa di Nusa Tenggara Timur mulai menurun. Warga mulai mengalami gangguan kesehatan, beberapa diantaranya terserang flu dan demam. Perubahan suhu yang ekstrem, dengan cuaca panas dan dingin, membuat daya tahan tubuh warga menurun.

Beldiana dan warga lainnya memilih untuk tetap tinggal di tenda dekat rumahnya masing-masing. Ia beralasan jika tinggal dekat rumah masih bisa mengakses fasilitas sanitasi. Sebab, orangtuanya sudah tua sehingga harus dekat dengan fasilitas sanitasi.

“Kalau tinggal di tenda pengungsian yang disiapkan pemerintah, akses sanitasinya sangat jauh, sementara Mama sudah tua. Karena itu, saya membuat tenda di dekat rumah, agar Mama lebih mudah akses ke toilet,” katanya.

Kepedulian Beldiana tidak berhenti pada keluarganya. Ketika melihat rumah tetangga rubuh, ia membagikan persediaan beras di rumahnya kepada warga yang membutuhkan.

“Kebetulan saya punya stok beras yang memang biasa saya simpan, jadi saya bagikan kepada mereka,” tuturnya.

Beldiana menyatakan bantuan dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) juga telah disalurkan kepada Masyarakat Adat di Saga, Kecamatan Detu Soko. Disebutnya, bantuan dari AMAN ini menjadi bagian dari upaya memenuhi kebutuhan Masyarakat Adat yang masih bertahan di pengungsian. (apg)

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Nusa Tenggara Barat

Writer : M. Nurji | Nusa Tenggara Barat
Tag : Masyarakat Adat Nusa Tenggara Timur Korban Gempa