Oleh: Mohamad Hajazi

Alvir de Oliviera tak berkedip saat menyaksikan pertunjukan seni tari yang dibawakan oleh sekelompok pemuda suku Sasak. Pemuda asal Timor Leste ini mengaku sangat terhibur dengan penampilan pemuda adat suku Sasak yang membawakan Tarian Gegerok Tandak .

“Ini penampilan yang sangat menghibur dan seru,” katanya di sela acara malam pentas seni Asia Learning Exchange On Inclusiveness and Youth In Tenure Reform Processes di sekolah adat Sabaya Tanta, Desa Karang Bajo, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara pada Minggu (28/5/2023) malam.

Para penari membuat barisan yang tak terputus dengan saling berbalas pantun. Dan dibawakan oleh sekelompok pemuda adat Bayan tanpa menggunakan alat musik. “Saya sangat takjub melihatnya,” sambungnya.

Tidak hanya Alvir, seluruh peserta Asia Learning Exchange On Inclusiveness and Youth In Tenure Reform Processes yang berasal dari berbagai negara di benua Asia ini kagum dengan penampilan tarian Gegerok Tandak. Mereka memberikan tepuk tangan yang meriah untuk tarian yang ditampilkan dalam acara malam pentas seni untuk menghibur peserta Asia Learning Exchange On Inclusiveness and Youth In Tenure Reform Processes.

Gunawan, salah seorang pemuda adat asal desa Karang Bajo yang ikut menarikan Gegerok Tandak menyatakan sangat senang kesenian mereka disukai oleh pemuda dari Asia. Gunawan mengaku puas bisa menampilkan tarian yang terbaik sehingga para tamu dan peserta merasa terhibur.

“Kami puas bisa menghibur mereka. Hilang rasa lelah dibuatnya,” kata Gunawan usai penampilan.

Tetua Adat Bayan, Rianom yang juga Dewan AMAN Wilayah Nusa Tenggara Barat menjelaskan tarian Gegerok Tandak biasanya dipentaskan untuk menyambut tamu kehormatan yang datang ke Bayan. Dulunya, kata Rianom, tarian ini ditampilkan untuk mengiringi anak yang akan di sunat. Tujuannya untuk menyemangati anak yang akan disunat supaya psikologisnya tidak terganggu. Selain itu, tarian ini juga dipentaskan saat berlangsung acara adat seperti Begawe atau pesta pernikahan dan acara adat lainnya.

Rianom menerangkan bagi Masyarakat Adat Bayan, tarian adat Gegerok Tandak punya makna filosofi sehingga dijaga kelestariannya. “Tarian Gegorok Tandak memiliki makna filosofi yakni kebersamaan, jiwa gotong royong, musyawarah, dimana ringan sama dijinjing dan berat sama dipikul,” ungkapnya.

Awalnya, tarian Gegerok Tandak ini dilakukan ketika Masyarakat Adat di Bayan mengalami gagal panen dikarenakan gangguan binatang seperti kera, babi, dan hewan buas lainnya. Hewan-hewan tersebut merusak tanaman warga.

Menyikapi permasalahan ini, penghulu alim atau tokoh agama Masyarakat Adat Bayan mengadakan Sangkep atau pertemuan. Dalam pertemuan itu, tercetus ide untuk menciptakan sebuah tarian yang mengikuti suara hewan dan syair-syair berbahasa Bayan.

“Hasilnya, setelah Tarian Gegerok Tandak ini dilakukan, panen masyarakat tidak terganggu lagi,” kata Rianom.

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat dari Nusa Tenggara Barat

 

Writer : Mohamad Hajazi | NTB
Tag : Pemuda Adat Bayan Tarian Gegerok Tandak