Oleh Endang Setiawan

Pengurus Harian Daerah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Rejang Lebong bekerjasama dengan Pengurus Kampung Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) Lubuk Kembang menggelar kegiatan workshop “Merawat Aksara Kaganga Rejang” di Komunitas Adat Cawang An.

Kegiatan yang berlangsung pada 10 – 11 Juni 2023 ini mengusung tema “Anak Muda Jaga Kampung” yang diikuti oleh 40 orang peserta dari lima komunitas Masyarakat Adat, yakni komunitas Masyarakat Adat Lubuk Kembang, Cawang Lama, Air Lanang, Kayu Manis, dan Seguring.

Ketua PH AMAN Rejang Lebong Khairul Amin menyatakan peserta yang ikut kegiatan ini cukup antusias. Tidak hanya dari kalangan muda, tapi juga ada peserta dari kalangan ibu-ibu dan bapak-bapak. Khairul menambahkan hal ini membuktikan bahwa pelatihan merawat aksara Kaganga sangat menarik untuk diikuti oleh semua kalangan.

“Melalui pelatihan ini, kita diajarkan cara menghafal dan mengingat secara cepat aksara Kaganga. Ini menarik,” katanya dalam sambutan di acara pembukaan workshop pada 10 Juni 2023.

Khairul Amin berharap ke depan, aksara Kaganga dapat terus dilestarikan. Ia mendorong anak muda untuk melakukan penguatan dan pelestarian aksara Kaganga di kampung-kampung. Sebab, anak muda memiliki potensi besar dalam menjaga dan melindungi segala unsur yang ada di wilayah adat. 

Staf Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan YME dan Masyarakat Adat Kemendikbudristek Ratna Yunasih sangat mengapresiasi kegiatan workshop ini. Ia mengaku dulu pernah belajar aksara Kaganga di Lampung. Saat ini, pengetahuan aksara sudah mulai surut dari generasi muda. Namun, di dalam pelatihan ini ia melihat animo anak muda untuk mempelajari aksara Kaganga ini cukup meningkat.

“Saya melihat antusiasme anak muda mempelajari aksara Kaganga ini cukup besar, setidaknya jika dilihat dari yang berpartisipasi pada kegiatan ini,” katanya saat membuka pelatihan.

Ratna menjelaskan aksara Kaganga merupakan sebuah nama kumpulan beberapa aksara yang berkerabat di Sumatera bagian selatan. Penamaan istilah ini diciptakan oleh Mervyn A. Jaspan (1926-1975), seorang antropolog di University of Hull (Inggris) yang tertuang dalam buku Folk literature of South Sumatra. Nama Kaganga merujuk pada tiga aksara pertama pada hurufnya, persis dengan urutan aksara India.

Sayangnya, kata Ratna, jejak peradaban dalam bentuk aksara itu terus memudar. Ini akibat minimnya orang yang memiliki keahlian untuk menulis dan membaca aksara Kaganga.

Meski ratusan manuskrip yang tertuang dalam bilah bambu, kulit kayu, rotan, tanduk, kertas, dan lain sebagainya masih tersimpan baik. Nyatanya, publik tidak menganggap penting dan bangga atas keberadaan aksara mereka.

Ketua Komunitas Adat Rejang Lebong, Wimi Hartawan, salah seorang pembicara dalam pelatihan tersebut mengatakan aksara Kaganga merupakan sebutan yang berakar dari tiga huruf pertama dalam aksara Rejang. Hal ini  seperti pengistilahan 'Hanacaraka' untuk aksara Jawa.

“Aksara Rejang sangat kaya akan tanda baca,” ujarnya saat memberikan pemahaman terkait baca tulis Kaganga.

Aksara Kaganga

Harry Siswoyo, salah seorang wartawan senior yang didapuk sebagai narasumber pada pelatihan ini menyatakan mempelajari aksara Kaganga merupakan cara  merekam bagaimana praktik hidup masyarakat pada masa lampau. Baik itu, mengenai ilmu pengobatan, hukum adat, keagamaan, doa-doa, mantera, teknik bercocok tanam, pengumuman, cerita rakyat, sejarah, maupun informasi yang dikirim luas atau secara pribadi.

Di Bengkulu, pengenalan kembali aksara Kaganga sejauh ini sudah mulai dikenalkan ulang lewat edukasi sekolah dalam pelajaran muatan lokal dan penulisan nama tempat atau instansi pemerintah dengan huruf Kaganga. Namun sayangnya, belum ada yang spesifik menyasar kelompok generasi muda agar mereka bisa ikut mendapat peran merawat Kaganga.

Melihat kondisi ini, Ketua Pengurus Kampung BPAN Lubuk Kembang Pobi Mardianto menyatakan setelah kegiatan ini, mereka akan banyak menelusuri kampung-kampung dan sekolah-sekolah dalam upaya mengenalkan dan melestarikan aksara Kaganga.

“Kami siap turun ke kampung-kampung dan sekolah untuk mengawal pelestarian aksara Kaganga,” katanya.

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat dari Bengkulu

Writer : Endang Setiawan | Bengkulu
Tag : AMAN Rejang Lebong Aksara Kaganga