Oleh Salwa Mahdafika Putri

Pagi itu, aktivitas warga sudah ramai di Kebon Jeruk. Nama salah satu desa di Kecamatan Ampenan, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat ini selalu ramai di kunjungi orang, disertai suara bising kendaraan yang lalu lalang. Namun, desa yang dihuni 979 orang penduduk ini selalu hidup rukun damai.

Desa Kebon Jeruk yang merupakan bagian dari komunitas Masyarakat Adat Pejarakan dikenal dengan warganya yang memiliki sifat solidaritas dan jiwa sosial yang tinggi, aman, dan tentram. “Saya cukup nyaman tinggal di kampung Kebon Jeruk ini,” kata Hamdan, salah seorang warga.

Hal yang sama dirasakan oleh Abdul Wahab. Pria berusia 65 tahun ini mengaku selama tinggal di kampung Kebun Jeruk tidak pernah menemukan masalah. Sebaliknya, banyak kenangan indah yang tidak bisa dilupakan, salah satunya saat dirinya menjabat sebagai Lurah Pejeruk selama sembilan tahun hingga tahun 2021.

Desa Kebon Jeruk merupakan pemekaran dari Lingkungan Pejeruk pada tahun 1990. Asal nama Kebun Jeruk diambil dari potongan kata "Pejeruk" dan dikaitkan dengan banyaknya pohon jeruk nipis di kampung itu. “Itu asal muasal nama desa Kebon Jeruk,” ungkapnya.

Gubuk Mekkah

Ketua RT Kebon Jeruk, Hilwanudin mengatakan bahwa masyarakat lebih mengenal nama Desa Kebon Jeruk dengan sebutan Gubuk Mekkah yang berarti Kampung Mekkah.

Ia menuturkan istilah Gubuk Mekkah muncul karena ada versi yang menyebut bahwa ini terkait sosok tuan guru TGH Muhammad Amin di kampung. Kemudian versi lain, banyak warga di kampung tersebut yang sudah menunaikan ibadah haji.

"Sekitar 70 persen warga kampung Kebon Jeruk sudah menunaikan ibadah haji,” ungkap Hilwanudin.

Izzul Fikri Amin, anak TGH Muhammad Amin, menyebut ayahnya telah lama meninggal. Namun, namanya sering dikaitkan dengan Gubuk Mekkah.  Istilah Gubuk Mekkah ini muncul disebabkan karena ayahnya TGH Muhammad Amin banyak menghabiskan waktunya di Tanah Suci Mekkah. TGH Muhammad Amin lahir, menuntut ilmu dan berdakwah di Mekkah. Ia berdakwah bersama sahabatnya TGH Zainuddin Majid di Mekkah.

"Almarhum ayah saya banyak melakukan aktivitas di Mekkah, lalu banyak orang mengaitkan kampung Kebon Jeruk dengan sebutan Gubuk Mekkah," ujarnya.

Ritual Adat Selakaran

Secara adat, di Kebon Jeruk, biasanya sebelum berangkat ke tanah Suci untuk melaksanakan haji dan umrah para jamaah haji mengadakan acara yang biasa di sebut dengan selakaran. Acara ini di adakan untuk mendoakan para jamaah sebelum berangkat haji. Selakaran di lakukan di masing-masing rumah jamaah haji, juga di Masjid Ja'mi Baitul Amin diadakan selakaran secara besar-besaran untuk mendoakan warga yang akan berpergian. Selain itu para jamaah haji akan berziarah ke makam tuan guru di kampung ini untuk meminta berkat.

"Ya kalo ditanya secara adat, biasanya warga yang akan pergi haji akan mengadakan selakaran, dan harus berziarah juga ke makam tuan guru yang ada di kampung sini," ungkap Agus, salah seorang warga Kebon Jeruk.

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat dari NTB

Writer : Salwa Mahdafika Putri | NTB
Tag : Ritual Adat Selakaran Lombok Ibadah Haji