Oleh: Risnan Ambarita

“Tano Batak beruntung masih punya tanah adat. Seandainya waktu itu M.H Manullang tidak berjuang untuk mempertahankan desa Pansur Batu, seluruh tanah Batak akan sama nasibnya dengan daerah pantai timur, miskinnya sama, susahnya sama karena tidak punya tanah lagi.”

Pernyataan ini disampaikan oleh Ichawan Azhari, seorang penulis buku Tuan M.H. Manulang Pahlawan Indonesia dari Tanah Batak (1887-1979). Ichawan yang merupakan akademisi dari Universitas Negeri Medan (Unimed) ini memaparkan isi bukunya dalam seminar bertajuk “Perjalanan Masyarakat Adat di Tapanuli dan Memori Sejarah Tuan M.H. Manullang Melawan Ekspansi Agraria di Tano Batak. “

Seminar yang diselenggarakan dalam rangkaian Musyawarah Daerah Kedua (Musda ll) AMAN Daerah Tapanauli Utara ini turut dihadiri mantan Sekjen AMAN Abdon Nababan, Ketua AMAN Tano Batak Jhontoni Tarihoran, dan juga tokoh agama Pendeta Nelson Siregar. Seminar berlangsung di Desa Pansur Batu, Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Tapanauli Utara, Sumatera Utara, pada 3 Juli 2023.

Ichawan menceritakan kisah MH Manullang adalah orang yang hebat. Ia punya ikatan emosional dengan Raja Sisingamangaraja Xll. Ayahnya seorang intelijen yang dekat dengan Sisingamangaraja Xll.

Ichawan menyebutkan bahwa ayah MH Manullang kena tembak dan kemudian disuruh Sisingmangaraja XII pulang ke Tarutung, ibukota Tapanuli Utara saat ini. Tujuannya supaya ayah MH Manullang tidak ikut lagi bergerilya bersama Sisingamangaraja XII.

Sejak itu, sahabat dari Sisingamangaraja XII ini mendidik dan membesarkan anaknya MH Manullang dalam menentang kolonialisme.

Ichawan menyebut semangat perlawanan MH Manullang menentang kolonialisme dimulai ketika dirinya berumur 19 tahun. Ia sudah menjadi Pemimpin Redaksi sebuah surat kabar “Binsar Sinondang Batak” pada tahun 1905.

“Surat kabar ini merupakan media perlawanan pertama di Indonesia,” kata Ichawan.

Pada kesempatan ini, Ichawan membagikan buku hasil karya tulisannya tersebut kepada Mayarakat Adat Tano Batak dan sekolah-sekolah yang ada di Desa Pansur Batu dengan harapan supaya tetap semangat menjaga tanah adat yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan dan leluhur di tanah Batak.

Tokoh Masyarakat Tano Batak, Pendeta Nelson Siregar yang turut menjadi narasumber dalam seminar ini menyatakan sejarah perjuangan MH Manullang melawan kolonialisme di Tano Batak harus jadi teladan. Nelson berpesan jadilah pahlawan seperti MH Manullang yang membanggakan Tano Batak.

“Minimal, kita bisa jadi pahlawan di kampung sendiri seperti yang pernah dilakukan M.H. Manullang,” katanya.

Sekjen AMAN periode 2007-2017 Abdon Nababan yang merupakan putra Tano Batak, mengapresiasi semangat para pejuang Tano Batak dalam menentang kolonialisme. Semangat ini selaras dengan cita-cita AMAN, yaitu berdaulat, mandiri, bermartabat.

“Semangat ini harus terus ditanamkan dan ditumbuhkan supaya Masyarakat Adat berdaulat di atas tanahya sendiri dan tidak jadi orang asing,” katanya.

Abdon mengingatkan seluruh komunitas adat yang tergabung di AMAN harus selalu mengingat cita cita AMAN berdaulat, mandiri dan bermartabat sebagai acuan untuk masa depan generasi Masyarakat Adat ke depan.

Ketua AMAN Tano Batak, Jhontoni Tarihoran menyatakan bersyukur bisa menggandengkan acara seminar perjuangan Masyarakat Adat Tano Batak melawan kolonialisme dengan pelaksanaan Musda AMAN di Tapanuli Utara. Ia berharap nilai-nilai sejarah yang telah ditorehkan oleh para pejuang Tano Batak terdahulu dapat diteladani.

Setidaknya, kini Masyarakat Adat di Tano Batak harus tetap semangat untuk memperjuangkan hak dan warisan leluhur serta menjaga dan kelestariaan budaya dan tradisi yang akan diwariskan kepada generasi mendatang.

“Semangat melawan kolonialisme harus terus dikobarkan untuk memperjuangkan hak dan warisan leluhur di Tano Batak,” katanya.

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat dari Tano Batak

 

 

Writer : Risnan Ambarita | Tano Batak
Tag : Pejuang Masyarakat Adat Tano Batak