Oleh: Dirga Yandri Tandi

Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) menggelar bincang pemuda adat Exchange Learning di hari keempat perayaan Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia (HIMAS).

Bincang pemuda adat yang dikemas dalam bentuk diskusi ini menghadirkan perwakilan pemuda adat dari berbagai wilayah adat di tanah air. Kegiatan ini dilaksanakan di objek wisata Kete Kesu, Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan pada Selasa (8/8/2023).

Bincang pemuda adat dibuka dengan pemaparan dari Sekretaris Jenderal AMAN Rukka Sombolingi yang menekankan arti pentingnya peran pemuda adat dalam kehidupan Masyarakat Adat di masa depan. Setelah itu, dilanjudkan sesi diskusi yang membahas masa depan pemuda sebagai generasi penerus Masyarakat Adat.

Dalam diskusi ini, pemuda adat dari berbagai wilayah menyampaikan program yang telah di lakukan sekaitan dengan gerakan pulang kampung.

Ketua Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) Toraya, Aldio mengatakan pendidikan soal adat bagi pemuda sangat penting. Sebab, menurutnya, pemuda adat harus paham tentang adat dan budayanya, karena mereka adalah generasi penerus dari Masyarakat Adat.

"Pemuda adat harus paham indentitasnya sebagai Masyarakat Adat. Sejak dini, mereka harus paham tentang adat dan budaya mereka," terang Aldio.

Aldio yang juga moderator dalam diskusi ini mempersilahkan pemuda adat dari berbagai daerah untuk memaparkan kegiatan yang telah mereka lakukan di daerahnya.

Solihi, salah seorang pemuda adat dari Kabupaten Sinjai menyatakan dalam diskusi ini bahwa pemuda perlu terus menggalakkan gerakan pulang kampung di wilayah adat masing-masing. Ia menyatakan gerakan pulang kampung dimaksud bukan hanya sekedar pulang ke kampung. Tetapi, bagaimana gerakan pulang kampung tersebut bisa menjadi gerakan untuk memperjuangkan hak-hak serta meningkatkan taraf hidup Masyarakat Adat.

“Poinnya disini, pemuda harus bisa memperjuangkan hak dan tarah hidup Masyarakat Adat lebih baik di kampungnya,” kata Solihi dalam bincang pemuda adat di Kete Kesu.    

Ketua Panitia HIMAS Romba Marannu Sombolinggi mengatakan tujuan digelarnya bincang pemuda ini untuk mengingatkan kepada generasi muda pentingnya pemahaman akan budaya yang ada di wilayahnya sebagai generasi penerus Masyarakat Adat.

"Pemuda adat ini salah satu pemegang tongkat estafet penerus Masyarakat Adat di masa depan,” katanya.

Romba menerangkan diskusi ini penting guna membuka wawasan kita tentang proses pembelajaran  bagaimana pemuda adat itu berinteraksi dengan wilayah adatnya masing-masing.  Karenanya, sebut Romba, diskusi pemuda adat ini memiliki Tag Line "Bangkit, Bersatu, Bergerak mengurus Wilayah Adat". Salah satunya, melalui gerakan pulang kampung.

"Gerakan pulang kampung ini, bagimana merubah pola pikir pemuda sehingga tidak lagi pergi merantau, karena kalau semuanya pergi merantau maka tidak ada lagi generasi penerus yang akan mengurus wilayah adat," terangnya.

Romba mencontohkan di Toraja,  masih banyak sumber daya alam yang bisa dikelola. Hanya saja, akunya, pola pikir pemuda harus dirubah sejak dini sehingga tidak ada lagi yang keluar daerah mencari pekerjaan. Sebab, banyak sumber daya alam di kampung yang bisa dikelola oleh pemuda adat.

"Kekayaan alam kita sangat melimpah, namun tidak ada yang siap untuk mengelola itu. Oleh karena itu, sebagai orang tua kita harus bekerja keras bagaimana merubah pola pikir dan perilaku sehingga anak muda berfikir untuk mulai tinggal di kampung," pungkasnya.

***

Penulisa adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Tana Toraja, Sulawesi Selatan

 

Writer : Dirga Yandri Tandi | Sulawesi Selatan
Tag : Pemuda Adat Generasi Penerus Masyarakat Adat di Perayaan HIMAS