Surat pada kawan-kawan; saya tulis pagi ini dalam sebuah bus menuju tempat pertemuan UNFCCC Doha. Menuju tempat pertemuan. 3 Des 2012 Doha, Qatar. Dari dalam bus gratis yang disiapkan pemerintah, sejauh mata memandang diwarnai oleh jejeran pohon kurma di sepanjang pantai Doha. Beberapa taman terbuka untuk umum dengan berbagai model, mulai dari sekedar dihiasi oleh pohon kurma, taman bunga warna warni, semboyan dwi bahasa yakni Inggeris dan Arab, kursi duduk beton juga kursi plastik serta taman yang dihiasi monumen berbagai bentuk. Kalau di atas pucuk tugu Monas Jakarta ada bongkahan emas, maka di Doha ada sebuah monumen yang atasnya terdapat sosok dua patung kambing. Orang beraktifitas tanpa saling menyapa. Petugas kebersihan atau sekedar jalan-jalan dengan keluarga, pasangan muda dengan kereta bayinya juga aktifitas olah raga serta aktifitas lainnya. Ragam fashion tak juga saling menghakimi. Ada Burqa, jilbab, kaos oblong, baju lengan kutung, celana olah raga sedengkul terlihat di mana-mana. Yang membuat saya takjub, tempat ini tak ramah buat pejalan kaki. Jalan-jalan lebar, mobil besar-besar, namun minimnya lampu merah dan tak ada penyeberangan khusus bagi perjalan kaki. Pada dasarnya memang jarang sekali terlihat pejalan kaki di jalanan. Aku penasaran, cari info sana sini termasuk dari internet. Saya takjub dan mata saya tak percaya terus terbelalak dengan informasi yang saya temukan tentang Qatar ini. Penduduk Qatar berjumlah sekitar 1,5 juta jiwa. 300 ribuan asli orang Qatar, selebihnya adalah pekerja migran. Pekerja migran asal Pilipina mencapai jumlah lebih dari 200 ribu jiwa! Ladang-ladang minyak masih produktif menjadikan Qatar jadi negara kaya. Minyak sangat murah bahkan lebih murah dari air minum. 330 cc air minum berharga 2 riyal, sementara untuk 1 liter bensin hanya dibanrol 0,88 sen Riyales! Pantas saja jalannya lebar dan mobil besar-besar dan tak ada pejalan kaki! Qatar adalah surga bagi pengendara! Karena kaya, negara membayar semua fasilitas publik buat warga negaranya. Semua orang mendapat tunjangan bulanan dan gaji minimum bagi orang Qatar asli sebesar 5000 Dollar Amerika setara dengan 48 juta rupiah. Tetapi ternyata orang Qatar asli tak banyak yang kerja. Lalu bagaimana bisnis bersih-bersih di jalan? suster, dokter, mantri, pembantu, pelayan restoran, petugas hotel? Jawabannya, mereka mengimpor pekerja dari negara asing yang dibayar murah! Salah satu petugas di hotel tempat kami menginap digaji sekitar 4 juta rupiah per bulan sebagai resepsionis. Sementara itu rekan kerjanya sesama resepsionis, orang Qatar asli digaji 7.500 dollar atau sekitar 70 juta rupiah! Ah well, pagi ini registrasi ambil kartu pengenal, agar bebas keluar masuk ruang pertemuan. Dadut sangat bersemangat. Dari Doha, Dadut ingin membawa pulang sesuatu bagi Masyarakat Adat Kalimantan Tengah,” begitu harapan Dadut. Dia langsung ke Kaukus Global Masyarakat Adat. Bertemu dengan kawan-kawan lama, ucapkan,”halo, apa kabarmu kawan?,” cipika cipiki lalu duduk manis di barisan paling belakang. Ternyata Wakil delegasi Pemerintah Bolivia sedang menyampaikan sesuatu, lalu dibantah dengan pertanyaan oleh seorang peserta. Akh, tak ada yang baru. 15 menit kemudian seorang kawan sudah ngajak merokok! (Ya ampun baru 15 menit) Sekarang Kaukus sudah selesai. Pertemuan resmi dinyatakan tertutup, bagi delagasi non-pemerintah gak boleh masuk. Satu persatu orang menghilang pergi menghadiri side event, banyak ajakan untuk ikut side event, semuanya saya tolak. Lalu saya diminta ikut salah satu kelompok kerja, tak dapat kutolak. Sebenarnya saya malas beranjak, memastikan bertemu dengan pimpinan Kaukus agar dapat orientasi mengenai apa yang sedang terjadi. Ok... Segini dulu. Rukka Sombolinggi’ salam dari DOHA!

 

Writer : Rukka Sombolinggi | Jakarta