Oleh : Nesta Makuba

Perempuan, Anak, Pendidikan , Kesehatan, Kedaulatan Pangan dan Sejarah Indentitas menjadi enam tema besar yang sukses diangkat dalam Festival Film Papua (FFP) ke VI yang berakhir pekan lalu.

Tema besar yang mengisahkan hidup Masyarakat Adat di kampung ini dikemas dalam film dokumenter yang menarik untuk ditonton. Ada ratusan orang yang menonton FFP, bahkan di hari terakhir penontonnya mencapai 1.000 orang lebih.

Ketua Panitia FFP, Irene Fatagur menyatakan animo masyarakat untuk menonton Festival Film  Papua VI yang mengangkat kisah Masyarakat Adat cukup tinggi. Sampai panitia tidak mampu menyiapkan kursi akibat banyaknya penonton yang ingin menyaksikan film tentang kisah Masyarakat Adat ini.

“Hari terakhir, penonton mencapai 1000 orang lebih sehingga kursi yang disiapkan panitia tidak mencukupi,” kata Irene pada Selasa (15/8/2023)

Irene mengaku senang dan mengapresiasi para penonton yang telah hadir di acara Festival Film Papua. Menurutnya, kisah Masyarakat Adat dari kampung yang diangkat dalam FFP VI cukup menarik untuk ditonton karena disajikan dengan sederhana, namun mengandung banyak nilai dan kearifan lokal yang dapat menjadi bekal untuk menjelajahi perkembangan dunia saat ini.

“Ini pesan yang ingin kita sampaikan kepada penonton melalui Festival Film Papua ini,” kata Irene.

Kisah dari Kampung

Irene menerangkan Festival Film Papua tahun ini digelar dengan tema “Dari Kampung Kitong Cerita”.  Dikatakannya, tema film ini diangkat dari gambaran kehidupan Masyarakat Adat di Papua.

“Banyak kisah menarik di kampung, terutama yang terkait kehidupan Masyarakat Adat menghadapi perkembangan zaman, derasnya investasi, krisis identitas. Ini yang mendorong kami mengangkat kisah Masyarakat Adat dalam FFP tahun ini,” kata Irene.

Dikatakannya, FFP VI tahun ini dilaksanakan agak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Papuan Voices selaku penyelenggara tidak melaksanakan ajang kompetisi film documenter bagi para sineas muda di tanah Papua.

Irene mengatakan Papuan Voices menyadari bahwa penguatan kapasitas untuk anggotanya dan sineas muda Papua perlu ditingkatkan. Karena itu, pada pagelaran FFP VI lebih fokus pada kegiatan workshop, nonton dan diskusi film documenter sebagai wadah untuk meningkatkan kesadaran dan kepercayaan terhadap identitas.  Rangkaian kegiatan FFP VI dilaksanakan pada 7 – 9 Agustus 2023 di Gedung St. Nicholaus Duta Damai Padang Bulan Kota Jayapura.

Ia berharap acara FFP yang sudah berlangsung sejak 2017 ini bisa berlanjut di tahun depan dan dapat menarik antusias penonton lebih banyak lagi.

Panitia Bidang Pemutaran Film, Fransiska Manan menyebut ada sebanyak 40 judul film yang diputar dalam acara Festival Film Papua. Film-film tersebut selain diproduksi oleh Papuan Voices, juga ada yang dikurasi dari berbagai Filmaker.

“Semua filmnya bagus-bagus,” katanya singkat.

Karya Anak Muda Papua

Ketua Umum Papuan Voices Harun Rumbarar menyatakan Festival Film Papua yang telah menjadi agenda tahunan sejak 2017 ini diharapkan dapat menjadi ruang untuk menampilkan karya-karya anak muda Papua.

Harun menyatakan generasi muda Papua yang juga bagian dari Masyarakat Adat dalam  mempertahankan warisan tradisi di tengah perkembangan zaman ini, selalu berusaha membangun kesadaran kolektif kaum muda akan jati dirinya.  Karenanya untuk menjawab hal ini, sebut Harun, Papuan Voices menjadikan momen FFP ini menjadi salah satu wadah bagi kaum muda Papua untuk melihat dirinya, menggali dan memperkuat identitasnya.

“Tak berlebihan jika kami bercita-cita, melalui FFP ini cerita-cerita tentang tanah Papua terdengar hingga sampai ke seantero nusantara, bahkan yang lebih luas,” katanya sembari menambahkan kegiatan FFP ini bertujuan untuk menampung semangat anak muda Papua sekaligus  meneruskan suara Masyarakat Adat dari kampung-kampung di tanah Papua.

Sikap Papuan Voices

Harun menjelaskan sudah banyak produk film Masyarakat Adat yang dihasilkan oleh Papuan Voices dalam kegiatan FFP. Untuk itu, Papuan Voices memandang penting untuk menyampaikan pernyataan sikap terkait kondisi yang hari ini dialami oleh Masyarakat Adat.

“Kami Papuan Voices tetap mendukung perjuangan Masyarakat Adat yang hari ini masih terbelenggu oleh kepentingan negara yang mengatasnamakan pembangunan di Wilayah Adat,” tandasnya.

Harun mengatakan Papuan Voices juga mendukung perjuangan Masyarakat Adat Papua untuk merebut kembali tanah adat mereka yang telah dirampas oleh investor dan pemerintah. Kemudian, mereka juga mendukung perjuangan Masyarakat Adat Papua yang hari ini menolak segala bentuk pembangunan di atas tanah leluhur mereka.

Ia menyebut Masyarakat Adat di Suku Moi, Masyarakat Adat Lembah Grime Nama, Masyarak Adat di Keerom, Masyarakat Adat di Boven Diguel, Masyarakat Adat di Wamena, semuanya hari ini berjuang mempertahankan tanah adat mereka dari cengkraman penguasa dan pengusaha.

“Hentikan segala tindak perampasan tanah adat di Papua dan stop kriminalisasi dan intimidasi terhadap Masyarakat Adat,” katanya.

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Jayapura, Papua

 

Writer : Nesta Makuba | Papua
Tag : Festival Film Papua VI Kisah Masyarakat Adat