Oleh Della Azzahra

Ribuan petani, nelayan, buruh, masyarakat sipil, mahasiswa dan berbagai kelompok masyarakat lainnya terlihat berbaris memanjang. Memenuhi ruas jalan dari Masjid Istiqlal menuju Patung Arjuna Wiwaha, atau yang biasa disebut patung kuda. Ragam bendera, spanduk, dan poster mewarnai barisan massa aksi yang berjumlah ribuan.

Massa aksi tersebut tergabung dalam Komite Nasional Pembaruan Agraria (KNPA) yang memperingati Hari Tani Nasional (HTN) 2023, pada Selasa (26/9/2023).

Massa aksi berdatangan dari berbagai wilayah di Indonesia, satu suara menuntut reforma agraria sejati. Bersikeras mengambil kembali hak-hak atas tanah yang seharusnya dimiliki oleh rakyat, tetapi malah dirampas oleh pemerintah maupun korporasi. 

Di antara ribuang massa, terlihat barisan dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). Spanduk bertuliskan “Tidak Ada Reforma Agraria Tanpa Pengakuan Hak Masyarakat Adat” dan “Hentikan Perampasan Wilayah Berkedok Proyek Strategis Nasional” membentang di barisan depan massa aksi AMAN.

Tidak luput, sekretaris Jenderal AMAN Rukka Sombolinggi juga menyampaikan orasinya di atas mobil komando, mengobarkan semangat massa dalam berjuang. “Mari kita pekikan perang melawan reforma agraria palsu. Mari kita pekikan untuk menuntut reforma agraria sejati. Kepalkan tangan dan serukan, kami menuntut reforma agraria sejati!” teriaknya.

“UU Pokok Agraria tidak pernah dilaksanakan. Sampai hari ini, reforma agraria digunakan sebatas menjadi kulit dan pembungkus perampasan terhadap tanah-tanah kita,” ujar Rukka.

Bukan hanya itu, Rukka juga menyoroti perihal RUU Masyarakat Adat yang sampai saat ini masih mangkrak di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Bersamaan dengan momentum pergantian rezim yang akan dilaksanakan pada 2024 nanti, menurutnya masyarakat Indonesia harus bersatu menghentikan penindasan ini.

“Tidak boleh lagi ada rezim yang terus menghisap darah kita. Tidak boleh lagi ada rezim yang ditunggangi oleh oligarki. Kita harus menyatakan perang terhadap pemerintah yang terus menghisap darah kita, yang merampas tanah-tanah, wilayah, dan sumber daya kita,” katanya.

Petani dan Pegiat Seni Ikut Andil dalam Aksi HTN

Di antara ribuan petani yang mengikuti aksi HTN, Ibu Neneng, petani yang sehari-hari juga merupakan guru informal dari Desa Sukamulya, Kabupaten Bogor turut berpartisipasi. Bu Neneng berangkat sejak pukul enam pagi dari desanya menuju lokasi aksi untuk menyuarakan hak atas tanah milik rakyat dalam momentum Hari Tani Nasional 2023.

“Ini kan hari tani momentum buat kami, buat petani, buat rakyat Indonesi. Karena memang tanah kami ini diklaim oleh negara jadi kami ya harus turun, wajib kami turun,” ujar Bu Neneng.

Bu Neneng

Bu Neneng mengatakan bahwa penindasan yang dilakukan oleh pemerintah terhadap rakyat harus segera dihentikan. Ia juga menegaskan kepada pemerintah agar segera mengembalikan tanah-tanah milik petani yang diklaim secara sepihak.

“Rakyat Indonesia tidak boleh tertindas. Terutama tanahnya yang diklaim itu, kembalikan! Biar petani itu punya kesejahteraan, nggak usah diganggu. Karena yang punya tanah itu bukan negara, yang punya tanah adalah rakyat,” tegas Bu Neneng.

Menurutnya, sudah saatnya pemerintah memperhatikan kesejahteraan rakyatnya dengan benar. Tidak lagi bersikap egois, memikirkan diri sendiri dengan mengedepankan pembangunan, tetapi justru menelantarkan rakyat.

“Karena memang kalau nggak punya tanah, ya rakyat pasti bisa mati,” pungkasnya.

Selain Bu Neneng, gabungan mahasiswa seniman dari Universitas Pancasila juga ikut berpartisipasi dalam aksi ini. Sebagai orang muda, mereka percaya bahwa banyak cara yang dapat ditempuh untuk menyuarakan pendapat mereka, salah satunya adalah lewat seni. Dalam aksi ini, secara kolektif mereka membuat lukisan yang akan diselesaikan selama aksi berlangsung.

“Lukisan yang dibawa ke sini, mewakili kasus-kasus perampasan tanah, reforma agraria, yang ada di desa-desa, di seluruh Indonesia. Kita wakili di sini,” tutur Nata yang merupakan salah satu pelukis.

Sebagai orang muda, Nata juga menyadari bahwa orang muda kerap kali acuh tak acuh dengan isu-isu politik, khususnya terkait reforma agraria dan Masyarakat Adat. Sehingga, menurutnya kesenian dapat dijadikan salah satu alat agar orang muda kembali peduli dan aktif dalam bersuara.

Gabungan mahasiswa seniman dari Universitas Pancasila

“Harapan aku khususnya untuk anak-anak muda sekarang, bisa lebih aktif lagi untuk menyuarakan hal apapun tentang politik ataupun hal-hal yang riskan sekarang. Di masa depan, hasilnya itu yang kita rasakan, di usia kita nanti tua. Untuk menyuarakan hal itu bisa dari hal apapun, seperti lukisan, musik, puisi, atau hal lainnya,” tutup Nata.

Tak hanya berisikan orasi-orasi, aksi juga diwarnai dengan berbagai ragam kesenian tari dan musik. Menjelang Magrib, aksi berhenti sejenak untuk massa menunaikan ibadah. Aksi kemudian dilanjutkan hingga pukul 20.00 WIB.

 ***

 

Writer : Della Azzahra | Jakarta
Tag : Aksi Hari Tani Nasional