Oleh Umbu Remu Ch Nusa Mesa

Perubahan iklim di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai mengancam keberlangsungan hidup Masyarakat Adat Umbu Pabal dan Waimanu.

Dua komunitas Masyarakat Adat anggota AMAN ini terdampak perubahan iklim yang cukup berpengaruh pada kehidupan sosial dan ekonomi mereka. Namun, Masyarakat Adat Umbu Pabal dan Waimanu tidak menyerah begitu saja. Mereka melakukan upaya adaptasi berbasis kearifan lokal dan nilai-nilai adat yang telah diwariskan turun-temurun.

Tetua Komunitas Masyarakat Adat Umbu Pabal, Maramba Weki menyatakan Masyarakat Adat selalu berupaya untuk bertahan di tengah perubahan iklim yang terjadi di sekarang ini. Diakuinya, perubahan iklim yang terjadi saat ini sangat berpengaruh pada kehidupan mereka sehari-hari, tapi Masyarakat Adat cukup kuat untuk melawannya. Masyarakat Adat kerap bergotong royong agar perubahan iklim tidak terlalu berpengaruh pada kehidupan mereka.

"Perubahan iklim tidak hanya berdampak pada alam, tetapi juga pada struktur sosial dan ekonomi Masyarakat Adat. Tapi, kami kuat melawannya," kata Maramba Weki belum lama ini.

Maramba menyebut perubahan iklim di komunitas Masyarakat Adat Umbu Pabal menyebabkan kedaulatan pangan masyarakat menurun karena hasil panen berkurang drastis. Beberapa keluarga harus mengandalkan bantuan pangan dari luar atau mencari pekerjaan alternatif di kota.

"Inilah yang kami hadapi sekarang, kebutuhan pangan Masyarakat Adat jadi terganggu  akibat dampak perubahan iklim,” tukasnya.

Adaptasi Menggunakan Pengetahuan Lokal

Di komunitas Waimanu, Masyarakat Adat mulai beradaptasi dengan beralih menanam tanaman tahan kering seperti ubi kayu, sorgum, dan kelor dalam upaya mengantisipasi dampak perubahan iklim. Namun, upaya ini masih menghadapi tantangan karena keterbatasan pengetahuan teknis dan minimnya dukungan dari pemerintah.

Selain itu, ketergantungan terhadap hutan meningkat. Ketika lahan pertanian gagal, Masyarakat Adat masuk hutan untuk mencari madu, rotan, atau kayu bakar. Aktivitas ini sering kali dilakukan tanpa perencanaan jangka panjang, sehingga berisiko mempercepat kerusakan hutan.

Arnold, salah seorang pemuda adat dari komunitas Waimanu menyatakan Masyarakat Adat sudah berupaya beradaptasi dengan tetap menggunakan pengetahuan lokal, karena bagi Masyarakat Adat perubahan iklim ini bukan hanya soal yang terjadi sekarang, tapi juga masa depan.

"Kami yakin tantangan ke depan bukan hanya soal perubahan iklim, karenanya kami terus berupaya beradaptasi. Kalau perubahan iklim saja membuat kita goyah, apa lagi tantangan lain,” kata Arnold.

Disebutnya, beberapa langkah telah mereka lakukan sebagai upaya adaptasi terhadap perubahan iklim diantaranya menanam pohon di sekitar sumber air, menjaga hutan larangan adat agar tetap lestari.

Sejumlah Masyarakat Adat Umbu Pabal sedang menginjak padi atau rontok padi manual saat panen. Dokumentasi AMAN

Perkuat Sistem Adat

Arnold  menyatakan Masyarakat Adat mengembangkan sistem pertanian tumpang sari dengan tanaman yang tahan terhadap kekeringan saat terjadi perubahan iklim. Kemudian, membangun lumbung pangan tradisional untuk menyimpan hasil panen saat menghadapi musim paceklik.

Arnold menambahkan hal terpenting dari semua upaya menghadapi perubahan iklim, Masyarakat Adat Waimanu menghidupkan kembali aturan adat tentang pengelolaan hutan dan pembagian air. Masyarakat Adat bekerjasama dengan AMAN Sumba dan Lembaga Swadaya Masyarakat lokal untuk pelatihan pertanian adaptif iklim dan pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan.

Arnold menerangkan perubahan iklim di Sumba bukan sekadar isu lingkungan, tetapi telah menjadi persoalan hidup dan masa depan bagi Masyarakat Adat. Pergeseran musim, kekeringan, serta menurunnya produktivitas lahan telah mengancam kedaulatan pangan dan keseimbangan sosial budaya.

Namun demikian, sebutnya, semangat gotong royong dan kearifan lokal tetap menjadi kekuatan utama Masyarakat Adat Sumba dalam menghadapi tantangan ini.

“Dengan memperkuat sistem adat, menjaga hutan, serta menerapkan praktik pertanian yang ramah iklim, Masyarakat Adat terus berjuang menghadapi perubahan iklim untuk bertahan,” pungkasnya.

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Sumba, Nusa Tenggara Timur

Writer : Umbu Remu Ch Nusa Mesa | Sumba, Nusa Tenggara Timur
Tag : Perubahan Iklim Mengancam Perekonomian Masyarakat Adat di Sumba