Pelatihan Jurnalis Masyarakat Adat di Sulawesi Utara : Memperkuat Kapasitas Jurnalis Sebagai Ujung Tombak Perjuangan Masyarakat Adat
16 Februari 2026 Berita Imanuel Kaloh dan Etzar Frangky TulungOleh Imanuel Kaloh dan Etzar Frangky Tulung
Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Sulawesi Utara menggelar pelatihan Jurnalis Masyarakat Adat (JMA) di Wale AMAN Sulawesi Utara, Kelurahan Malalayang Satu, Kecamatan Malalayang, Kota Manado.
Pelatihan yang berlangsung selama tiga hari sejak 11-13 Februari 2026 ini bertujuan memperkuat kapasitas jurnalis dalam memahami dan menerapkan prinsip-prinsip jurnalistik yang profesional.
Pelatihan yang dibuka oleh Ketua Umum Asosiasi Jurnalis Masyarakat Adat Nusantara (AJMAN) Apriadi Gunawan ini diikuti 15 peserta perwakilan komunitas Masyarakat Adat di Sulawesi Utara.
Apriadi Gunawan dalam sambutannya menegaskan pentingnya pelatihan ini untuk mencetak Jurnalis Masyarakat Adat sebagai ujung tombak perjuangan Masyarakat Adat. Disebutkan, para Jurnalis Masyarakat Adat yang telah mengikuti pelatihan harus memastikan posisinya berdiri di depan garis perjuangan Masyarakat Adat, bukan dibelakang.
“Ini tanggung jawab yang melekat pada seorang Jurnalis Masyarakat Adat, ia harus berdiri di depan garis perjuangan Masyarakat Adat untuk mendapatkan hak-haknya yang dirampas kapitalis,” kata Apriadi Gunawan saat membuka pelatihan Jurnalis Masyarakat Adat di Sulawesi Utara pada Rabu, 11 Februari 2026.
Apriadi menyadari peran yang diambil oleh Jurnalis Masyarakat Adat ini tidak mudah, sebaliknya penuh resiko. Hal ini ditandai dengan adanya sejumlah JMA di berbagai daerah yang mengalami intimidasi, bahkan kriminalisasi saat menjalankan tugas jurnalistiknya meliput berbagai kasus perampasan tanah dan kerusakan lingkungan.
“Tantangan ini tidak boleh menghentikan kerja-kerja jurnalistik JMA. Saatnya JMA menuliskan kebenaran dari suara leluhur, bukan tunduk pada kepentingan kolonialisme,” tandasnya.
Apriadi menitip pesan kepada JMA yang baru dilatih untuk terus menuliskan cerita-cerita dari kampung tanpa lelah dan takut salah.
“Teruslah menulis, jangan ragu untuk menuliskan sejarah kita sendiri untuk masa depan yang lebih baik,” himbaunya.
Membuka Pemahaman Lebih Luas
Peserta pelatihan JMA mengaku senang bisa mengikuti pelatihan jurnalistik. Mereka berpendapat pelatihannya sangat bermanfaat karena materi pelatihannya bagus-bagus seperti media dan jurnalisme rakyat, teknik observasi dan pengumpulan fakta, etika jurnalistik, kaidah penulisan berita, hingga prinsip-prinsip dasar dalam menyampaikan informasi yang akurat dan bertanggung jawab.
Nadia Aluy, salah seorang peserta Perempuan, mengaku mendapatkan banyak pengetahuan baru selama mengikuti kegiatan pelatihan jurnalistik ini. Menurutnya, pelatihan ini membuka pemahaman yang lebih luas tentang pentingnya etika dan standar dalam dunia jurnalistik.
“Ketika mengikuti pelatihan ini, saya mendapatkan banyak sekali materi dan pengetahuan. Saya belajar tentang etika, kaidah-kaidah, dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar,” ujar Nadia.
Ia menilai pelatihan ini sangat penting, terutama di tengah kondisi di mana praktik pemberitaan belum sepenuhnya mengedepankan standar jurnalistik yang baik. Bagi Masyarakat Adat seperti dirinya, kemampuan menulis dan menyampaikan informasi secara benar sangat krusial.
Nadia mengakui pemberitaan mengenai Masyarakat Adat di Sulawesi Utara masih tergolong minim. Padahal, menurutnya, banyak isu, persoalan, serta potensi komunitas Masyarakat Adat yang layak diangkat ke ruang publik.
Ungkapan senada disampaikan peserta lainnya Enjely J. Koapaha. Ia menuturkan bahwa pelatihan yang mereka ikuti tidak hanya mengajarkan teknik menulis, tetapi juga membentuk cara berpikirnya menjadi lebih kritis dan tajam.
“Selama tiga hari mengikuti pelatihan Jurnalis Masyarakat Adat, saya tidak hanya belajar teknik menulis, tetapi juga mengalami perubahan cara berpikir. Saya kembali memahami prinsip 5W+1H sebagai fondasi menyusun berita yang utuh dan berimbang, pentingnya verifikasi fakta, serta bersikap skeptis terhadap informasi mentah,” jelas Enjely.
Menurutnya, pelatihan JMA ini membentuk cara pandangnya sebagai seorang jurnalis yang harus berani menggali kebenaran dan konsisten berdiri di atas etika serta integritas. Ia menyadari bahwa setiap kata yang ditulis merupakan tanggung jawab, dan setiap berita adalah ruang perjuangan.
Enjely mengatakan sebagai Jurnalis Masyarakat Adat, tugas mereka bukan sekadar menulis peristiwa, tetapi juga menjaga identitas, serta menyuarakan hak-hak komunitas yang selama ini kerap terpinggirkan.
“Sebagai penulis, kami berdiri sebagai bagian dari gerakan yang menyuarakan keadilan, memperkuat solidaritas, dan mendesak pengakuan terhadap hak-hak Masyarakat Adat,” tegasnya.

Para peserta Jurnalis Masyarakat Adat sedang mendengarkan materi pelatihan dari narasumber. Dokumentasi AMAN
Bagian Dari Strategi Gerakan
Ketua Pelaksana Harian AMAN Wilayah Sulawesi Utara, Kharisma Kurama mengharapkan para peserta yang mengikuti pelatihan mampu menjadi Jurnalis Masyarakat Adat yang tidak hanya terampil dalam menulis, tetapi juga menjunjung tinggi etika serta prinsip jurnalistik, sehingga suara dan realitas Masyarakat Adat dapat tersampaikan secara objektif dan bertanggung jawab.
Ia menegaskan pelatihan ini merupakan bagian dari strategi gerakan untuk memperkuat posisi Masyarakat Adat melalui media. Menurutnya, selama ini Masyarakat Adat lebih sering menjadi objek pemberitaan, bukan subjek yang menceritakan realitasnya sendiri.
“Pelatihan Jurnalis Masyarakat Adat ini adalah upaya membangun kekuatan dari dalam komunitas. Masyarakat Adat harus mampu mendokumentasikan, menulis, dan menyuarakan sendiri realitas, pengetahuan, serta persoalan yang mereka hadapi. Media adalah alat perjuangan, dan Jurnalis Masyarakat Adat adalah bagian penting dalam perjuangan mempertahankan wilayah, identitas, dan hak-hak masyarakat adat,” ungkapnya.
Kharisma berpesan JMA yang telah mengikuti pelatihan jurnalistik ini tidak berhenti sampai disini, tetapi harus terus aktif menulis, mendokumentasikan, dan menyebarluaskan informasi dari komunitasnya masing-masing.
“Kami berharap lahir jurnalis-jurnalis Masyarakat Adat yang konsisten, berintegritas, dan berpihak pada kebenaran, sehingga suara Masyarakat Adat di Sulawesi Utara semakin kuat dan tidak lagi terpinggirkan,” tutupnya.
***
Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Sulawesi Utara