Oleh Sri Tiawati

Pengurus Daerah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Sekatak bersama komunitas Punan Tugung menyelenggarakan pelatihan pemetaan tiga dimensi atau 3D berbasis komunitas.

Kegiatan yang berlangsung selama enam hari mulai 27 Maret hingga 2 April 2026 ini bertujuan melestarikan pengetahuan dan batas wilayah adat.

Ketua Pelaksana Harian AMAN Daerah Sekatak Denny Nestafa mengatakan pelatihan pemetaan 3D ini diikuti 15 orang peserta dari komunitas. Disebutkan, peserta mendapat pelajaran cara pembuatan peta 3D untuk memudahkan sosialisasi wilayah adat kepada masyarakat luas.

"Kami ingin mempermudah penjelasan mengenai batas-batas wilayah adat kami. Bagi para orang tua yang mungkin mulai lupa, visualisasi ini bisa membantu mereka mengingat kembali lokasi-lokasi penting, seperti nama anak sungai, pohon keramat, gunung, hingga sungai utama. Jika ada informasi yang terlupakan, mereka pun bisa langsung menambahkannya ke dalam peta tersebut," ungkap Denny di komunitas Punan Tugung, Kalimantan Utara pada Kamis, 2 April 2026

Denny menjelaskan salah satu faktor keberhasilan dan kelancaran pelatihan ini adalah keterlibatan aktif para pemuda dan pemudi adat Punan Tugung. Kehadiran generasi muda dinilai mampu mempercepat proses pembuatan peta 3D, menggabungkan pengetahuan tradisional dari para tetua dengan kemampuan adaptasi teknologi yang dimiliki oleh pemuda.

Denny menyampaikan harapannya agar kegiatan serupa dapat terus dilakukan di masa depan. Ia menegaskan peran krusial generasi muda dalam menjaga kelestarian budaya dan wilayah adat.

"Pemuda adat adalah ujung tombak pertahanan kampung. Melalui keterlibatan mereka dalam pemetaan ini, kami berharap kesadaran akan pentingnya menjaga wilayah adat semakin kuat dan terwariskan kepada generasi selanjutnya," terangnya.

Denny menegaskan pelatihan pemetaan 3D ini bukan hanya sekadar kegiatan teknis, melainkan juga upaya nyata dalam memperkuat identitas dan hak-hak Masyarakat Adat Punan Tugung atas wilayahnya, sekaligus menjembatani kesenjangan antara pengetahuan leluhur dan teknologi modern.

Beberapa orang pemuda adat sedang mengikuti pelatihan 3D di komunitas Punan Tugung. Dokumentasi AMAN

Miliki Keunggulan

Ririn Messi Noviana, salah satu peserta pelatihan, mengaku sangat menikmati proses belajar selama kegiatan berlangsung. Ia mengakui pelatihan pemetaan 3D ini memberi manfaat nyata dibandingkan dengan peta konvensional. Ririn menyebut peta biasa seringkali sulit dipahami oleh masyarakat umum karena harus membaca simbol dan garis yang membutuhkan banyak pemikiran.

”Dengan adanya peta 3D ini, jauh lebih mudah, lebih presisi, akurat, dan sangat realistis menggambarkan wilayah adat kita. Karena, bentuknya lebih menarik dan nyata, jadi banyak masyarakat yang tertarik untuk melihat," imbuhnya.

Menurut Ririn, keunggulan utama dari pemetaan 3D ini adalah kemudahan untuk mengakses informasi bagi semua kalangan, termasuk masyarakat yang tidak bersekolah sekalipun.

 "Jadi tahu di mana letak gunungnya, mana wilayah hutan adat, hutan tengkih, sampai wilayah perkebunan. Semuanya jadi jelas bentuknya seperti apa," jelasnya.

 Ririn pun berharap dengan visualisasi yang lebih menarik dan mudah dimengerti ini, semakin banyak Masyarakat Adat yang mau melihat dan memahami batas serta kondisi wilayah adat mereka yang sebenarnya.

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Kalimantan Utara

Writer : Sri Tiawati | Kalimantan Utara
Tag : Kalimantan Utara AMAN Sekatak Pelatihan Pemetaan Punan Tugung