Oleh Maruli Simanjuntak

Kabut pagi masih menyelimuti perbukitan saat Saul Ambarita keluar dari rumahnya di Sihaporas, Kecamatan Pamatang Sidamanik, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara pada Sabtu, 30 Mei 2026. Pria berusia 65 tahun itu berjalan sambil membawa sebuah tas kecil dengan sehelai ulos dibahunya menuju suatu tempat yang berjarak 150 meter dari rumahnya.

Sesampainya di tempat yang dituju, Saul menghela nafas sejenak sambil menunggu orang-orang berdatangan. Tak butuh waktu lama, ratusan orang berkumpul hingga memenuhi halaman di salah satu rumah. Mereka bersiap untuk melaksanakan ritual adat Mombang Boru Sipitu Sundut yang telah diwariskan turun-temurun oleh leluhur Masyarakat Adat Sihaporas.

Persiapan ritual dimulai: ada warga yang mencari daun pisang dan bunga ke sekitar kampung, sementara yang lain mengambil bambu dan mare-mare dari hutan. Di sudut halaman, perempuan-perempuan adat menumbuk beras, meracik bumbu, dan menyiapkan berbagai perlengkapan upacara.

Di tengah kesibukan itu, Saul Ambarita duduk bersila di atas tikar yang telah digelar dibagian depan halaman rumah. Beberapa warga perlahan mendekat sambil membawa seekor kambing dan ayam. Warga tadi duduk didepan Saul. Suasana seketika menjadi hening ketika Saul mulai memanjatkan doa kepada Debata Mulajadi Nabolon, Sang Pencipta, serta kepada para leluhur yang diyakini membuka dan mewariskan tanah adat Sihaporas kepada keturunannya.

Ia memohon kesehatan, keselamatan, kesuburan tanah, serta keberkahan atas hasil pertanian yang menjadi sumber kehidupan Masyarakat Adat.

Di tengah udara pagi yang masih dingin dan kabut yang belum sepenuhnya terangkat dari perbukitan, doa-doa itu mengalun khidmat menandai dimulainya ritual adat Mombang Boru Sipitu Sundut.

Bagi Masyarakat Adat Sihaporas, ritual ini bukan sekedar seremoni tahunan tapi merupakan ruang perjumpaan antara manusia, alam semesta, leluhur, dan Sang Pencipta yang diyakini menjaga keseimbangan kehidupan mereka hingga hari ini.

Saul Ambarita selaku tokoh adat yang memimpin jalannya ritual menjelaskan Mombang Boru Sipitu Sundut merupakan salah satu ritual penting yang diwariskan oleh Ompu Mamontang Laut Ambarita, pendiri kampung Sihaporas. Disebutkan, melalui ritual ini kami memohon kesuburan tanah, kesehatan, keselamatan, serta keberkahan atas hasil pertanian yang menjadi sumber kehidupan Masyarakat Adat.

”Ritual ini juga menjadi cara kami menghormati Debata Mulajadi Nabolon, alam semesta, dan para leluhur yang telah membuka kampung ini,” ujarnya.

Saul menerangkan bagi Masyarakat Adat Sihaporas, Mombang Boru Sipitu Sundut bukan sekedar upacara adat. Ritual ini dimaknai sebagai bentuk penghormatan kepada Debata Mulajadi Nabolon melalui para leluhur, sekaligus ungkapan syukur atas tanah, hutan, air, dan seluruh sumber kehidupan yang diwariskan kepada keturunan mereka. Melalui ritual ini, sebutnya, masyarakat memperbaharui ikatan spiritual dengan alam serta meneguhkan tanggung jawab untuk menjaga wilayah adat yang menjadi ruang hidup mereka.

”Dalam keyakinan Masyarakat Adat Sihaporas, keseimbangan hubungan antara manusia, alam, leluhur, dan Sang Pencipta menjadi syarat penting bagi keberlangsungan kehidupan. Karena itu, ritual ini tidak hanya dipandang sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai pengingat agar generasi penerus tetap menjaga tanah dan hutan sebagaimana pesan yang dititipkan para leluhur,” terangnya.

Saul menambahkan ritual ini bukan hanya berkaitan dengan doa dan persembahan tapi juga menjadi ruang berkumpul seluruh Masyarakat Adat untuk memperkuat hubungan sosial dan memastikan warisan leluhur tetap hidup dari generasi ke generasi.

Dikatakannya, keterlibatan seluruh warga menjadi bagian penting dalam pelaksanaan ritual ini. Tidak ada yang menjadi penonton. Pemuda, perempuan, orang tua, hingga anak-anak mengambil peran masing-masing agar seluruh rangkaian ritual dapat berlangsung dengan baik.

“Melalui ritual ini kami diingatkan bahwa manusia tidak hidup sendiri. Ada alam yang memberi kehidupan, ada leluhur yang meninggalkan warisan, dan ada Tuhan yang memberikan berkat. Semua itu harus dihormati,” kata Saul.

Peran Perempuan Adat

Perempuan adat memegang peran penting dibalik kesuksesan ritual ini.  Sejak pagi, perempuan-perempuan adat sudah sibuk menyiapkan berbagai kebutuhan ritual. Mereka menumbuk beras, menyiapkan bumbu, menyusun perlengkapan upacara, hingga memastikan seluruh kebutuhan ritual tersedia sesuai ketentuan adat.

Mersi Silalahi, salah seorang perempuan adat Sihaporas mengatakan setiap kali waktu ritual tiba, hal pertama yang terlintas dalam benaknya adalah doa dan permohonan kepada Sang Pencipta serta para leluhur.

“Kami selalu mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh. Bukan hanya menyiapkan berbagai ramuan dan perlengkapan ritual, tetapi juga menjaga diri agar tidak melanggar pantangan-pantangan yang telah diwariskan Ompung kami,” katanya.

Mersi menambahkan perempuan tidak hanya bertugas menyiapkan kebutuhan ritual, tetapi juga menjaga nilai-nilai yang diwariskan para leluhur agar tetap hidup dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, hubungan Masyarakat Adat Sihaporas dengan tanah, tidak dapat dipisahkan dari keberadaan perempuan.

“Bagi kami, tanah adalah ibu yang memberikan kehidupan. Tanah harus dirawat agar tetap mampu menopang kehidupan hari ini dan bagi generasi yang akan datang. Leluhur kami membuka kampung ini untuk menjamin kehidupan keturunannya. Karena itu, kami merasa berdosa jika tidak mampu memastikan kehidupan yang sama bagi anak cucu kami kelak,” ungkapnya.

Mersi menegaskan pandangan tersebut diwariskan turun-temurun melalui berbagai ritual adat yang masih dipraktikkan hingga sekarang. Ia mengatakan para leluhur mengajarkan bahwa ladang, hutan, sungai, dan alam semesta harus dihormati karena menjadi sumber kehidupan masyarakat.

“Kami percaya, jika manusia merusak tanah, maka tanah tidak akan lagi memberikan kehidupan. Sebaliknya, ketika manusia menghormati dan merawat tanah, kehidupan akan datang menghampiri,” imbuhnya.

Namun, lanjutnya, perempuan adat kini menghadapi tantangan yang tidak ringan. Banyak bahan ritual yang dahulu mudah ditemukan di hutan, kini semakin sulit diperoleh.

“Saat ini kami menghadapi situasi yang cukup sulit. Banyak bahan ritual yang dahulu mudah ditemukan di hutan kini semakin langka akibat perambahan hutan. Padahal, leluhur sudah mengajarkan agar kami mencintai dan menjaga alam supaya kehidupan tetap tersedia,” ujarnya.

Mersi menuturkan hilangnya hutan bukan hanya mengancam sumber penghidupan masyarakat, tetapi juga mengancam keberlangsungan ritual itu sendiri.

“Jika hutan rusak dan tanah kami hilang, maka kami tidak lagi bisa memanfaatkan hutan sebagai sumber kehidupan. Ritual yang kami jalankan hari ini juga tidak akan bisa dilaksanakan karena seluruh bahan ritual berasal dari hutan,” ungkapnya sembari berharap perempuan dan laki-laki harus bergandengan tangan menjaga alam agar kehidupan, budaya, dan warisan leluhur tetap terjaga untuk generasi mendatang.

Beberapa orang perempuan adat Sihaporas sedang menumbuk beras. Dokumentasi AMAN

Identitas Masyarakat Adat

Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, generasi muda memikul tanggung jawab besar untuk memastikan warisan leluhur tidak terputus.

Fidel Castro Ambarita, pemuda adat Sihaporas, mengatakan ritual Mombang Boru Sipitu Sundut merupakan bentuk penghormatan kepada alam semesta sekaligus ungkapan syukur atas kehidupan yang diberikan oleh Sang Pencipta.

“Ritual ini merupakan penghormatan kepada alam semesta agar kami memperoleh hasil yang baik. Dari ritual ini, kami diajarkan menghormati tanah, merawat tanaman, dan menjaga alam yang memberikan kehidupan kepada kami,” ujarnya.

Menurut Fidel, tantangan terbesar saat ini bukan hanya datang dari luar komunitas, tetapi juga dari perubahan pola pikir masyarakat yang perlahan mulai menjauh dari akar budayanya.

“Banyak masyarakat yang lupa dengan jati dirinya. Sementara bagi Masyarakat Adat, kami tidak bisa melupakan apa yang telah diwariskan oleh para pendahulu. Ritual yang dititipkan leluhur sudah menjadi jati diri kami. Ketika kami melupakan titipan itu, maka identitas kami sebagai Masyarakat Adat juga akan hilang,” katanya.

Karena itu, keterlibatan generasi muda dalam setiap ritual adat menjadi sangat penting. Menurutnya, para pemuda harus mulai belajar sejak dini agar pengetahuan, nilai-nilai, dan praktik adat yang diwariskan leluhur tidak berhenti di generasi mereka.

“Pemuda adat memiliki peran yang sangat penting untuk memastikan ritual ini tetap berjalan. Kami harus belajar dari sekarang agar warisan ini tidak putus dan tetap bisa diteruskan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.

Bagi Fidel, ritual adat juga memiliki hubungan erat dengan upaya mempertahankan wilayah adat yang diwariskan para leluhur.

“Ritual adat ini memiliki peran penting untuk menjaga wilayah adat dari tangan-tangan yang hendak merusak atau merampasnya. Sebagai pemuda adat, kami harus konsisten menjaga wilayah adat, budaya, dan identitas yang telah dititipkan para pendahulu agar kami tidak kehilangan jati diri sebagai masyarakat adat,” tuturnya.

Sejumlah Masyarakat Adat Sihaporas sedang menyiapkan makanan. Dokumentasi AMAN

Menjaga Amanah Leluhur

Di antara seluruh warga yang mengikuti ritual, Mangittua Ambarita, yang kini telah berusia 70 tahun menjadi salah satu penyimpan ingatan paling tua tentang sejarah Masyarakat Adat Sihaporas.

Menurut penuturannya, ritual yang masih dijalankan hingga hari ini berakar dari perjalanan leluhur mereka Ompu Mamontang Laut Ambarita sekitar awal tahun 1800-an.

Mangittua bercerita sebelum membuka perkampungan di Sihaporas, Ompu Mamontang Laut Ambarita terlebih dahulu melakukan pertapaan di Pusuk Buhit selama tujuh hari tujuh malam untuk memohon petunjuk kepada Debata Mulajadi Nabolon mengenai tempat yang akan menjadi tanah kehidupan bagi keturunannya.

Setelah pertapaan itu, Ompu Mamontang mengaku memperoleh petunjuk bahwa ia akan menemukan tanah yang dapat dihuni keturunannya. Namun, ada syarat yang harus dipenuhi yakni menjalankan tujuh ritual adat secara turun-temurun.

Mangittua menjelaskan Mombang Boru Sipitu Sundut hanyalah satu dari tujuh ritual adat yang diwariskan Ompu Mamontang Laut Ambarita kepada keturunannya di Sihaporas. Ketujuh ritual tersebut adalah Patarias Debata Mulajadi Nabolon, Raga-raga Na Bolak Parsilaonan, Mombang Boru Sipitu Sundut, Manganjab, Ulaon Habonaran i Partukkoan, Pangulu Balang Parorot, dan Manjuluk.

“Bagi kami, tujuh ritual ini bukan sekadar tradisi. Inilah pesan yang diwariskan leluhur agar hubungan manusia dengan Tuhan, alam, dan sesama tetap terjaga. Selama ritual ini masih dilakukan, selama itu pula kami percaya jati diri Masyarakat Adat Sihaporas akan tetap hidup,” pungkasnya.

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat dari Tano Batak, Sumatera Utara

Writer : Maruli Simanjuntak | Tano Batak, Sumatera Utara
Tag : Mombang Boru Sipitu Sundut, Tradisi Masyarakat Adat Sihaporas Ikatan Spritual