Ritual Adat Joka Ju Nggela di Ende: Merawat Relasi Manusia, Alam, Leluhur dan Sang Pencipta
18 Juli 2026 Berita Redemptus Deda ToreOleh Redemptus Deda Tore
Komunitas Masyarakat Adat Nggela di Kecamatan Wolojita, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur menggelar ritual adat Joka Ju untuk menjaga keseimbangan kehidupan serta mempererat hubungan sosial, spiritual, dan budaya di tengah masyarakat.
Ritual adat yang berlangsung selama lima hari sejak 4-9 Juli 2026 ini terasa istimewa karena turut dihadiri Sekretaris Jenderal AMAN Rukka Sombolinggi, Bupati Ende Yoseph Benediktus Badeoda serta para tokoh adat lainnya. Kehadiran mereka sebagai bentuk dukungan terhadap Masyarakat Adat dalam upaya pelestarian adat dan budaya lokal dengan penguatan terhadap Hak-hak Masyarakat Adat di Kabupaten Ende.
Ketua Pelaksana Harian AMAN Daerah Flores Bagian Tengah Kristoforus ‘Rio’ Ata Kita mengatakan kehadiran AMAN dalam ritual adat Joka Ju merupakan bentuk dukungan langsung kepada komunitas Masyarakat Adat Nggela dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya Leluhur. Dikatakannya, Joka Ju bukan sekadar ritual adat tahunan, melainkan sebuah ruang untuk merawat relasi yang harmonis antara sesama manusia dengan manusia, manusia dengan alam, manusia dengan leluhur serta manusia dengan Sang Pencipta.
“Nilai-nilai yang terkandung dalam Joka Ju mengajarkan Masyarakat Adat untuk hidup dalam harmoni dan keseimbangan. Inilah warisan penting yang terus dijaga oleh Masyarakat Adat Nggela,” kata Rio Ata kita usai ritual.
Ritual adat Joka Ju diawali dengan prosesi Joka Kowa Goba atau ritual untuk menghantar semua jenis penyakit termasuk hama di kampung untuk dibuang ke laut. Setelah itu, dilanjutkan dengan Dedo atau ritual mengusir setan atau nitu pai yang ada di dalam kampung. Kemudian, lanjut Wanda Feko Genda atau tarian adat untuk meramaikan kampung yang sudah menyelesaikan ritual adat selama satu tahun, lalu dilanjutkan Gawi Leja atau hiburan Masyarakat Adat di kampung dalam pelaksanaan ritual adat Joka Ju yang dilaksanakan selama empat hari. Pada hari ke lima kembali melaksanakan aktivitas seperti sedia kalanya.
Upacara adat Joka Ju ditutup dengan Goro Taga atau sebuah permainan penutupan berupa hiburan yang melibatkan banyak orang seperti tarik tambang, dan sebagainya.
Dalam ritual adat Joka Ju, seluruh tahapan dilaksanakan dengan khidmat dan melibatkan para Mosalaki, Masyarakat adat, serta tamu yang datang dari berbagai daerah untuk menyaksikan kekayaan budaya yang masih lestari hingga saat ini.
Rio Ata mengatakan pada pelaksanaan ritual adat Joka Ju tahun ini, Masyarakat Adat Nggela merasa sangat istimewa karena perayaan Ekaristi dalam rangkaian pelaksanaan ritual adat dipimpin langsung oleh Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD. Disebutkan, kehadiran Sang Gembala di tengah umat yang juga Masyarakat Adat ini menjadi simbol atas dukungan Gereja Katolik terhadap keberadaan Masyarakat Adat di Kabupaten Ende yang merupakan bagian dari identitas budaya Masyarakat Adat di wilayah Nusa Bunga.

Sekjen AMAN Rukka Sombolinggi (kiri) photo bersama dengan tetua adat disela pelaksanaan ritual Joka Ju Nggela di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Dokumentasi AMAN
Tetap Hidup Dalam komunitas
Sementara itu, Mosalaki Sao Ria, Aloysius Soka menerangkan tradisi Joka Ju akan terus diwariskan kepada generasi penerus sehingga Masyarakat Adat Nggela meyakini bahwa ritual adat tersebut membawa dampak pada kebaikan, keselamatan, dan perlindungan bagi seluruh komunitas.
“Joka Ju adalah warisan peninggalan leluhur yang tetap hidup dalam komunitas. Masyarakat Adat Nggela percaya, ritual adat ini akan membawa berkat serta menjauhkan Masyarakat Adat dari berbagai hal buruk yang dapat mengganggu kehidupan bersama,” tuturnya.
Aloysius mengatakan pelaksanaan Joka Ju tahun ini juga menarik perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara yang hadir untuk menyaksikan secara langsung tradisi adat yang masih terpelihara dengan baik. Kehadiran para wisatawan menunjukkan bahwa adat dan budaya Masyarakat Adat memiliki daya tarik dalam sektor pariwisata yang kuat sekaligus menjadi sarana memperkenalkan kekayaan budaya bumi Nusa Bunga kepada dunia.
Melalui penyelenggaraan Joka Ju, katanya, komunitas Masyarakat Adat Nggela kembali menegaskan komitmennya untuk menjaga, melestarikan, dan mewariskan nilai-nilai adat dan budaya leluhur kepada generasi mendatang.
”Tradisi ini tidak hanya menjadi identitas Masyarakat Adat, tetapi juga menjadi bagian penting dari kekayaan budaya Indonesia yang patut dihormati, dilindungi, dan diwariskan secara berkelanjutan,” ujarnya.
***
Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Nusa Tenggara Timur