Oleh Greselda

Komunitas Masyarakat Adat Morekau di Kecamatan Seram Barat, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku memiliki tradisi pukul sagu. Tradisi ini menjadi simbol kebersamaan, identitas budaya, sekaligus wujud nyata ketahanan pangan lokal Masyarakat Adat di Maluku.

Masyarakat Adat yang mendiami Negeri Morekau ini menjadikan tradisi pukul sagu sebagai cara menjaga warisan leluhur Maluku. Hal ini dilakukan Masyarakat Adat keturunan bangsa Alefuru dari Suku Alune ini karena wilayah adat mereka memiliki sagu yang berlimpah.

Sagu sudah lama menjadi sumber pangan utama Masyarakat Adat di Maluku. Dari pohon sagu lahir berbagai makanan tradisional seperti papeda, sinoli, sagu lempeng, bagea dan beragam olahan lainnya yang masih menjadi kebanggaan masyarakat hingga saat ini.

Ketua Pelaksana Harian AMAN Daerah Saka Mese Nusa, Salmon Salenussa menerangkan selama ini pohon sagu dijaga oleh Masyarakat Adat sebagai simbol keseimbangan alam dan ketahanan pangan. Bagi Masyarakat Adat Morekau, kata Salmon, sagu bukan sekadar makanan pokok melainkan identitas kultural dan warisan leluhur.

”Satu diantara warisan leluhur tersebut adalah tradisi pukul sagu,” katanya belum lama ini.

Salmon menjelaskan tradisi pukul sagu merupakan proses tradisional mengolah batang pohon sagu menjadi pati sagu yang siap dikonsumsi. Prosesnya diawali dengan memilih pohon sagu yang telah cukup umur untuk dipanen. Setelah ditebang dan dibelah, bagian empulur pohon dihancurkan menggunakan alat tradisional hingga menjadi serbuk halus.

Serbuk sagu kemudian dicampur dengan air dan disaring secara berulang hingga menghasilkan pati yang mengendap.

”Pati inilah yang selanjutnya diolah menjadi berbagai makanan khas Maluku. Makanan ini telah menjadi bagian dari kehidupan Masyarakat Adat selama berabad-abad,” ujarnya.

Salmon menuturkan seluruh rangkaian proses pembuatan sagu dilakukan secara gotong royong. Setiap orang memiliki peran masing-masing, mulai dari menebang pohon, memukul empulur, menyaring pati, hingga mengangkut hasil olahan.

Disebutkan, tradisi ini tidak hanya menghasilkan pangan, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran tentang kerja sama, penghormatan terhadap alam, serta pentingnya menjaga kearifan lokal yang telah diwariskan oleh leluhur.

Warisan Budaya Leluhur

Komunitas Masyarakat Adat Negeri Morekau menyadari bahwa menjaga budaya bukan berarti menolak perkembangan zaman. Sebaliknya, mereka percaya bahwa tradisi dapat berjalan berdampingan dengan kemajuan, apabila terus dipraktikkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Melalui kegiatan pukul sagu, Masyarakat Adat tidak hanya mempertahankan cara hidup leluhur, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan lokal. Sagu terbukti menjadi sumber pangan yang mampu menopang kehidupan Masyarakat Adat Maluku selama ratusan tahun dan tetap memiliki nilai strategis di masa kini.

"Sagu adalah kehidupan bagi Masyarakat Adat Negeri Morekau. Dari leluhur, kami telah diajarkan bagaimana menghargai alam, memanfaatkan pohon sagu dengan bijaksana, dan mengolahnya melalui tradisi pukul sagu,” kata Salmon Salenussa.

Ia menerangkan tradisi pukul sagu merupakan warisan budaya leluhur yang harus terus dijaga karena mengandung nilai kehidupan yang sangat besar bagi Masyarakat Adat. Menurutnya, tradisi ini bukan hanya menghasilkan bahan makanan, tetapi juga memperkuat nilai kebersamaan, gotong royong, serta rasa tanggung jawab untuk menjaga warisan budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Dua orang pria di Negeri Morekau, Maluku sedang membuat sagu yang dilakukan secara tradisional. Dokumentasi AMAN

Penghormatan kepada Leluhur

Salmon menegaskan Masyarakat Adat berkomitmen agar tradisi pukul sagu ini bisa terus dilestarikan agar tetap hidup dan terus dikenal oleh generasi muda maupun masyarakat luas sebagai bagian dari kekayaan budaya Maluku. Dikatakannya, pelestarian tradisi pukul sagu tidak hanya bertujuan menjaga budaya, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan masyarakat serta menjaga hubungan harmonis antara manusia dan alam.

”Bagi komunitas Masyarakat Adat Negeri Morekau, setiap proses pukul sagu adalah bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus komitmen untuk menjaga identitas budaya,” terangnya.

Salmon mengatakan di balik setiap tetes pati sagu yang dihasilkan, tersimpan kisah tentang kerja keras, gotong royong, rasa syukur, serta kecintaan terhadap alam yang telah menghidupi masyarakat selama bergenerasi. Tradisi ini menjadi bukti bahwa budaya bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan nilai-nilai yang terus hidup dalam keseharian masyarakat.

Salmon berharap generasi muda terus belajar, mencintai, dan melestarikan tradisi ini agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.

“Dari Negeri Morekau, semangat melestarikan pukul sagu menjadi pesan bagi kita semua bahwa menjaga warisan leluhur berarti menjaga jati diri, memperkuat ketahanan pangan lokal, dan memastikan kekayaan budaya Maluku tetap lestari untuk generasi yang akan datang,” tutupnya

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Maluku

Writer : Gamaliel | Maluku
Tag : Maluku radisi Pukul Sagu Masyarakat Adat Morekau