Oleh Ganda Hutagalung

Bencana ekologis yang melanda Sumatera pada November 2025 masih menyisakan luka dan trauma bagi Dorlan Simanungkalit, anggota Masyarakat Adat Sibalanga di Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara.

Masih melekat dalam ingatannya, bagaimana gemuruh banjir dan longsor meluncur cepat dari bukit di belakang rumah menghantam tembok dapur hingga material lumpur dan batu memenuhi seluruh isi rumahnya. Dorlan dan tiga anggota keluarganya yang sedang beristirahat tertimpa reruntuhan tembok saat bencana tersebut menghantam rumahnya. Beruntung, tetangga cepat mengevakuasi mereka hingga selamat.

Tidak Dapat Dana Sosial

Kini, delapan bulan pasca bencana, keluarga Dorlan Simanungkalit sudah tinggal di hunian sementara (huntara) bersama korban lainnya di Desa Sibalanga. Di hunian sementara, mereka menerima bantuan dari pemerintah berupa beras sebanyak 5 kilogram yang dibagikan dua kali dalam sebulan hingga April 2026, uang jaminan hidup sebesar Rp 15.000 per orang setiap hari selama tiga bulan, serta dana sosial sebesar Rp 5 juta per jiwa bagi korban yang mengalami luka fisik. Namun, dana sosial tersebut hanya diberikan kepada istri Dorlan Simanungkalit.

“Saya dan kedua anakku tidak dapat dana sosial, padahal kami juga korban bencana,” kata Dorlan saat ditemui di hunian sementara pekan lalu.

Dorlan menyatakan sudah mempertanyakan hal ini kepada pemerintah desa. Hasilnya, mereka disuruh untuk mengajukan nama-nama yang belum dapat bantuan dana sosial.

Dorlan menuturkan sejak tinggal di hunian sementara, kehidupan mereka jauh dari kondisi ideal. Hunian sementara yang mereka tempati berukuran 4 x 6 meter dan hanya memiliki satu kamar. Tidak bisa menampung seluruh anggota keluarga, sehingga anak pertamanya terpaksa tinggal di rumah keluarganya.

Selain kondisi hunian sementara yang terlalu sempit, Dorlan juga mengeluhkan sumber air  dari sumur bor yang disediakan pemerintah tidak layak digunakan. Airnya sangat kotor sehingga tidak layak digunakan untuk mandi.

”Jadi, selama ini kami terpaksa meminta air kepada masyarakat di sekitar hunian sementara sebab sumber air dari sumur bor kotor sekali,” ungkapnya.

Korban Bencana Berjuang Sendiri

Di lahan hunian sementara yang sempit,  Dorlan  memulai  hidup mandiri dengan beternak ayam, mata pencaharian yang telah lama ditekuninya. Ia bercerita saat terjadi banjir dan longsor, sekitar 100 ekor ternak ayamnya yang siap untuk dijual, mati tertimbun longsor. Hanya menyisakan beberapa ekor, yang kini dipeliharanya untuk menyambung kehidupan keluarga.

Selain beternak ayam, Dorlan juga membuat sapu ijuk selama tinggal di hunian sementara. Keahlian ini sudah dimilikinya sejak lama. Penjualan dari hasil membuat sapu ijuk menjadi satu-satunya pendapatannya saat ini.

Sementara itu, istri Dorlan yang sebelumnya bekerja sebagai petani dan berjualan di pasar, kini hanya dapat beraktivitas di rumah. Kerusakan lahan pertanian dan akses jalan menuju ladang yang terputus, menghambat aktivitas petani.  

Beberapa waktu lalu, istri Dorlan sempat mencoba kembali beraktivitas di ladang, tetapi karena kondisi jalan yang masih rusak parah, tidak memungkinkan untuk mengelola lahan pertanian. Akibatnya, tidak ada hasil pertanian yang dapat dipanen untuk dijual di pasar. Kini, istri Dorlan hanya bisa memanfaatkan pekarangan kecil di depan hunian sementara untuk menanam sayur.

Dorlan Simanungkalit sedang memindahkan air yang didapatnya dari masyarakat sekitar hunian sementara.. Dokumentasi AMAN

AMAN Desak Pemerintah Perhatikan Korban Bencana

Ketua Pelaksana Harian AMAN Daerah Tapanuli Utara Edward Siregar mengatakan Masyarakat Adat di sekitar Tano Batak sangat rentan mengalami bencana ekologis karena kawasan hutannya sudah banyak yang rusak. Disebutnya, program pemulihan dari pemerintah yang berjalan lambat dan terkesan tidak jelas, semakin menambah beban Masyarakat Adat terdampak bencana.

”Ini yang harus jadi perhatian pemerintah, sudah cukup menderita Masyarakat Adat Tano Batak akibat kerusakan hutan,” tegasnya.  

Edward mengatakan sudah delapan bulan bencana berlalu, tetapi banyak para korban yang menghadapi ketidakpastian. Mereka hidup dalam kesengsaraan seperti yang dialami Dorlan Simanungkalit dan warga terdampak lainnya.

”Kita minta pemerintah segera melakukan langkah-langkah pembenahan, terutama memperbaiki kerusakan lahan pertanian yang selama ini menjadi sumber penghidupan bagi Masyarakat Adat Sibalanga yang telah menjadi korban bencana ekologis delapan bulan lalu,” pungkasnya. (apg)

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Tano Batak, Sumatera Utara

Writer : Ganda Hutagalung | Tano Batak, Sumatera Utara
Tag : Masyarakat Adat Sibalanga Pasca 8 Bulan Bencana Ekologis Sumatera