Oleh Mohd Hajazi

Ratusan Masyarakat Adat suku Sasak mengungsi usai kampung adat Sade yang mereka tempati turun temurun sejak ratusan tahun lalu terbakar di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat pada Sabtu, 22 Agustus 2026.

Peristiwa kebakaran yang terjadi pukul 20.00 Wita ini melahap 68 rumah adat beserta isinya dan menghilangkan jejak sejarah panjang kehidupan Masyarakat Adat suku Sasak yang selama ini terjaga dengan baik di kampung Sade.

Kini, tak ada lagi rumah-rumah beratap ilalang, bertiang kayu dan berdinding anyaman serta beralaskan tanah yang menjadi penanda kehidupan Masyarakat Adat suku Sasak di kampung Sade. Ciri khas perkampungan adat suku Sasak yang telah berusia ratusan tahun ini lenyap dalam sekejap dilahap api yang diduga berasal dari rumah salah satu warga di kampung adat Sade.

Madjid, salah seorang pemuda adat di kampung Sade menyatakan saat ini Masyarakat Adat yang menjadi korban kebakaran di kampung Sade mengungsi ke tempat yang aman. Seluruh rumah adat beserta barang-barang berharga lainnya seperti kain tenun tradisional khas suku Sasak dan barang-barang kemalik ( perkakas ritual adat) habis dilahap api.

"Tak ada yang tersisa, habis semuanya. Kerugian ditaksir puluhan miliar rupiah lebih,” kata Madjid saat ditemui di lokasi pengungsian pada Senin, 24 Agustus 2026.

Madjid menceritakan kampung adat Sade bukan hanya sebagai tempat tinggal bagi Masyarakat Adat suku Sasak tetapi lebih dari itu sebagai ruang hidup dalam menjaga identitas suku Sasak. Disebutnya, kampung adat Sade juga sebagai tempat warga mencari rezeki dengan menjual berbagai macam pernak pernik tradisional.

”Kampung adat Sade telah menjadi tujuan wisata, banyak warga yang menggantungkan hidupnya dari hasil menjual pernak pernik tradisional,” ujarnya.

Cobaan Berat bagi Suku Sasak

Ketua komunitas Rembitan, Ginanjar menyatakan musibah kebakaran yang melanda kampung adat Sade merupakan cobaan berat bagi mereka. Ginanjar berharap seluruh Masyarakat Adat di kampung Sade tetap kompak meski segalanya telah hilang, termasuk harta benda habis terbakar.

Ginanjar bersyukur ditengah kesulitan yang dihadapi Masyarakat Adat suku Sasak, masih ada orang-orang baik yang memberi bantuan, termasuk dari Pengurus Besar Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN).

”Kami berterinma kasih kepada Pengurus Besar AMAN yang telah menyalurkan bantuan langsung turun ke lokasi satu hari pasca kebakaran,” kata Ginanjar.

Ginanjar merinci jumlah rumah adat yang hangus terbakar dalam musibah ini mencapai 68 unit serta 69 bale tempat jual kain tradisional dan pernak pernik adat. Selain itu, ikut juga terbakar 4 berugak Sekenam, 7 berugak Sekepat, 1 musium bale Beleq, 8 bale lumbung, 2 toilet umum, 1 bale musyawarah, 1 tempat ibadah dan 1 unit gerbang bale adat.

Seorang Masyarakat Adat sedang menyusuri puing-puing kebakaran di kampung Sade. Dokumentasi AMAN

Perkuat Mitigasi Kebakaran di Sade

Lalu Kesumajayadi selaku Koordinator Hukum & Hak Masyarakat Adat Kecamatan Pujut menyatakan prihatin atas kebakaran yang melanda perkampungan adat Sade. Ia berharap peristiwa ini  menjadi momentum untuk memperkuat mitigasi kebakaran di Sade.

”Pemerintah perlu memastikan ketersediaan hidran atau sumber air yang mudah dijangkau, serta sistem penanganan kebakaran yang cepat dan sesuai dengan kondisi permukiman adat,” ujarnya.

Kesumajayadi mengingatkan jangan sampai peristiwa kebakaran yang melanda kampung adat Sade ini terulang kembali. Setelah dibangun kembali, tetapi tidak menyiapkan perlindungan agar peristiwa yang sama tidak terulang.

”Bagi kami, menjaga Sade bukan hanya menjaga bangunannya, tetapi juga menjaga situs, keselamatan masyarakat, dan warisan adatnya," tutupnya. (apg)

***

Penulis adalah Jurnalis masyarakat Adat di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat

Writer : Mohd Hajazi | Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Tag : Ratusan Masyarakat Adat Mengungs Jejak Sejarah Suku Sasak Kampung Sade Hilang Dilahap Api