Masyarakat Adat Banten Kidul Terancam Gagal Panen Akibat Kekeringan
31 Agustus 2026 Berita Dika SetiawanOleh Dika Setiawan
Masyarakat Adat mengeluhkan minimnya curah hujan di wilayah adat mereka belakangan ini. Perubahan iklim yang memicu anomali cuaca ekstrem ini telah menyebabkan Masyarakat Adat di Banten Kidul kesulitan mendapatkan air.
Sawah-sawah kekeringan, struktur tanahnya menjadi keras serta retak. Tanaman padi banyak yang mati dan terpaksa harus di panen sebelum waktunya. Kondisi ini mengancam produktivitas pertanian yang dapat berdampak pada penurunan pasokan pangan Masyarakat Adat di Banten Kidul.
Karyati, perempuan adat dari Rendangan Kasepuhan Gelar Alam menyatakan saat ini sudah banyak sawah yang kekeringan akibat minimnya curah hujan. Ia khawatir jika iklimnya terus berkepanjangan seperti ini maka dapat menyebabkan gagal panen.
”Kalau cuacanya terus begini, suhu udara naik dan curah hujan minim maka dapat dipastikan Masyarakat Adat akan mengalami gagal panen akibat dampak dari kekeringan ekstrem yang terjadi saat ini,” kata Karyati saat meninjau sawahnya yang kekeringan pekan lalu.
Ia menerangkan perubahan iklim yang terjadi saat ini bukan hanya sekedar perubahan musim hujan ke musim kemarau atau sebaliknya. Namun, ada pergeseran musim yang menyulitkan Masyarakat Adat menentukan kalender pertanian yang akurat.
Karyati menyebut dampak dari gagal panen kali ini dapat menurunkan hasil panen secara drastis yang diikuti menurunnya pendapatan di kalangan Masyarakat Adat. Ditambahkan, gagal panen juga mengancam ketahanan pangan.
Karyati mengakui bahwa pertanian merupakan sektor yang paling rentan terhadap perubahan iklim karena sangat bergantung pada stabilitas cuaca. Kenaikan emisi gas rumah kaca global memicu perubahan siklus hidrologi bumi. Akibatnya, area pertanian sering kali menghadapi dua kondisi ekstrem yang kontras: kekeringan berkepanjangan atau curah hujan intensitas tinggi dalam waktu singkat.
"Kalau kemarau masih terus berlanjut seperti ini, tanaman padi yang masih tumbuh pun akan ikut mati. Ini yang kami khawatirkan sebab tidak semua Masyarakat Adat memiliki cadangan pangan yang cukup,” ujarnya sembari menambahkan walaupun saat ini Masyarakat Adat memiliki lumbung padi, tapi stoknya tidak banyak.
Disebutkan, Masyarakat Adat masih mengandalkan stok pangan saat ini dari hasil panen yang lalu.

Sawah milik Masyarakat Adat Rendangan di Kasepuhan Gelar Alam mengalami kekeringan akibat minimnya curah hujan belakangan ini.. Dokumentasi AMAN
Merusak Fase Pertumbuhan Tanaman
Karyati menjelaskan selain menyebabkan gagal panen, perubahan iklim yang terjadi saat ini juga telah merusak fase pertumbuhan tanaman milik Masyarakat Adat. Kekeringan telah menurunkan tekanan turgor tanaman, menghambat fotosintesis, dan menyebabkan kematian tanaman sebelum masa generatif. Ditambahkannya, populasi hama dan penyakit tanaman juga ikut naik drastis seiring naiknya suhu bumi yang dapat mempercepat siklus reproduksi serangga pengganggu dan memperluas wilayah penyebaran patogen.
Martubi, Masyarakat Adat lainnya, merasa frustasi dengan kondisi tanaman padi yang dimiliknya saat ini. Ia mengalami gagal panen. Dikatanya, cuaca ekstrem yang terjadi saat ini berdampak secara sosio-ekonomi bagi Masyarakat Adat.
”Gagal panen akibat iklim tidak hanya merugikan secara fisik, tetapi juga merusak tatanan sosial ekonomi Masyarakat Adat terutama kerugian finansial atas kehilangan modal kerja yang telah dikeluarkan,” terangnya.
Martubi menyebut tidak sedikit Masyarakat Adat telah mengeluarkan biaya untuk pengolahan lahan. Bahkan, banyak yang mempekerjakan orang untuk membantu pengolahan lahan sawah. Tapi setelah masa tanam berlangsung, kemarau panjang justru datang. Kondisi ini selain menghambat pertumbuhan tanaman, juga dapat menghantam tanaman akibat serangan hama dan penyakit.
”Perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan realitas yang sedang dialami penduduk bumi, termasuk Masyarakat Adat,” tukasnya.
Martubi mengatakan kekeringan ekstrem akibat fenomena iklim seperti El Niño merupakan penyebab utama gagal panen terbesar pada sektor pertanian. Ketika pasokan air di dalam tanah habis, tanaman padi dan palawija mengalami stres hidrologi yang menghentikan proses fotosintesis secara permanen serta dampak, dan fase kritis tanaman yang hancur akibat kemarau ekstrem.
“Biasanya ketika menanam padi, kami suka barengi dengan tanaman tumpeng sari lainnya. Kalo di sawah biasanya, disetiap pematangnya ditanami sayuran seperti kacang dan lain lain,” katanya sembari menerangkan tanaman tumpeng sari ini bisa membantu meningkatkan penghasilan Masyarakat Adat.
”Tapi kali ini, jangankan tanaman tumpeng sari, tanaman pokok saja (padi) terancam tidak bisa dipanen karena kekeringan,” tutupnya. (apg)
***
Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Banten Kidul