Semangat Kebersamaan di Tradisi Tambukawa Kenegerian Kuntu
30 Agustus 2026 Berita Delly SarmiantiOleh Delly Sarmianti
Suasana pelaksanaan tradisi Tambukawa di Kenegerian Kuntu, Kecamatan Kiri, Kabupaten Kampar, Riau pada Selasa, 7 Juli 2026. Tampak para ibu-ibu dan remaja putri menjalankan Tambukawa dengan akrab dalam kebersamaan dan gotong-royong.
Pelaksanaan acara tersebut sudah dipersiapkan sejak satu pekan sebelumnya. Sepekan sebelum hajatan, dapur rumah mempelai pria dan wanita mulai ramai oleh ibu-ibu dan remaja putri yang datang membawa minyak goreng, gula, teh kopi, kelapa dan beras. Mereka lantas membuat kue tradisional bersama-sama. Kue tradisional yang dibuat adalah kue genta dan bajik (bajik bulek, bajik ombun dan kelamai). Acara ini disebut Tambukawa.
Sidar, salah seorang tokoh masyarakat perempuan Kuntu, mengatakan bahwa dalam acara Tambukawa ini bajik dibuat dari 15 kilogram beras pulut (tepung ketan), 30 kelapa untuk santan, 15 kilogram gula putih dan 7 kilogram gula merah.
Sedangkan untuk kue genta membutuhkan 10 kilogram tepung ketan, 10 kilogram santan kelapa, 10 telur, 1 bungkus kapur sirih, 1 ons garam halus, dan 4 kilogram gula putih untuk menyiram genta yang sudah di goreng.
Midar juga menjelaskan tradisi ini mengingatkan kita bahwa sebuah perayaan paling berkesan bukan selalu yang mewah, tapi yang dikerjakan bersama-sama. Dengan kerjasama dan gotong-royong warisan budaya dijaga agar tidak hilang di telan zaman.
Tradisi ini bukan acara besar dengan panggung dan undangan resmi, tapi kegiatan gotong royong ibu-ibu, remaja putri, keluarga dan tetangga di rumah mempelai pria dan wanita, masak dan makan bersama. Kegiatan masak dan makan bersama ini biasanya dilakukan seminggu sebelum acara diadakan resepsi pernikahan. Tujuannya bukan hanya sekedar menyiapkan hidangan, tapi mempererat silaturahmi.
Sambil mengaduk adonan, para ibuk-ibu, remaja putri, tetangga dan keluarga berbagi cerita doa dan nasehat untuk calon pengantin. Ada nilai gotong-royong dan rasa memiliki yang ditanam sejak awal. Di sini, pernikahan dianggap bukan urusan dua orang saja, tapi urusan seluruh kenegerian Kuntu.
Di Kuntu rangkaian pernikahan adat tidak berhenti pada pesta meriah saja. Ada satu momen sakral yang mendahului keramaian itu, yaitu khatam Al Quran. Setelah calon pengantin selesai mengkhatamkan Al Quran barulah dilanjutkan dengan acara resepsi.Di momen inilah kue tradisional genta dan bojik hadir sebagai hidangan yang menyimbolkan doa dan harapan.
Makna kue genta dan bojik disajikan yaitu karena rasanya yang manis, sebagai simbol agar kehidupan rumah tangga berjalan manis. Warna coklat kemerahan pada bojik juga dimaknai sebagai tanda kehangatan dan semangat dalam membangun keluarga baru.
Tamu yang hadir turut diberi sebagai bentuk berbagi berkah. Menyajikan kue genta dan bojik setelah khatam Al Quran adalah cara masyarakat menjaga keseimbangan antara nilai agama, adat dan kebersamaan.
***
Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Kampar, Riau