Oleh Semuel

Kain tenun ikat Tanimbar dari Kecamatan Tanimbar Utara, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku berpeluang menembus pasar Eropa karena Badan Usaha Milik Masyarakat Adat (BUMMA) Urtatan yang memasarkannya tercatat sebagai anggota European Small and Medium-Sized Enterprises Association (ESMEA).

Peluang ini diharapkan dapat memperluas jangkauan pemasaran produk Masyarakat Adat Tanimbar ke mancanegara, sekaligus meningkatkan nilai ekonomi hasil kerajinan lokal. Tenun Ikat Tanimbar tidak hanya memiliki nilai jual, tetapi juga menyimpan identitas, pengetahuan tradisional, dan warisan leluhur yang perlu terus dijaga dan dikembangkan.

Ketua Koperasi Masoli BUMMA Urtatan Gamelial Metalmety menyatakan melalui penguatan produksi, peningkatan kualitas, serta perluasan akses pasar, BUMMA Urtatan berupaya menjadikan Tenun Ikat Tanimbar sebagai salah satu produk unggulan Masyarakat Adat yang mampu bersaing di pasar yang lebih luas, termasuk pasar mancanegara.

Gamelial menambahkan untuk mewujudkan hal ini, BUMMA Urtatan mengarahkan program pengembangan usaha pada enam fokus utama pada 2027 mendatang.

Pertama, pengembangan tenun ikat Tanimbar melalui penguatan produksi, kualitas, inovasi produk, promosi, dan pemasaran. Kedua, pengembangan budidaya rumput laut sebagai upaya mengoptimalkan potensi kelautan masyarakat. Ketiga, pengembangan perkebunan dan usaha sayur-mayur untuk meningkatkan produktivitas pertanian.

Keempat, pengembangan peternakan ayam kampung dan ayam petelur. Kelima, pengembangan usaha jual beli hasil pertanian dan perikanan guna memperkuat akses pasar serta membuka peluang usaha bagi anggota. Keenam, penguatan kelembagaan dan tata kelola usaha agar koperasi semakin profesional, transparan, dan berkelanjutan.

”Program-program tersebut diharapkan dapat memperluas sumber pendapatan anggota, mendorong produktivitas kelompok usaha, serta memperkuat peran BUMMA sebagai wadah ekonomi Masyarakat Adat,” kata Gamelial pada Rapat Anggota Tahunan (RAT) di kantor  koperasi Masoli BUMMA Urtatan pada Sabtu, 17 Oktober 2026.

Pengurus koperasi Masoli BUMMA Urtatan sedang menggelar Rapat Anggota Tahunan di kantornya. Dokumentasi AMAN

Miliki 25 Anggota

Koperasi Masoli BUMMA Urtatan yang berdiri sejak Maret 2021 telah memiliki 25 anggota. Sejak awal pembentukannya, BUMMA Urtatan terus berupaya mengembangkan usaha ekonomi berbasis potensi lokal, dengan menempatkan kekayaan alam, keterampilan masyarakat, serta warisan budaya sebagai kekuatan utama dalam membangun kemandirian ekonomi Masyarakat Adat.

Gamelial menyebut saat ini, BUMMA Urtatan mengembangkan Gerai Tenun Ikat serta empat Kelompok Usaha Masyarakat Adat (KUMA) yaitu KUMA Tenun Ikat, KUMA Budidaya Rumput Laut, KUMA Ayam Petelur, dan KUMA Kebun Sayur. Dikatakannya, keberadaan unit-unit usaha tersebut menjadi bagian dari strategi penguatan ekonomi Masyarakat Adat melalui pengembangan sektor kerajinan, kelautan, pertanian, dan peternakan.

Persiapan KMAN VII

Selain mengevaluasi kinerja pengurus dan membahas program kerja, RAT juga menjadi ruang pembicaraan mengenai persiapan serta kontribusi BUMMA Urtatan dalam menyambut Kongres Masyarakat Adat Nusantara (KMAN) VII yang akan berlangsung di Tana Toraja, Sulawesi Selatan pada Maret 2027.

Gamelial menuturkan BUMMA Urtatan akan memberikan kontribusi sesuai kapasitasnya dalam pelaksanaan KMAN VII nanti. Sebab, agenda tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat solidaritas dan gerakan Masyarakat Adat.

”BUMMA Urtatan akan berkontribusi di KMAN VII sesuai kapasitasnya, termasuk melalui pengembangan ekonomi Masyarakat Adat dan pengenalan produk unggulan Tanimbar,” ujarnya. (apg)

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Maluku

Writer : Semuel | Maluku
Tag : Maluku Tenun Ikat Tanimbar Berpeluang Tembus Pasar Eropa