PATI, KOMPAS - Sedulur Sikep, masyarakat adat pengikut Samin Surosentiko di Pati dan Blora, Jawa Tengah, menyerukan pelestarian lingkungan wilayahnya, terutama sumber-sumber air. Pelestarian itu mendesak karena setiap musim kemarau, sebagian daerah di Pati dan Blora krisis air bersih. Tokoh Sedulur Sikep Pati, Gunretno, Kamis (20/9), mengatakan, lingkungan pegunungan dan hutan di kawasan Pati mulai rusak akibat penebangan pohon dan penambangan galian C. Kondisi itu akan bertambah parah jika penambangan bahan baku semen dan pendirian pabriknya dipaksakan di wilayah itu. Kondisi sumber air di daerah karst Pegunungan Kendeng Utara saat ini mengkhawatirkan. Sumber air yang biasa mengalir deras pada kemarau tahun ini hanya bisa mencukupi kebutuhan permukiman, tidak untuk persawahan. ”Alam telah memberikan tanda-tanda. Krisis air dialami sejumlah daerah, tidak hanya wilayah Pati. Bencana banjir dan gunung meletus dialami sejumlah daerah. Masyarakat perlu peka dengan situasi itu dan kembali merawat alam,” kata Gunretno. Seruan serupa dilakukan Sedulur Sikep Kecamatan Kradenan, Randublatung, dan Banjarejo di Blora. Bersama sejumlah seniman dan aktivis lingkungan, mereka menggelar acara Srawung Sarana Seni: Banyu kanggo Panguripan, Rabu malam lalu. Aktivis Lembaga Kajian Budaya dan Lingkungan Hidup Pasang Surut, Eko Arifianto, menambahkan, saat ini air tanah di Blora terancam dieksploitasi secara besar-besaran. Proyek Pengembangan Gas Jawa membutuhkan air baku sebanyak 9 miliar liter untuk mendukung penyaluran gas. (HEN) Sumber: http://cetak.kompas.com/read/2012/09/22/02335796/lestarikan.sumber.air

Writer : HEN | Jawa Tengah