Oleh Anagreth Rosalia Eluay

Masyarakat Adat di kampung Sereh, Kabupaten Jayapura, Papua menemukan aktivitas perusakan kawasan hutan saat melakukan monitoring ke Cagar Alam Cycloop pada Sabtu, 23 Mei 2026. Monitoring dilakukan dengan menyusuri jalur sepanjang tanda pembatas Cagar Alam Cycloop hingga jalur air terjun Cycloop.

Kegiatan yang dilaksanakan seharian ini sebagai bentuk kepedulian Masyarakat Adat terhadap kawasan konservasi gunung Cycloop yang selama ini menjadi sumber kehidupan Masyarakat Adat di Jayapura, khususnya wilayah Sentani.

Kepala Suku Sentani Syors Ondi mengatakan kegiatan monitoring ini baru pertama kali dilakukan oleh Masyarakat Adat di kampung Sereh. Menurutnya, monitoring ini menjadi langkah penting untuk membangun kesadaran kita dalam menjaga alam.

“Monitoring ini cara kita untuk tetap mencintai dan menjaga lingkungan demi generasi masa depan,” kata Syors disela kegiatan monitoring di Cagar Alam Cycloop.

Syors mengatakan selain melakukan pemantauan, para peserta monitoring yang didominasi pemuda adat ini juga berkomunikasi langsung dengan para peladang agar tidak lagi membuka kebun di kawasan konservasi yang dilindungi. Menurutnya, cara seperti ini efektif untuk melindungi kawasan konservasi agar bisa lestari.

Syors menerangkan kawasan Cagar Alam Cycloop memiliki peran penting sebagai penyangga kehidupan karena menjadi sumber air bersih dan pelindung lingkungan bagi Masyarakat Adat yang tinggal di bawah kaki gunung. Karena itu, sebutnya, aktivitas pembukaan lahan di kawasan terlarang dinilai sangat membahayakan dan dapat memicu kerusakan alam yang lebih besar.

Tim menemukan aktivitas penebangan pohon di kawasan Cagar Alam Cycloop Papua. Dokumentasi AMAN

Temukan Bukaan Lahan

Sebanyak 26 orang Masyarakat Adat terdiri dari pemuda hingga mama-mama Papua antusias mendaki kawasan pegunungan Cycloop dalam melakukan pemantauan lingkungan ini.

Perjalanan monitoring dimulai pukul 10.00 pagi hingga kembali pada pukul 15.00 sore waktu Papua. Dari hasil pemantauan di lapangan, tim menemukan sejumlah aktivitas perusakan hutan yang dinilai mengancam kawasan konservasi tersebut.

Jemmy Ondi, salah seorang peserta monitoring dari pemuda adat kampung Sereh mengatakan berdasarkan hasil monitoring ditemukan enam bukaan lahan kebun yang dilakukan secara berpindah, termasuk pada jalur bekas longsor tahun 2019 yang kini dijadikan area perkebunan di ketinggian 100 hingga 400 mdpl dengan kemiringan lereng sekitar 30 hingga 55 derajat.

Jemmy menambahkan tim monitoring juga menemukan kebun labu siam berukuran besar di atas kepala air terjun Cycloop yang tersembunyi di balik pepohonan. Berdasarkan hasil pendataan, pemilik kebun diketahui berasal dari wilayah kampung Sereh dan Hinekombe.

Selain itu, ditemukan bekas pondok atau honai yang pernah ditindak oleh Masyarakat Mitra Polhut beberapa bulan lalu. Kini, pondok-pondok tersebut terbengkalai serta ditumbuhi alang-alang.  Kemudian, tim juga menemuka aktivitas wisata menuju kawasan air terjun Cycloop.

”Temuan ini kami temukan saat melakukan monitoring ke Cagar Alam Cycloop. Temuan ini tidak boleh dibiarkan karena dapat mengancam keselamatan Masyarakat Adat yang tinggal di bawah kaki gunung Cycloop,” kata Jemmy.

Ia pun mengingatkan bahwa daerah ini pernah dilanda bencana banjir bandang dan longsor pada 2019.

”Ini harus menjadi pelajaran penting bagi semua pihak agar kerusakan kawasan hutan tidak terus meluas,” imbuhnya.

Jemmy berharap pemerintah, aparat keamanan, institusi terkait hingga Masyarakat Adat dapat bersama-sama memperketat pengawasan dan mengambil tindakan tegas terhadap aktivitas pembukaan lahan di kawasan Cagar Alam Cycloop.

“Kalau tidak dicegah dari sekarang, dampaknya akan kembali dirasakan masyarakat di Sentani. Cycloop harus dijaga bersama sebelum bencana itu datang lagi,” pungkasnya.

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat dari Jayapura, Papua

Writer : Anagreth Rosalia Eluay | Jayapura, Papua
Tag : Masyarakat Adat Aktivitas Perusakan Hutan Alam Cycloop Papua